Kyoto Tower, dan Komitmen Kota Dunia Berbasis Budaya

Kyoto dikenal sebagai pusat tradisi dan budaya Jepang.  Selain puluhan festival, ratusan candi dan kuil, juga terdapat kebijakan yang sangat ramah “tradisi dan budaya”.  Konon, salah satunya adalah larangan untuk membuat bangunan tinggi, serta larangan untuk memberi warna menyolok pada bangunan-bangunan modern yang ada.

Kyoto Tower sering menjadi latar belakang berfoto orang-orang yang berada di Stasiun Kyoto. (Photo: Ishaq)

Mungkin, bangunan paling tinggi Kyoto adalah Kyoto Tower, yang berdiri di sebelah Kyoto Stasiun.  Di bawahnya adalah Kyoto Tower Hotel, dan terdapat pusat belanja yang selalu ramai.  Informasi tentang Kyoto Tower ini dapat dilihat di wikipedia (link-nya disini).

Komitmen menjadikan Kyoto sebagai kota budaya beriring dengan momentum menjadikan Kyoto sebagai kota hijau.  Setelah Protokol Kyoto tahun 1997 ditandatangani di kota ini, kebijakan itu nampaknya menyatu dengan kebijakan pembangunan kota umumnya.

Di Kyoto, tidak ada bangunan dengan warna menyolok.  Bahkan, logo McDonald pun harus disesuaikan dengan warna yang agak “ramah”, merah kecoklatan (bukan merah dan kuning menyala seperti di negara lain).  Sayangnya, saya belum sempat mengambil gambar itu.

Juga bangunan tinggi tidak diperbolehkan disini. Ada kekhawatiran bangunan yang tinggi dapat merusak kelangsungan kuil dan candi, yang beberapa masih sering digunakan sebagai tempat ibadah.  Nampaknya, Kyoto Tower adalah bangunan paling tinggi.

Saya jadi ingat Kota Makassar tercinta.  Saat ini, Makassar sedang berkomitmen menjadi Kota Dunia.  Juga kita sering mendengar slogan untuk menjadi Kota Hijau.  Nampaknya, para pengambil kebijakan di Makassar perlu “studi banding” dan belajar disini.