Kenapa SBY Tidak Buat Album Sebelum Jadi Presiden?

Waktu membuka media online kemarin sore (Senin, 31 Oktober 2011), saya dibuat manggut-manggut dengan judul kompak beberapa media: Presiden SBY luncurkan album ke-4, “Harmoni”.  Waktu album pertama dan kedua, saya tercengang. Di album ketiga, saya surprise (“ada lagi?” kata saya waktu itu).  Dan ketika album keempat ini luncur, saya tinggal manggut-manggut saja.

Foto ilustrasi, diambil dari Okezone (link pada gambar). Ditampilkan bukan untuk kepentingan komersial. (Ishaq)

Di waktu senggang, saya biasa menonton cuplikan rekaman ajang mencari bakat (terutama menyanyi).  Sekarang ini sedang berlangsung The X Factor di salah satu stasiun TV Amerika.  Simon Cowell masih jadi tokoh utamanya.

Hal yang menarik adalah begitu banyak “orang-orang” biasa yang ternyata memiliki kemampuan luar biasa, tetapi tidak memiliki ruang untuk disalurkan.  Ajang seperti The X Factor adalah “keajaiban” bagi mereka.

Ada Melanie Amaro, yang ketika audisi mengguncang penonton (dan membuat keempat juri memberikan standing applause) saat ia membawakan Listen dari Beyonce.  Ada Rachel Crow, gadis berusia 11 tahun dari keluarga miskin.  Ada Chris Rene, mantan pecandu narkoba yang sedang rehab (saat audisi ia membawakan lagu hip-hop ciptaan sendiri dan membuat takjub).  Ada LeRoy Bell, kakek berusia 60 tahun.  Ada Stacey Francis, wanita 50-an tahun yang dicampakkan oleh suaminya.

Mereka membutuhkan keajaiban sebelum kemampuan menyanyi mereka dikenal masyarakat luas.  Keajaiban bagi mereka itu adalah “ruang untuk dengar” oleh masyarakat luas.

Chris Rene, misalnya, video audisinya di The X Factor pada bulan September 2011 di upload ke youtube.  Dan, hitnya sekarang telah mencapai hampir 7 juta view (belum terhitung orang-orang yang mendownload dan menyebarkannya manual).

Beberapa waktu lalu, beberapa ajang serupa juga pernah marak di Indonesia.  Saat Indonesian Idol 2004 digelar, muncullah nama Delon sebagai runner up (belakangan ia dinyatakan menang, setelah Joy Tobing yang juara bermasalah).  Delon sebelumnya adalah sales panci dan peralatan dapur.

Tahun 2008, ada Paul Pott, seorang penjual ponsel keliling di Inggris.  Penampilannya sangat sederhana, dan ketika melihat dirinya, orang pasti akan under-estimate.  Tapi di ajang British Got Talent 2008, Paul Pott mengguncang saat audisi dengan lagu opera Nessun Dorna.

Dan, masih banyak lagi kisah-kisah perjuangan panjang dan melelahkan bagi orang-orang biasa tetapi memiliki kemampuan luar biasa.  Perjuangan mereka adalah mencari ruang untuk didengar dan dilihat.  Ruang untuk mengubah hidup mereka menjadi lebih baik.

Ketika Presiden SBY meluncurkan album pertama, Rinduku Padamu (Oktober 2007), saya tercengang.  Presiden membuat album, pasti dibeli dan bagus.  Adakah orang, terutama di struktur pemerintah dan kekuasaan, yang berani mengatakan lagu-lagu Presiden SBY tidak bagus dan tidak layak? Hehe…

Lalu, SBY membuat album lagi pada 2009 (Evolusi).  Lalu album ketiga, “Kuyakin Sampai Disana” (Januari 2010), dan sekarang “Harmoni”.  Pastilah dan sangat pasti, album-album SBY itu laku (atau dibuat laku) dan dinyatakan bagus.  Ketika mendengar lagu-lagu SBY, saya sangat yakin orang tidak saja mendengar syair atau iramanya, tetapi sedang mendengarkan kekuasaan.

Jika memang membuat lagu adalah hobby SBY, kita patut memberi penghormatan.  Siapa saja boleh mempunyai hobby, boleh mempunyai bakat, boleh membuat rekaman, boleh meluncurkan album.

Tetapi, tugas utama seorang Presiden bukanlah membuat lagu kan?  Pekerjaan utamanya jauh lebih berat dari itu.  Ada urusan masyarakat miskin, urusan Papua dan berbagai pelanggaran terhadap hak-hak sipil disana, urusan infrastruktur, urusan korupsi, dan ada begitu banyak tugas utama dan jauh lebih penting.

Secara awam, saya jadinya menilai bahwa jika urusan-urusan utama masih banyak yang belum selesai, dan urusan tidak penting diselesaikan, jangan-jangan presiden memang mengutamakan urusan yang tidak penting.

Mengapa SBY tidak membuat album saja sebelum menjadi Presiden, atau saat telah selesai menjabat Presiden?  Nampaknya hal itu akan jauh lebih elegan dan terhormat dan etis bagi seseorang yang mempunyai kekuasaan.

Saya yakin, ada ribuan anak-anak muda kita yang memiliki bukan saja hobby atau minat tetapi juga kemampuan untuk menciptakan lagu dan bernyanyi.  Mereka sedang mencari ruang untuk didengar dan dilihat.  Mereka pastilah marah dan kecewa, karena ruang itu tidak cukup disediakan untuk mereka.  Sementara presiden mereka, bisa menggunakan ruang apa saja untuk kepentingan dirinya.

Kekuasaan memang sering membuat kita lupa.(*)