Pacar Gelap Presiden, Adakah Batas Privacy Untuknya?

Presiden mempunyai pacar gelap, atau marilah kita terang-terangan saja menyebutnya: berselingkuh.  Itu bukan perbuatan baik. Selain cermin ketidakjujuran, juga pertanda penipuan. Begitu buruknya stigma sosial terhadap selingkuh, sampai-sampai di banyak daerah di Indonesia sebutan bagi seorang wanita yang menjadi pasangan selingkuh adalah “wanita piaraan”.  Keramaian dan kerumitan akan meningkat dengan fakta bahwa yang berselingkuh adalah seorang presiden, sebab debatnya bukan saja pada tataran etika dan moral, tetapi akan menjangkau wilayah hukum dan politik.

Sang presiden marah besar ketika perselingkuhannya diplublikasikan massif oleh media massa.  Ia merasa bahwa urusan asmara dan percintaannya, urusan hati dan perasaannya, adalah wilayah privat yang tidak boleh dimasuki dan dicampuri siapapun tanpa seijin dirinya, bahkan negara sekalipun.  Ya, presiden juga manusia.  Begitu kira-kira di pikirannya. Sementara wanita kekasih gelap sang presiden mengambil langkah hukum, menggugat majalah yang menurunkan laporan tujuh halaman kehidupan pribadinya bersama presiden.  Sementara sang presiden, sebagaimana halnya politisi yang kelebihan timbangan di kepalanya, mengatakan akan pikir-pikir dulu.

Read More