Tidak Butuh Bisa Membaca Untuk Jadi Kaya

Kompas Online menulis berita menarik berjudul: “Miliarder Inggris Ini Buta Huruf”. Kisahnya tentang seorang lelaki keturunan Yunani bernama Andreas Panayiotou yang namanya tercantum dalam daftar 200 orang terkaya Inggris. Ia memiliki bisnis properti dengan kekayaan sekitar Rp. 5,5 Trilyun.Belum lama ini, Panayiotou membuat pengakuan menghebohkan. “Saya buta huruf”, katanya. Istilah “keren” buta huruf adalah disleksia. Tanpa butuh kemampuan membaca, Panayiotou dapat memasuki bisnis dan mencapai posisi prestisius dalam jajaran orang terkaya Inggris.

Tentu saja ini menjadi semacam tamparan bagi masyarakat umumnya, terutama lembaga-lembaga pendidikan. Begitu banyak orang yang diajari membaca sejak kecil, diberikan pengetahuan bermacam-macam selama dibangku sekolah, namun kemudian berakhir sebagai pengangguran. Tidak sedikit juga yang dapat bekerja namun menjadi buruh dan kuli sepanjang hidupnya.

Mungkin saja, orang tidak menyadari bahwa mereka.adalah kuli. Karena telah memiliki penghasilan atau gaji besar, orang seringkali lupa bahwa mereka masih saja menjadi kuli, karena mereka bekerja pada orang lain dan digaji karena pekerjaannya.

Panayiotou sejak kecil menyadari bahwa untuk mencapai keberhasilan ia harus bercita-cita untuk memiliki penghasilan. Istilah ini (memiliki penghasilan) mengandung makna yang berbeda dengan “menerima gaji” tentu saja. Seseorang yang memperoleh penghasilan dapat dipahami sebagai seseorang yang memperoleh duit karena inovasi dan kreativitasnya. Sedangkan seseorang menerima gaji adalah karena hitungan jam kerja dan tenaga yang dia berikan bagi produktivitas.

Ini akan menjadi perdebatan lain. Apakah untuk menjadi sosok yang kreatif dan inovatif seseorang harus pandai membaca? Setidaknya Panayiotou memberi catatan bagi kita, atau sekedar bukti kecil, bahwa seseorang dapat memiliki kreatifitas dan dapat saja memiliki inovasi tanpa tergantung pada sekolah.

Sent from Yahoo! Mail on Android