Hilangnya “Masyarakat” Kami: Kisah Angkot

Hari ini saya menggunakan petepete (angkutan kota khas Makassar) ke kampus. Sudah lama juga. Terakhir saya menggunakan petepete sekitar setahun lalu. Tetapi waktu karena mobil saya sedang bermasalah. Namun hari ini saya menggunakan petepete karena niat. Rindu juga merasakan suasana "apa adanya" di petepete.

Pada saat naik, ada 6 orang penumpang. Saya adalah penumpang ke-7. Di sisi saya duduk, ada tiga orang yang sibuk dengan gadget mereka. Seorang sibuk sms-an, seorang sibuk blackberryan, dan seorang lagi nampaknya sibuk dengan handphone android-nya. Saya tidak yakin apakah dia facebook-an atau twitter-an. Yang pasti, mereka bertiga "tidak ada" di petepete itu. Sungguh. Hanya jasad mereka saja yang ada disitu, tetapi jiwa mereka sedang berada di tempat lain, di dunia yang mereka sendiri juga tidak tahu dunia apa itu.

Lalu di deretan kursi depan saya, ada dua penumpang. Seorang ibu yang nampak sangat gelisah karena petepete ini terlalu lambat berjalan dan terlalu sering berhenti berniat mengambil penumpang. Ia sempat protes kepada Pak Supir "Aduh, lambatnya petepete ta pak. Jangan terlalu sering berhenti kodong…"

Tapi Pak Supir menjawab santai tapi ketus: "Kalau mau ki cepat pake taksi bu…". Saya percaya, ini jawaban standar yang memang sudah dipersiapkan, persis seperti jawaban standar para Customer Service di bank-bank, perusahaan selular, dan lain-lain.

Sosok yang menarik perhatian saya adalah seorang wanita yang duduk di depan saya. Ketika tiga orang di sisi kanan saya sibuk dengan gadgetnya, sibuk dengan dunia lain yang entah dimana, wanita di depan saya ini malah sibuk membaca. Saya (dengan kurang sopan) melirik apa yang dia baca. Wow, tulisan Arab. Mungkin kumpulan do’a, atau mungkin panduan ibadah.

Lalu saya memperhatikan orang-orang ini bergantian. Hei, kita berada di tempat yang sama, pada suatu ruang berukuran tidak lebih dari 2 meter x 1,5 meter. Tetapi tidak ada interaksi apapun.diantara orang-orang ini. Masing-masing sibuk "bersosialisasi" dengan orang-orang nyata yang sekarang ini sedang maya.

Saya jadi teringat pada kebiasaan naik petepete beberapa tahun lalu. Orang-orang masih saling menyapa, saling tukar cerita ringan, meskipun tidak saling mengenal. Bahkan, tidak jarang ada informasi baru (tepatnya gosip baru) yang kita dengar. Ketika itu, petepete adalah ruang bagi masyarakat. Setidaknya, ada masyarakat yang hadir disitu.

Iseng-iseng, saya bertanya kepada penumpang di sebelah kanan saya, "Mau ka tanya, berapa mi sekarang bayarnya petepete dari Sudiang ke Tamalanrea?". Dia tidak dengar (atau mendengar tapi tidak peduli), sebab dia tidak ada disini. Tetapi, penumpang perempuan yang duduk di depan saya dan sedang membaca buku itu justru menjawab: "tiga ribu mi sekarang, pak,". Lalu dia lanjut bertanya, "baru ki naik petepete?". Oh, dia adalah "orang", bagian dari masyarakat yang nyata.

Hari ini saya tiba-tiba teringat dengan banyak sekali peristiwa hilangnya "masyarakat" kita. Orang-orang nampak bersama-sama, tetapi mereka tidak bersama-sama. Masing-masing sibuk dengan dunia lain entah dimana.

Saya jadi teringat lagi dengan kesedihan istri saya beberapa waktu lalu. Ketika itu, saat antri menunggu giliran diperiksa di dokter gigi, saya mengutak-atik blackberry. Istri saya nampak sangat sedih. Dia bilang, "beberapa waktu lalu, saya dan Zidan makan di Bakso Senayan. Lalu masuk satu keluarga, seorang ayah, ibu, dan dua anaknya berusia awal belasan. Begitu duduk, si ayah, dan kedua anak lalu spontan sibuk dengan blackberry mereka. Tinggalah si ibu sendirian, bingung mau bikin apa…"

Sejak itu, saya memutuskan mengubah gaya menggunakan gadget saya. Bahkan, saya memutuskan berhenti menggunakan blackberry. Saya tidak anti kemajuan, saya tidak anti teknologi. Bahkan, saya adalah penggila gadget. Tetapi, secara pribadi, saya belum siap menjadi pengguna cerdas. Saya masih cenderung "shock culture", menggunakan perangkat-perangkat itu tanpa rasionalitas.

Hari ini saya menyadari, masyarakat kita mulai hilang. Yang tinggal hanyalah jasad-jasad saja, berkumpul dan berkerumun. Tetapi tidak ada lagi jiwa disitu. Bukankah jiwa adalah esensi manusia dan manusia adalah esensi masyarakat? Jika manusia tidak lagi menyertakan jiwa dalam kehidupan bermasyarakatnya, maka masyarakat kita telah hilang. Itulah yang kita hadapi…

Sent from Google Mail…