Susahnya Memberi Nilai Yang Obyektif Dalam Team

Hari ini saya mendapat komplain dari banyak mahasiswa. Nilai akhir mata kuliah yang saya asuh bersama dosen lain telah keluar, dan banyak mahasiswa yang keberatan dengan nilainya. Inilah untuk pertama kalinya setelah 8 tahun mengajar saya mendapatkan banyak komplain soal nilai.

Setiap mata kuliah selalu dibina oleh 2 atau lebih dosen. Masing-masing mempunyai peranan di kelas selama 1 semester perkuliahan, sesuai sharing beban tugas. Pada akhir kuliah, kami akan melakukan rekapitulasi terhadap nilai-nilai kami, untuk memperoleh nilai akhir.

Saya tidak tahu bagaimana teman-teman dosen lain memberikan nilainya. Tapi saya akan membagikan cara yang saya lakukan.

Ada 3 komponen yang saya nilai. Kebetulan kuliah yang saya asuh dilaksanakan dengan metode partisipatif, dimana setiap pertemuan ada diskusi. Mahasiswa dibagi beberapa kelompok yang menjadi nara sumber. Lalu setiap mahasiswa diminta membuat resume dari diskusi. Pada akhir diskusi, saya akan memberikan review.

Komponen pertama yang saya nilai adalah aktifitas dan bobot diskusi. Jadi, ada mahasiswa yang asal ngomong berharap memperoleh atensi. Betul, saya memberi atensi, tetapi atensi negatif. Berbicara saja tidak cukup. Semakin banyak seseorang berbicara, kita bisa semakin tahu seberapa banyak yang dia baca atau ketahui.

Kedua, saya akan membaca satu per satu resume yang dibuat setiap mahasiswa. Ini lumayan berat. Setiap minggu ada 30-an resume tulisan tangan yang harus saya baca. Tentu ini bukan pekerjaan menarik, apalagi setiap resume dari satu pertemuan isinya sama saja.

Lalu, yang ketiga, saya akan menilai hasil ujian tulis. Wewenang saya adalah sampai ujian mid semester. Saya memberi tugas individu untuk menilai hasil mid. Dan memberi nilai sesuai hasil pekerjaan mahasiswa.

Setiap nilai saya rekap dan saya catat, untuk memastikan obyektifitas. Dengan kata lain, nilai yang saya berikan terukur dan bisa dipertanggungjawabkan.

Kepada siapa saya pertanggungjawabkan nilai-nilai yang saya berikan? Pertama, kepada mahasiswa. Mereka seharusnya merasa bahwa nilai yang diperolehnya layak, terutama jika dibandingkan dengan sesama mahasiswa. Lalu, yang kedua, saya juga harus bertanggung jawab secara akademik kepada institusi. Dan, terakhir, tanggung jawab moral kepada Yang Di Atas.

Selama bertahun-tahun saya dapat mempertanggungjawabkan setiap nilai yang saya berikan kepada mahasiswa, tanpa ada yang pernah komplain. Kalaupun ada yang keberatan dengan nilainya, saya bersedia, tanpa ragu sedikitpun, untuk membeberkan hasil rekapitulasi nilai-nilai setiap komponen.

Sampai hari ini saya memperoleh komplain massif. Sebagian besar mahasiswa tidak puas dengan nilai akhir. Masalahnya adalah, nilai-nilai yang saya berikan bobotnya hanya sekitar 40% dari seluruh bobot nilai. Selebihnya, yaitu 60%, berasal dari rekan dosen yang lain. Artinya, setinggi apapun nilai yang saya berikan (sebagai hasil obyektif dari seorang mahasiswa), nilai itu bisa saja jadi jeblog dan menjadi sangat rendah jika rekan dosen lain memberi nilai yang rendah.

Ilustrasinya begini. Seseorang memperoleh nilai 90 dari saya. Tetapi memperoleh nilai 60 dari rekan dosen lain. Berapa nilai akhirnya? Hitungannya adalah (90 x 40%) + (60 x 60%) atau 36 + 36 dan hasilnya adalah 72. Nah, kalau dosen rekan saya sangat “ketat” memberi nilai, maka sulit ada yang bisa memperoleh nilai baik.

Sebaliknya, kalau saya memberi skor 60 dan rekan dosen lain memberi lain 90, maka nilai akhirnya adalah (60 x 40%) + (90 x 60%) atau 24 + 54 atau nilainya 78. Ini perbedaan yang signifikan.

Tetapi, banyak mahasiswa yang keberatan kenapa seseorang yang begitu aktif, tampak smart dalam diskusi, dan kadang-kadang jadi sumber bagi teman-temannya bisa memperoleh nilai rendah, dibandingkan dengan seseorang yang jarang hadir di kelas, jarang berpendapat, dan diketahui lebih banyak hang out daripada belajar?

Saya sudah memberi jawaban saya dalam cara memberi nilai. Lagi-lagi, saya tidak tahu bagaimana cara rekan dosen memberi nilainya. Seperti biasa, saya bersedia membuka nilai saya, per bagiannya, bagi mahasiswa. Nah, apakah rekan dosen lain bersedia juga? Disinilah inti masalahnya…***

Posted with WordPress for BlackBerry.