Ridho Irama, Narkotika, dan Ironi Publik Figur

Agak menyedihkan ketika membaca berita Ridho Irama ditangkap polisi karena narkoba.  Apalagi, ia mengakui telah dua tahun mengkonsumsi dengan alasan beban kerja.  Sebagai publik figur, Ridho memiliki banyak pilihan untuk mengatasi stress dan tekanan kerja.  Tetapi ia memilih cara mudah dan efisien.  Mungkin, satu-satunya resiko jangka pendek dari pilihan ini adalah tertangkap polisi.

Jika selama dua tahun mengkonsumsi, jelas Ridho merasakan manfaatnya.  Kita tahu, narkoba menjadi terlarang karena resiko penyalahgunaan yang dapat menyebabkan kecanduan.  Sehingga, meskipun sebenarnya terdapat beberapa manfaat jangka pendek dari penggunaan narkoba, resiko kecanduan inilah yang menjadi persoalan utama.  Beberapa jenis narkoba diketahui dapat menjadi stimulan yang merangsang kinerja jantung dan otot, bahkan juga otak.  Sehingga penggunanya merasa memiliki lebih banyak tenaga untuk jangka waktu singkat.

Selain itu, narkoba juga dapat membangkitkan efek halusinasi.  Banyak orang yang menghadapi tekanan hidup berat merasa dapat melepaskan diri dari himpitan beban karena berhalusinasi setelah mengkonsumsi narkoba.  Akan tetapi, persoalannya adalah perasaan bebas itu hanya berlangsung ketika ia dibawah pengaruh narkotika.  Setelah itu usai, ia akan kembali ke dunia nyata yang tidak menyenangkan.  Bisa jadi, Ridho Irama sebenarnya mengalami situasi yang sama.

Beberapa tahun lalu, saya mengikuti seminar dengan nara sumber Prof. Ryas Rasyid.  Sambil berkelakar, Prof. Ryas berkata: “Bangsa Indonesia sedang diliputi stress tingkat tinggi.  Karena itulah, ada dua jenis bisnis yang kini marak, yaitu: bisnis travel umrah dan bisnis karaoke.  Orang-orang kelebihan duit yang stress akan memilih berangkat umrah.  Sementara orang yang kekurangan duit akan memilih karaoke”.

Ketika itu masa-masa awal reformasi.  Masalah narkoba telah ada, namun belum menjadi diskursus publik semassif sekarang.  Jika saja Prof. Ryaas berbicara pada masa kini, kelakarnya bisa jadi berbeda.  Beliau mungkin akan memasukkan juga “mengkonsumsi narkoba” dalam bagian kelakar itu.  Atau mungkin juga tidak.  Saya pernah mendengar seorang tokoh yang begitu anti narkotika marah besar di suatu stasiun televisi karena narkotika dan penggunanya dijadikan bahan lawakan.  Belakangan saya tahu, anaknya adalah korban ketergantungan narkoba.  Dengan tertangkapnya Ridho Irama, saya kira tidak lama lagi sang ayah akan menjadi pendekar anti narkoba.

Sigmund Freud

Ada sebuah buku yang ditulis Howard Markel, diterbitkan pada tahun 2012 oleh Vintage Books.  Judulnya: “An Anatomy of Addiction: Sigmund Freud, William Halsted, and the Miracle Drugs Cocaine”.  Buku ini menggambarkan tentang pertarungan antara aspek moral pada satu sisi, melawan aspek manfaat di sisi lain, dari penggunaan narkotika, khususnya kokain.  Obyek buku ini adalah sang penggagas teori psiko-analisis Sigmund Freud, dan seorang ahli bedah terkenal, William Halsted.

Freud adalah pengguna aktif kokain.  Ia merasakan manfaat luar biasa dari zat ini, yang menurutnya mampu mendorong munculnya berbagai pemikiran kreatif.  Narkotika, khususnya kokain, juga dapat mengatasi depresi dan menjadi tonikum untuk mengatasi masalah seksual.

Pada tahun 1884, Freud menerbitkan artikel berjudul “Über Coca” (tentang koka), berisi puji-pujian terhadap manfaat kokain.  Ia menyebutnya sebagai zat ajaib.  Selain menggunakan secara aktif, Freud juga mempromosikan zat ini kepada teman-teman dekatnya.

Pada tahun yang sama, seorang dokter ahli mata asal Austria bernama Karl Koller juga menerbitkan artikel tentang efek anastesi dari kokain.  Koller adalah kolega Freud.  Tulisan ini mempengaruhi Halsted, dan mendorongnya untuk melakukan uji coba efek anastesi kokain untuk operasi.  Ia menjadikan dirinya dan beberapa muridnya sebagai obyek percobaan.  Kemudian, ia sendiri menjadi tergantung pada kokain.

Tentu saja, pada masa-masa itu belum ada larangan terhadap penggunaan kokain.  Secara resmi, konsumsi kokain selain untuk tujuan medis mulai dibatasi di Amerika Serikat pada tahun 1914.  Akan tetapi, dalam perkembangannya terjadi debat yang sengit dalam membatasi penggunaan narkotika untuk keperluan medis dan keperluan rekreasional.  Apalagi, pembatasan tersebut (yang tertuang dalam dokumen yang disebut Harrison Narcotics Tax Act), tidak secara jelas “melarang” penggunaan narkotika, melainkan membuat semacam regulasi dalam rejim tersendiri.

Dilema Legalisasi

Hari ini, persoalan narkotika telah menjadi momok di seluruh dunia.  Meskipun tersedia manfaat dalam penggunaannya, sebagian besar kalangan percaya bahwa terdapat efek merusak yang jauh lebih berbahaya dibaliknya.  Sayangnya, beberapa negara masih memberi keleluasaan untuk penggunaan narkotika jenis tertentu dalam jumlah kepemilikan tertentu pula.

Di Belanda, ganja yang dikategorikan sebagai narkotika ringan dapat dibeli dan dikonsumsi leluasa hanya di dalam coffeeshop (di luar itu ilegal).  Lain halnya di Jerman, kepemilikan ganja sampai 6 gram masih dinyatakan legal.  Sementara di Argentina, konsumsi ganja untuk keperluan pribadi dalam jumlah sedikit juga dinyatakan legal.  Masih ada beberapa negara lain yang melegalkan ganja.  Akan tetapi, jika saja Ridho Irama mengkonsumsi shabu-shabu di negara-negara tersebut, bisa jadi ia tetap ditangkap.  Karena masing-masing negara tidak menyamaratakan narkotika.  Ada jenis yang legal, dan ada juga yang ilegal.

Dalam dua tahun terakhir, ada banyak sekali publik figur seperti Ridho Irama di Indonesia yang tertangkap karena narkotika.  Meskipun mereka beralasan bahwa mereka konsumen pribadi, ini tidak boleh menjadi alasan untuk melegalkannya.  Masyarakat Indonesia belum sampai pada tahap yang dapat menerima kebebasan tanpa batas.  Lagi pula, di banyak negara, bebas itu tidak sebenarnya bebas.  Beberapa aspek tetap perlu dibatasi. Termasuk penggunaan narkotika.(*)