Citizen Reporter Tribun Timur, Revolusi Media Modern

Dengan menulis judul ini, banyak yang mengira saya sedang mempromosikan Tribun Timur, suatu koran di Makassar.  Tetapi, saya ingin sharing tentang sesuatu yang sama sekali bukan ilusi (bukankah kebanyakan promosi itu ilusi digital?).  Tribun Timur adalah satu-satunya koran di Makassar yang juga mengembangkan media online.

Salah satu Citizen Reporter saya di Tribun Timur, 29 Januari 2011, hal. 7. (Photo: Tribun Timur e-Paper, screenshooted by Ishaq)

Banyak koran yang mempunyai website.  Tetapi kebanyakan website tersebut adalah “paper go online”, yang berisi edisi cetak saja.  Tetapi Tribun Timur benar-benar adalah perwujudan real time media online, dimana tidak semua berita yang dimuat pada edisi online dimuat juga pada edisi cetak.  Tentu saja, semua edisi cetak dimuat juga pada versi online, bahkan Tribun Timur memiliki versi e-paper.  Kita bisa membaca koran yang terbit setiap hari dalam format file portable (PDF).

Salah satu kelebihan Tribun Timur adalah mekanisme Citizen Reporter yang disediakannya.  Dengan mekanisme ini, setiap orang (siapa saja) adalah jurnalis potensial.  Yang perlu dilakukan oleh para jurnalis potensial ini adalah menulis, mengirim via e-mail, dan… beres. Jika memenuhi standar redaktur (yang menurut saya sangat lunak), tulisan yang kita kirimkan bisa dimuat dalam versi online.

Nah, jika tulisan tersebut dianggap bagus, atau dianggap memenuhi nilai berita, maka kemungkinan akan dimuat pada edisi cetak esok harinya.  Tentu saja, apa yang saya sebutkan itu adalah pemahaman pribadi saya tentang mekanisme Citizen Reporter di Tribun Timur. Saya kira, Pak Dahlan yang lebih berkompeten menjelaskan substansi dan filosofi Citizen Reporter ini.

Itulah yang beberapa kali saya alami.

Suatu ketika, saya menghadapi masalah ketika berhubungan dengan urusan garansi barang elektronik yang saya beli.  Sambil menunggu proses (yang saya juga tidak paham proses apa itu), saya menulis keluhan tersebut via Blackberry, mengirimkan ke Tribun Timur, dan wooosh… hanya dalam tempo kira-kira 5 menit, keluhan saya sudah termuat di edisi online.  Besoknya, tulisan itu (dan foto saya lho, yang namapaknya diambil dari akun facebook saya), tampil di edisi cetak, di segmen Citizen Reporter.

Di kesempatan lain, saya lagi “bete” (kata anak gaul jaman kini) di forum seminar.  Topik seminarnya bagus, tapi pembicaranya membosankan.  Jadi, saya menulis via Blackberry tentang pembukaan seminar yang berlangsung satu jam sebelumnya, lalu mengirimkannya ke Tribun Timur, dan… woosh, lagi-lagi tidak sampai 15 menit tulisan itu telah tampil di edisi online.

Entah sudah berapa kali saya melakukan kegiatan seperti itu.  Kadang-kadang, yang saya kirimkan itu adalah foto (yang juga saya ambil via Blackberry) suatu kejadian, lalu diberi keterangan tentang kejadian itu, dan kirim… Juga dimuat.

Dampaknya?

Pertama, saya jadi “terkenal”… hehe (koq agak narsis kedengarannya ya?).  Iya, gara-gara menulis tentang keluhan garansi elektronik, saya dihubungi oleh beberapa orang yang meminta konfirmasi.  Mereka ingin membelu elektronik yang sama, dan jadi ragu gara-gara tulisan Citizen Reporter saya.

Kedua, saya jadi punya penyaluran minat menulis, dan bisa bermanfaat.  Saya tahu, Tribun Timur (dan Tribun Timur Online) adalah media yang mempunyai pembaca tetap.  Sebagai satu-satunya media real time, banyak orang di luar sana yang mem-bookmark www.tribun-timur.com di browsernya.  Saya bisa membagi informasi tentang apa yang sedang terjadi di Kota Makassar, khususnya di sekitar saya.

Ketiga, apa lagi ya? Saya kira masih ada beberapa lagi, tapi nantilah saya sambung…

Point-nya, Citizen Reporter ini adalah revolusi penting dalam urusan media massa. Dan di Makassar, Tribun Timur adalah pelopornya.***