Mottainai dan Mubazzir, Sama Ide Beda Praktek

Orang Jepang menyebutnya “mottainai”. Dalam Islam, dan juga populer di Indonesia, kita sebut “mubazzir”. Arti harfiahnya bisa jadi berbeda. Akan tetapi penggunaannya sangat mirip: “jangan dibuang”, atau “jangan sia-siakan”. Dalam praktek yang paling sederhana, saat makan kita menghabiskan sampai piring bersih. Jangan sia-siakan makanan.

Meskipun “mottainai” diakui sebagai istilah yang diambil dari agama Budha, namun praktek “makan jangan bersisa” di Jepang tidak memiliki akar agama. Seorang teman Jepang yang saya tanya mengapa kamu makan sampai habis dan piring hampir bersih, merespon balik: “Mengapa ya? Wah, saya tidak memikirkan hal itu. Ini kebiasaan saja. Dan rasanya, kasihan sekali kan kalau makanan tersisa. Banyak orang kekurangan makanan di dunia ini, koq kita malah membuang-buang makanan”. Tidak sedikitpun teman ini menyebut karena dilarang Tuhan, atau nanti dimarahi oleh “Amaterasu” (dewa tertinggi dalam Shinto).

Saya mencatat dua hal penting dari kata-kata teman ini: “kebiasaan” dan “empati”. Kita masih dan selalu menemukan mottainai di Jepang karena orang-orang dibiasakan untuk berpraktek mottainai. Di sekolah dasar anak saya sampai kelas 3, guru kelas tidak terlalu khawatir jika ada anak tidak bisa membaca atau berhitung. Akan tetapi, guru akan menanggapi serius jika ada anak yang tidak habiskan makanan.

Bagaimana dengan “mubazzir”?

Di Indonesia, sedikit sekali orang tua yang mau meluangkan waktu memberitahu anaknya agar tidak menyisakan makanan. Bahkan orang tua sendiri lazim berpraktek seperti itu. Coba lihat di rumah makan atau pesta perkawinan. Susah membiasakan sesuatu kepada anak-anak jika orang tuanya: tidak mau memberi contoh, atau tidak mau meluangkan waktu.

Di awal datang di Jepang, tahun 2011, saya “sit in” mata kuliah “Development Studies in Developing Countries”. Seorang teman, namanya Saori Tezuka. Kadang saya tidak bisa bedakan apakah dia kandidat doktor atau model. Dandannya dan make upnya selalu menonjol. Saori selalu bilang waktu untuk membaca masih lebih banyak dibanding berdandan. “Syukurlah saya tidak terlalu percaya agama, sehingga saya tidak banyak ibadah”, katanya suatu kali.

Saori berbicara, dengan bangganya, tentang praktek mottainai di Jepang. Ia yakin, praktek ini memberi kontribusi positif pada lingkungan hidup. Saat banyak kota di dunia hadapi masalah dengan pengelolaan sampah, kota-kota di Jepang jauh lebih terbantu dengan “moittanai” ini. Untuk itu, kata Saori, pemerintah Jepang sedang berupaya mendaftarkan mottainai sebagai “warisan budaya dunia” di UNESCO. Menurutnya, budaya ini harus dilestarikan, kalau perlu disebarkan.

Saya menyela, di Indonesia dan banyak negara Islam, ada nilai “mubazzir”. Substansinya sama dengan “mottainai”. Jadi, sebenarnya nilai itu memang nilai dunia yang telah ada di banyak masyarakat.

Saori heran. Dia bilang banyak teman-teman dia yang muslim sering menyisakan makanan di piring. Awalnya, mereka ambil makanan dalam jumlah besar, kemudian tidak dihabiskan. Akibatnya, dibuang.

Dan Saori bertanya, “Bagaimana dengan Indonesia? Apakah orang Indonesia masih mempraktekkan mubazzir itu, Ishaq San?”. Saya hanya tersenyum. Tapi sejak saat itu, saya selalu menghabiskan makanan di piring. Mungkin bukan karena mottainai atau mubazzir. Mungkin lebih karena faktor Saori. Ya, malu rasanya mendapat pertanyaan seperti itu dari seorang yang lebih banyak habiskan waktu untuk berdandan daripada beribadah… – at Starbucks Coffee 京都三条大橋店

View on Path