Momiji dan Kyoto Musim Gugur


Namanya momiji. Bahasa latinnya adalah “acer palmatum”. Orang Inggris menyebutnya Japanese maple. Sayang, di Indonesia kita belum ada istilahnya. Tapi kita cukup akrab dengan pohon mapel, maka bisalah kita namakan “mapel Jepang”.

Ini adalah tanaman yang memberi warna musim gugur. Daunnya, yang mirip canabis, berwarna hijau menjerit pada musim panas. Ketika musim gugur datang, daun-daun momiji akan bergradasi seiring waktu: kekuningan lalu kuning menjerit, kemerahan lalu merah romantis, setelah itu kecoklatan lalu gugur. Tugasnya selesai. Musim gugur telah benar-benar datang. Proses berganti warna itu terjadi sepanjang Oktober hingga Desember. Puncaknya, saat dimana daun-daun momiji berwarna merah, umumnya terjadi di bulan November.

Konon, momiji adalah pohon khas yang hanya ada di Jepang, Semenanjung Korea, Mongolia Timur, dan Rusia Tenggara. Bagi warga Jepang, transformasi warna momiji tidak saja bermakna pergantian musim. Ada makna spiritual, sosial, ekonomi, dan historis dibaliknya.

Pada setiap puncak musim gugur, biasanya di minggu kedua bulan November, warga Jepang memiliki tradisi Momijigari (gari artinya berburu). Orang-orang akan keluar rumah mencari spot paling banyak kumpulan pohon momiji, lalu berkumpul dan melakukan berbagai aktivitas: makan-makan, bernyanyi, menari, atau sekedar bertukar cerita. Bagi pasangan yang sedang jatuh cinta, inilah masa yang ditunggu-tunggu untuk saling menggenggam tangan diliputi warna merah romantis sekeliling.

Tradisi momijigari telah dimulai sejak jaman Heian. Itu tahun 794, saudara-saudara. Kyoto masih menjadi ibu kota kekaisaran Jepang. Maka, tidak heran jika di Kyoto hingga sekarang banyak tersebar pohon momiji, seperti yang selalu saya lewati di sisi jalan ini. Merawat pohon momiji adalah merawat tradisi dan sejarah, begitu mungkin pikiran orang Kyoto. Hingga kini, Kyoto (dan juga kota Nikko di Jepang Timur) menjadi destinasi utama momijigari. Bahkan orang Jepang dari wilayah lain merasa perlu ke Kyoto untuk momijigari, meski di daerahnya juga banyak pohon momiji.

Jadilah Kyoto semarak plus-plus di bulan November: semarak oleh warna-warni daun momiji, dan oleh ribuan orang yang datang berkunjung. Beberapa tempat di Kyoto menggelar Festival Momiji (Momiji Matsuri). Dua tempat paling favorit adalah Arashiyama dan Kurama.

Awal pindah tempat tinggal, saya sering mengeluh karena jarak apato yang jauh dengan kampus. Dulu, saya butuh waktu 15-20 menit bersepeda. Sekarang, paling cepat 40 menit. Belakangan, ketika menyadari bahwa 40 menit itu sesungguhnya terlewati di bawah hamparan daun-daun momiji, saya revisi keluhan itu menjadi hiburan. Ya, warna-warna ini semakin hari akan berangsur cantik. Sadar bahwa keindahan itu ternyata menyelimuti kita. (*)

Jelang Akhir Musim Gugur, Daun-daun Maple Mulai Menguning

Ada fenomena khas setiap musim gugur di Kyoto, yaitu berubahnya warna daun-daun maple.  Pohon maple mungkin tidak dikenal luas di Indonesia.  Di Jepang, khususnya Kyoto, pohon maple mudah ditemui dimana-mana.  Setiap sisi jalan, taman-taman kota, dan di halaman rumah-rumah penduduk atau perkantoran, pohon maple tumbuh.

Daun-daun Maple (Momiji) yang berguguran memenuhi jalan di Kampus Doshisha, Kyoto (Foto: Ishaq)

Orang Jepang mengenal maple sebagai “momiji”.  Menurut wiki, istilah latinnya adalah Acer Palmatum.  Pada awal musim gugur, daun-daun maple yang semula berwarna hijau (sebagaimana daun pohon pada umumnya) akan berubah perlahan-lahan menjadi kemerahan, lalu coklat, hingga kemudian kuning.  Saat berwarna kuning itulah, daun-daun momiji akan berguguran memenuhi tanah.  Indahnya, warna menjadi berwarna kekuningan, dipenuhi daun-daun momiji.

Pohon Maple di sisi Jalan Karasuma, Kyoto (Foto: Ishaq)

Kekaguman orang-orang Jepang terhadap perubahan warna daun maple ini diabadikan dengan “festival momiji” pada setiap akhir bulan Nopember.  Biasanya, festival ini diadakan pada hari Sabtu atau Minggu, atau kadang juga pada kedua hari itu.  Festival ini lazim diadakan di seluruh Jepang.

Namun, nampaknya yang paling terkenal adalah Festival Momiji yang diadakan di sekitar Arashiyama, Kyoto.  Di festival ini, selain orang-orang berkumpul di sekitar pohon-pohon momiji yang berwarna-warni, juga ditampilkan berbagai kesenian tradisional Jepang, terutama tari-tarian  dan pertunjukan musik tradisional yang disebut koto dan sakuhachi (suling yang terbuat dari bambu).  Arashiyama adalah kawasan hutan bambu.

Daun-daun Momiji yang berwarna-warni di salah satu halaman kantor di Kyoto (Foto: Ishaq)

Berubahnya warna momiji menjadi kuning merupakan pertanda musim gugur telah mencapai puncaknya.  Itu berarti tidak lama lagi cuaca akan berubah menjadi semakin dingin.  Maka, momen festival momiji ini dimanfaatkan oleh orang-orang Jepang bukan saja untuk berkumpul dengan sejawat dan keluarga, namun juga sekaligus sebagai pertanda untuk segera bersiap memasuki musim dingin.

Di akhir bulan Nopember dan awal Desember, yang merupakan puncak perubahan warna momiji, suhu udara mulai turun dibawah 10 derajat celscius.

Keindahan momiji ini menjadikan kota Kyoto tidak kehilangan semarak dan daya tariknya saat akhir musim gugur.  Apalagi, pohon-pohon momiji tumbuh di tengah-tengah kota yang memang tidak terlalu banyak bangunan tinggi.  Oh ya, pemerintah Kyoto memang sangat membatasi pembangunan gedung tinggi di Kyoto, demi menjaga kelestarian ratusan bangunan tradisional (kuil, candi, dan tempat ibadah).

Kota ini benar-benar bisa menjadi contoh baik bagi kota-kota Indonesia yang ingin menjadi kota dunia berbasis budaya.  Herannya, kenapa jarang ya, pejabat-pejabat Indonesia yang studi banding ke sini? Just saying… 🙂

Pohon Momiji di Kampus Doshisha, Kyoto (foto: Ishaq)