Masa Lalu Tuhan

Kyoto adalah kota seluas Makassar, berpenduduk kira-kira sebanyak Makassar. Di Kyoto, terdapat sekitar 2.000 kuil, dengan beragam karakteristik. Di setiap kuil tersedia bermacam jimat dan jampi-jampi, juga ritual untuk mendekati Tuhan.

Rasanya agak paradoks. Mayoritas orang Jepang memgklaim diri tidak beragama, pun begitu di Kyoto. Akan tetapi, jiwa dan hati orang-orang disini selalu butuh tempat bersandar. Mungkin untuk sekedar memberi motivasi tambahan bagi hidup, atau mungkin karena mereka mengetahui ada kekuatan di atas kekuatan yang kasat mata.

Maka, orang-orang di Jepang percaya bahwa mendatangi kuil adalah “menyerahkan” kelemahan manusiawi pada kekuatan di atas kekuatan hidup itu. Kuil-kuil di sini adalah representasinya, dan tersegmentasi jelas.

Misalnya, jika ingin mendapat berkah agar dilapangkan rejeki dan kemakmuran, orang-orang akan berkunjung ke Fushimi Inari Shrine. Kuil shinto ini menjadi pusat kunjungan orang-orang dari berbagai penjuru Jepang pada saat tahun baru. Orang Jepang percaya bahwa kuil pertama yang mereka kunjungi pada awal tahun merupakan wujud harapan nasib mereka pada setahun mendatang. Itulah sebabnya, kunjungan ke kuil pada awal tahun (disebut Hatsumode) adalah ritual sangat penting bagi orang Jepang.

Sementara itu, bagi orang asing, kuil adalah daya tarik non religius. Mungkin karena arsitekturnya, mungkin karena sejarahnya, atau bisa jadi karena mitos-mitos yang meliputinya. Sebagian besar kuil-kuil di Kyoto telah berusia ratusan hingga ribuan tahun. Tentu saja, diusia sepanjang itu, tidak heran ada banyak kisah dibaliknya. Entah itu kisah tentang Tuhan, atau sekedar kisah tentang masa lalu… – at 伏見稲荷大社 (Fushimi-Inari-Taisha Shrine)

View on Path