Makan Malam Bersama Petinggi Taliban

Saya adalah “orang biasa”, setidaknya begitulah saya melihat diri saya.  Memang, beberapa kali saya makan malam dengan “orang penting”, tetapi itu bukanlah karena diri saya sebagai pribadi yang diundang, melainkan kebetulan saja saya menjadi bagian dari kelompok tertentu yang diundang.

Tetapi makan malam kali pada hari Kamis, 28 Juni 2012 ini adalah momen makan malam paling terkesan dan paling berharga sampai saat ini.  Betapa tidak, saya duduk semeja (benar-benar satu meja) bersama beberapa elit Afghanistan dari faksi yang berbeda-beda. Kita semua tahu, Afghanistan dan situasi disana sedang menjadi pembicaraan hangat dalam politik internasional saat ini.

Ada Shaikh Iadin Mohammad. Ketika Taliban masih berkuasa (sebelum digusur paksa oleh invasi Amerika tahun 2001), beliau adalah menteri luar negeri.  Hingga kini, Taliban masih mengidentifikasi diri mereka sebagai Islamic Emirates of Afghanistan (IEA), dan pemerintahan dibawah Presiden Hamid Karzai sekarang ini dianggap sebagai “pemerintahan boneka”.  Shaikh Iadin saat ini adalah anggota Dewan Politik IEA.  Beliau hadir di Kyoto atas perintah langsung Pemimpin Tertinggi Taliban di pengasingan, Mullah Omar, sang Amirulmu’minin.

Suasana makan malam bersama tokoh-tokoh Afghanistan (Photo by Cellphone)

Di meja itu juga ada Shaikh Abdulsalam Zaeef.  Beliau adalah President of Afghan Foundation.  Beliau pernah menjabat Duta Besar Afghanistan untuk Pakistan.  Dalam peta politik Afghanistan, kelompok ini adalah kalangan moderat, dengan sikap politik di tengah-tengah, namun lebih condong mendukung pemerintahan Afghanistan sekarang.

Lalu ada Dr. Ghairat Baheer, Ketua Komite Politik Hezb Islami Afghanistan.  Organisasi ini dikenal sebagai pengusung gagasan Marxis yang pada masa lalu merupakan sekutu utama Uni Sovyet. Jelas pada masa itu, mereka adalah musuh Taliban. Namun saat ini, Hezb Islami dan Taliban memiliki visi politik yang sama: “No American Army in Afghanistan”.  Organisasi didirikan oleh mendiang Gulbuddin Hekmatyar (pernah menjabat PM Afghanistan di tahun 1993-1994 sebelum Taliban berkuasa).

Juga ada Dr. Masoom Stanekzai, jabatannya saat ini adalah Menteri Penasehat (bukan penasehat menteri, lho) Presiden Afghanistan untuk urusan Keamanan Dalam Negeri. Dari namanya terbayang kekuasaannya, kira-kira seperti Pangkopkamtib pada masa Orde Baru di Indonesia.  Beliau dikenal sebagai juru runding damai yang paling sering mewakili Presiden Hamid Karzai dalam berbagai pertemuan perdamaian dengan kelompok-kelompok oposisi.  Dr. Stanekzai datang ke Kyoto masih menggunakan tongkat untuk memapah jalannya, setelah tahun lalu beliau terluka parah akibat ledakan bom.

Di meja itu juga ada Siddiq Mansoor Ansari. Di kartu namanya tertulis: Chairman of Federation of Afghanistan’s Civil Society (FACS).  Ketika berbincang dengannya, dengan bangga ia mengatakan bahwa pada bulan Oktober nanti ia dan beberapa rekannya akan ke Indonesia atas undangan PB Nahdathul Ulama dalam rangka konferensi masyarakat sipil untuk perdamaian.

Tokoh-tokoh ini hadir ke Kyoto atas prakarsa Graduate School of Global Studies, Doshisha University.  Saya adalah kandidat Ph.D di sekolah ini.  Pada hari Rabu, 27 Juni 2012, seharian penuh  mereka mempresentasikan visi dan opini tentang rekonsiliasi dan perdamaian di Afghanistan dihadapan forum yang sangat terbatas.  Waktu konferensi ini, saya sudah merasa beruntung dapat berbincang-bincang dengan tokoh-tokoh tersebut disela-sela rehat.

Nampak jelas perbedaan visi mereka.  Taliban dan Hezb Islami mempunyai garis yang tegas: “rekonsiliasi dan perdamaian di Afghanistan hanya dapat dibahas jika diawali dengan penarikan mundur pasukan Amerika.  Tanpa itu, tidak akan pernah ada rekonsiliasi”. Dapat dibayangkan bagaimana suasana forum dialog itu, ketika dipihak lain ada wakil pemerintah Afghanistan saat ini yang terbentuk karena sponsor Amerika Serikat.

Namun demikian, suasana dialog sangat-sangat santun dan menyenangkan.  Dekan kami (Professor Masanori Naito) dan Chair Person acara ini (Professor Hisae Nakanishi) dapat berperan maksimal untuk mencairkan suasana dialog multi bahasa itu.  Shaikh Iadin berbahasa Pashto, Dr. Stanekzai berbahasa Inggris, dan beberapa penanggap berbahasa Jepang.  Untung saya tidak berbahasa Indonesia saat memberi komentar. Meskipun demikian, saya tetap nampak sebagai orang Indonesia, karena saya mengenakan baju batik.

Mungkin karena alasan berbaju batik itulah, keesokan harinya saya mendapat telepon dari Iyaas Salim, rekan dari Palestina.  Ia mengatakan, “nanti malam akan ada pertemuan. Saya diminta untuk mengundang juga rekan dari Indonesia yang kemarin sempat berkomentar. Bisakah Anda hadir, Ishaq San?”.  Tentu saja, saya membatalkan pertemuan sekolah anak saya dan mengatakan akan hadir.

Sebagai pembelajar ilmu hubungan internasional, saya banyak membaca kisah-kisah diplomasi dan berbagai variasinya.  Momentum ini telah memberi pengalaman berharga bagi saya, bagaimana multi-track diplomacy itu bekerja, bagaimana universitas dapat menjalankan peran sebagai mediator konflik yang bebas nilai dan hanya berpretensi pada perdamaian dan kemanusiaan.

Saya tidak sabar untuk membagikan impresi pengalaman ini terhadap mahasiswa-mahasiswa saya kelak.(*)