Jual Tanah Kaflin, Sejujur-jujurnya Iklan

Di sekitar daerah Samata, Kabupaten Gowa, disisi kiri jalan menuju kompleks Zarindah, saya menemukan iklan sederhana ini. Tertulis pada sebilah papan hitam, terbaca cukup jelas: “JUAL TANAH KAFLIN”. Iya, ini adalah iklan penjualan tanah di Kecamatan Bontomarannu, lengkap dengan nomor handphone yang bisa dihubungi.

Bagi sebagian orang, bahasa di iklan itu adalah bahan lawakan. Tulisan tanah kaflin yang dimaksud pastilah tanah kavling. Orang Makassar bilang ini okkots. Anak-anak alay mungkin akan mengatakan ini okkots yang akut.
Tetapi, sungguh saya melihatnya sebagai sebenar-benarnya iklan.

Setiap hari, saya dan kita semua, pasti melewati iklan-iklan yang tersebar di banyak tempat. Juga iklan yang menawarkan tanah kavling. Tetapi seberapa sering kita memperhatikannya? Saya sendiri selalu saja mengabaikan iklan-iklan seperti itu.

Kali ini, saya memilih berhenti sejenak untuk mengamati baik-baik. Sebelum memotret iklan ini dengan kamera HP, saya sempat tersenyum sekilas. Tanpa sadar, iklan ini (yang sekilas tampak seperti bahan olok-olok, telah mencapai tujuan pemasangannya: menarik orang untuk singgah. Ya, iklan ini menjadi eye-catching.

Bukankah itu salah satu tujuan iklan?

Dikenal sejak jaman Yunani kuno, pada awalnya iklan berisi informasi pencarian terhadap budak-budak yang melarikan diri dari tuannya, atau mengenai informasi pertandingan Gladiator yang akan dihelat. Tujuannya, tentu, agar dibaca orang. Dengan begitu, informasi akan tersebar luas.

Iklan cetak yang termuat di koran seperti kita kenal sekarang dulunya merupakan sesuatu yang ekslusif. Dalam sejarah, iklan di media cetak pertama kali terbit di Imperial Intelligencer pada Maret 1648 di Inggris. Sayangnya, melalui pencarian di internet, saya tidak berhasil menemukan konten dan gambar iklan pertama itu.

Iklan modern, konon, dipelopori oleh seorang Inggris bernama Thomas J. Barratt di London. Ia bekerja untuk mempromosikan sabun merk Pears dengan menerapkan prinsip-prinsip slogan untuk audiens yang spesifik (targeted audience), menggabungkan frasa dan gambar. Salah satu slogan yang ia rancang adalah: “Good morning. Have you used Pears’ soap?” menjadi sangat populer hingga awal abad ke-20. Tidaklah berlebihan jika Barratt dikenal sebagai Bapak Iklan Modern.

Perusahaan besar seperti Coca Cola telah mengawali iklan di media cetak sejak abad ke-19. Tanggal 28 Mei 1886, iklan Coca Cola dengan slogan “Delicious! Refreshing! Exhilirating! Invigorating!” diterbitkan oleh John Pamberton (pendiri Coca Cola) di The Atlanta Journal. Pada masa itu, slogan ini merupakan ungkapan yang menarik dan akan selalu diingat.

Jika tujuan utama pemasangan iklan adalah untuk menanamkan dalam ingatan publik tentang suatu produk atau jasa yang hendak dipasarkan, maka tidak diragukan lagi iklan tanah kaflin yang saya temukan ini telah berhasil mencapai sebagian tujuan itu. Entah siapa yang membuat dan memajang iklan ini. Bisa jadi, ia membuatnya karena ketidaktahuan penulisan kata “kavling” yang benar.

Apakah ini kesalahan dari ketidaktahuan? Saya kira, banyak orang sukses yang mengawali langkahnya dengan ketidaktahuan dan kesalahan. Mungkin saja, seseorang dibalik iklan tanah kaflin ini juga demikian. Mungkin saja, seseorang itu adalah RahinG. (*)