Hancurnya Layanan Telkomsel

Saya pengguna Kartu Halo. Biasanya memperoleh tagihan bulanan yang dialamatkan ke rumah. Namun dua bulan terakhir ini tagihan tidak saya terima.

Lalu pada awal Maret saya memperoleh informasi via sms mengenai jumlah tagihan saya bulan ini. Saya agak kaget, karena jumlah itu jauh dari harapan. Saya telah menghentikan penggunaan Blackberry Internet Service (BIS), dan beralih menggunakan flash. Dalam pemahaman awam saya, seharusnya BIS saya sudah tidak ditagih, dan flash belum ditagih.

Informasi tentang itu sebenarnya ada dalam lembar tagihan bulanan. Tapi karena tidak menerimanya, maka saya menghubungi nomor service center 111. Sebanyak 2 kali saya dijanjikan akan dikirim, namun hingga jatuh tempo tagihan, lembar itu tidak juga saya dapatkan.

Saya menghubungi lagi 111, untuk meminta saja informasi lisan mengenai garis besar tagihan saya (bukan rincian yang mendetail). Tetapi operatornya justru menyarankan untuk berkunjung ke GRAPARI Telkomsel terdekat. Saya katakan, pada jam kerja tidak hal itu tidak mungkin. Kata Operator, boleh datang pada hari Sabtu. Grapari buka pada jam 8.30 – 12.00, katanya.

Hari Senin, kartu saya akhirnya kena blokir menelpon (karena belum saya bayarkan tagihan bulan ini). Hari Selasa, diblokir dua arah (tidak bisa menelpon dan menerima telepon). Wow…

Karenan membutuhkan komunikasi voa nomor ini, saya melakukan pembayaran pada Rabu sore, sekitat pukul 15.00. Karena blokir tidak juga terbuka, saya menghubungi operator 116 via kartu Simpati istri saya.

Sejak pukul 17.00 saya menekan nomor 116 (nyaris tanpa henti). Baru tersambung pada pukul 19.00. Luar biasa, ini harusnya jadi record. Operator mengatakan belum bisa membantu buka blokir sekarang karena sistem sedang trouble. Saya disarankan untuk ke Grapari, atau menelepon lagi beberapa waktu ke depan.

Pada pukul 20.00 kembali saya menekan-nekan 116. Lagi-lagi luar biasa. Tersambung pada pukul 22.30. Saya sampai trauma dengan nomor 116 ini. Meskipun akhirnya blokir kartu saya berhasil dibuka, namun proses berjam-jam untuk menjangkau operator 116 itu sungguh tidak manusiawi.

Saya membayangkan nasib (entah ratusan ribu atau jutaan ya?) pengguna Simpati.

Lalu, pada hari Sabtu saya ke Grapari. Urusan tagihan yang membengkak itu belum selesai kan? Saya tiba pukul 11.30 di Grapari Makassar di Graha Pena. Meskipun pelayanan masih buka, tapi antrian baru tidak terima lagi. Katanya, antrian sudah panjang.

Saya memohon (dalam arti sebenarnya), kepada petugas security bernama Pak Syamsuddin, agar boleh antri. Rumah saya berjarak 12 km dari Grapari “terdekat” ini. Dan saya tidak bisa datang pada hari kerja.

Tetapi Pak Syamsuddin tidak bergeming. Katanya, aturannya memang begitu. Salut kepada beliau. Saya meminta kepadanya untuk bertemua dengan seseorang yang berwenang, apakah supervisor atau apa namanya, yang bertanggung jawab untuk urusan kantor hari ini. Saya yakin, pasti ada seseorang dengan kewenangan yang lebih dan bisa membanru saya.

Kata Pak Syamsuddin, tidak ada orang seperti itu hari ini. Pada Sabtu, hanya ada pegawai-pegawai customer service, yang tidak memiliki kewenangan apa-apa selain melayani konsumen.

Oh, saya jadi capek menuliskan ini… Lain kali saja disambungnya ah….

Ishaq Rahman (Sent from my Samsung GalaxyTab)

*disambung pada 29 Oktober 2011, 20*14 waktu Kyoto

Saya ingat waktu saya sempat bertanya kepada Pak Syamsuddin, apakah baru hari ini saja antrian pada Sabtu panjang?  Pak Syamsuddin bilang, tidak.  Setiap Sabtu, antrian pasti di tutup pukul 11.30, kadang-kadang pukul 11.00.

Nah, saya berpikir, betapa goblog-nya orang di Telkomsel yang mengatur penanda buka 08.30 – 12.00 ini.  Kejadiannya sudah berlangsung setiap Sabtu, dan tidak ada pikiran untuk mengubah penanda itu menjadi 08.30 – 11.00 (dan pelayanan tetap saja berakhir pada pukul 12.00 kan?).

Oh my gosh!