Kemenlu Yang Menohok Hati


Ada yang terasa menohok ketika acara Seminar Indonesia Menyongsong Masyarakat ASEAN 2015 yang diselenggarakan oleh Kementerian Luar Negeri di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Dalam sambutan pembukaan, Sekretaris Daerah Kabupaten Maros, Ir. H. Baharuddin, MM yang mewakili Plt. Bupati mengatakan:

“Ini adalah hari yang harus dikenang. Saya telah menjadi pejabat di Maros lebih 10 tahun. Inilah pertama kalinya Kementerian  Luar Negeri RI melakukan kegiatan seperti ini disini”.

Kabupaten Maros bukanlah daerah pedalaman, atau wilayah yang jauh dari Kota Makassar, ibukota Propinsi Sulawesi Selatan. Kota ini hanya berjarak 30 km dari pusat kota Makassar, dan dapat ditempuh dengan waktu 20-30 menit melalui jalan tol.

Bahkan, bandara internasional Sultan Hasanuddin itu letaknya di wilayah administratif Kabupaten Maros. Jika keluar dari bandara ini, kita akan mendapat perempatan. Belok kanan adalah akses menuju Maros, dengan waktu tempuh hanya 10-15 menit. Akses jalan mulus dan lebar.

Tetapi, Kementerian Luar Negeri RI setiap datang ke Sulsel untuk sosialisasi ASEAN Community selalu belok kiri menuju Kota Makassar. Begitu juga kementerian dan lembaga lain dari Jakarta.  Soal ASEAN Community semakin sering disosialisasikan, terutama menjelang implementasinya pada 1 Januari 2016 yang tinggal beberapa bulan lagi.

Masalah utama dalam implementasi ASEAN Community ini adalah sifatnya yang terlalu elitis.  Ini adalah forum kesepakatan para diplomat dan pemerintah pusat, dan diharapkan nantinya akan diaplikasikan dan diadopsi oleh pemerintah daerah dan masyarakat pada tataran implementasinya.  Akan tetapi, hingga hari-hari menjelang implementasinya, mayoritas entitas di daerah masih asing dengan ASEAN Community.

Saya membayangkan, sedangkan Kabupaten Maros yang waktu tempuh dari Makassar hanya 20-an menit itu begitu remang-remang dengan realitas ASEAN Community. Bagaimana pula dengan Kabupaten Luwu Timur yang membutuhkan waktu perjalanan 12 jam dengan bis malam, dan puluhan daerah lain di utara.

Sibuk Dengan HP di Kyoto, Mirip di Indonesia

Sibuk Sendiri di Kereta

Saya pernah merisaukan hilangnya budaya bersosialisasi orang Indonesia.  Sekarang ini, kalau naik angkot di Makassar, orang-orang kebanyakan sibuk dengan telepon genggamnya, apalagi kalau pakai Blackberry.  Tidak ada lagi kita temukan orang ngobrol di angkot.

Ternyata kebiasaan seperti tidak jauh beda di Kyoto.  Di tempat-tempat umum, di Halte Bis, stasiun, atau di Kereta Api, orang-orang lebih banyak menghabiskan waktu dengan menyibukkan diri bersama telepon genggamnya.  Bahkan, sepasang (nampaknya) suami istri yang saya temui saat berkereta menuju daerah pedesaan dekat Biwako Shiga hari Sabtu (24/9)  lalu nampak sibuk dengan telepon masing-masing.

Saya kira, ada juga kesamaan antara gaya hidup orang-orang Jepang dan orang Makassar (Indonesia umumnya).  Inilah pengaruh globalisasi yang nyata, saya kira. (*)