Ramai terpapar jelang vaksin datang

Akhirnya, waktu yang ditunggu-tunggu itu tiba juga. Vaksin virus corona produksi Sinovac Cina, tiba di Bandara Cengkareng, Minggu (6/12) sekitar pukul 21.20 WIB.

Berbagai media memberitakan peristiwa penting ini. Bisa dilihat disini, disini, dan disini. Sebanyak 1.2 juta dosis vaksin akan segera dinilai oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Kemungkinan besar, vaksin ini akan memperoleh ijin penggunaan berdasarkan skema situasi darurat.

Sesaat menjelang kedatangan vaksin, publik Indonesia dihebohkan oleh berita terpaparnya banyak publik figur. Beberapa diantaranya adalah Wakil Gubernur DKI Jakarta, kemudian menyusul Gubernur juga. Mantan calon Wakil Presiden Sandiaga Uno dan istrinya juga dilaporkan terpapar. Sebelumnya Menteri Tenaga Kerja telah diumumkan terpapar.

Mungkin saja kedua peristiwa ini (yaitu terpaparnya sejumlah figur publik dan kedatangan vaksin) adalah dua hal berbeda. Akan tetapi, ada saja orang yang mengaitkan keduanya, dibarengi sejumlah teori.

Salah satu teori yang dibahas teman saya adalah dugaan rekayasa. Teman ini memang senang dengan tema-tema begini. Menurut teman ini, publik seolah dibius dengan ide bahwa vaksin ini penting dan jangan ditolak. Terpaparnya sejumlah tokoh adalah semacam advertensi bagi pentingnya vaksin.

Tentu saya menolak idenya. Menurut saya, tanpa tokoh publik yang terpaparpun, vaksin ini telah memenuhi diskusi publik selama beberapa bulan terakhir. Bahkan sampai over exposed, menurut saya.

Jadi, argumen rekayasa (apalagi sampai dugaan konspirasi) sepertinya berlebihan. Tapi, untuk kedua hal itu saja ya, bukan untuk keseluruhan cerita pandemi. Bagaimanapun, pengikut teori konspirasi masih pada yakin kalau pandemi kali ini adalah rekayasa.

Terlepas dari pandangan nyleneh teman ini, saya pribadi menyambut senang kedatangan vaksin. Apalagi, menurut kabar, dosen dan tenaga pengajar akan berada pada gelombang pertama penerima vaksin. Semoga benar.(*)

vaksin Covid-19

Vaksin Covid-19: Sekuritisasi, Ekonomi, dan Politik

Ketika virus corona baru merebak dari Wuhan pada awal Januari 2020, para ahli, peneliti, dan lembaga-lembaga riset di seluruh dunia saling berlomba untuk segera menemukan vaksin.  Pada Januari 2020, pemerintah China secara resmi membuka informasi genetik virus yang menyebabkan penyakit Covid-19 ini.

Perlombaan menemukan vaksin bukan semata-mata isu kesehatan. Sebagai komoditas yang akan sangat dibutuhkan oleh milyaran penduduk dunia, ada dimensi ekonomi dibaliknya. Selain itu, upaya menemukan vaksin juga akan menjadi ajang unjuk kapasitas riset dan penguasaan ilmu pengetahuan negara-negara di dunia.

Dengan asumsi bahwa masa depan kekuatan berada di tangan kesiapan sumber daya manusia, negara-negara di dunia juga melihat isu Covid-19 sebagai isu keamanan yang strategis.

Perlombaan Vaksin

Upaya menemukan pencegah permanen dari suatu pandemi telah menjadi fenomena sejak lama.  Ana Santos Rutschman dalam artikelnya “The Vaccine Race in 21st Century” mengatakan bahwa dalam dunia modern dimana penyakit baru infeksi yang menyebar cepat bermunculan, keberadaan vaksin menjadi prioritas inovasi biofarmasi.  Namun, dalam bidang hukum, sangat sedikit regulasi yang mengatur inovasi-inovasi tersebut.

Akibatnya, negara-negara di dunia cenderung berada pada situasi perlombaan yang mengarah pada peperangan baru.  Situasi ini mirip dengan adu kedigdayaan antara super power pada era perang dingin, namun dengan lansekap dan area perang yang berbeda.  Jika dulu lokus persaingan adalah dalam bidang militer, kini bergeser ke bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Negara-negara, terutama negara maju, saling berlomba mengumumkan kemajuan dalam riset vaksin Covid-19.  Sesuai kelaziman dalam dunia riset, para peneliti umumnya mengumumkan capaian mereka, memaparkan data, untuk memperoleh tanggapan dari kolega peneliti di belahan dunia lain.  Apalagi, penelitian yang berkaitan dengan kesehatan, yang mempertaruhkan keselamatan manusia, bahkan dalam jumlah besar.

Di sisi lain, karena kontaminasi elemen keamanan nasional dalam bidang kesehatan, banyak otoritas negara yang menyimpan data riset dengan status rahasia (classified).  Bahkan, tidak sedikit negara yang memobilisasi badan-badan keamanan nasionalnya untuk melakukan riset dalam bidang kesehatan ini.  Di Indonesia, lembaga yang getol terlibat dalam penelitian Covid-19 adalah Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) dan Badan Intelijen Negara (BIN), yang menggandeng Universitas Airlangga.

Klaim Rusia

Ketika Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengumumkan negaranya telah menemukan vaksin Covid-19 yang diberi nama Sputnik-V, respon dunia tidak sama gembiranya.  Di satu sisi, kehadiran vaksin sangat ditunggu-tunggu, yang dipercaya akan menjadi pertanda berakhirnya pandemi.

Komunitas peneliti percaya bahwa Rusia memiliki kapasitas memadai untuk menemukan vaksin Covid-19.  Negara ini memiliki banyak ilmuwan dengan tingkat keahlian yang tinggi, ditambah dengan ketersediaan infrastruktur yang memadai untuk riset-riset canggih.  Akan tetapi, Rusia nampaknya tidak cukup terbuka membagi data penelitian.

Dalam laporan World Health Organization (WHO), yang diumumkan pada Juli 2020, terdapat 150 kandidat potensial vaksin Covid-19. Di antara lembaga penelitian yang tercatat sedang melakukan riset adala Gamaleya Research Institute, yang berbasis di Rusia.  Dalam laporan WHO yang diperbaharui pada 13 Agustus 2020 (yaitu 2 hari setelah klaim Rusia), nama Gamaleya Research Institute termasuk satu diantara 29 kandidat vaksin paling menjanjikan.

Akan tetapi, laporan ini menyebutkan bahwa Gamaleya masih berada pada fase 1 dari tahapan uji klinis, dari 3 fase uji yang disyaratkan untuk keamanan vaksin yang dihasilkan.  Fase 1 dan 2 dari uji klinis biasanya melibatkan relawan dalam jumlah puluhan hingga ratusan. Sementara fase 3 dari uji klinis berarti kandidat vaksin tersebut diujicobakan pada ribuan orang.

Klaim Rusia yang disampaikan oleh Vladimir Putin sontak mendatangkan kekhawatiran.  Para ilmuwan dan otoritas kesehatan di berbagai negara menuding Rusia telah mengabaikan protokol penting dalam penelitian vaksin, yaitu uji massif.  Dengan kata lain, Rusia telah mengklaim penemuan vaksin tanpa prosedur riset yang tuntas. Masih tersisa ruang resiko yang besar, terutama bagi keselamatan manusia yang akan menggunakannya.

Dukungan Politik

Hari pertama setelah diumumkan, dukungan dari Filipina. Presiden Rodrigue Dueterte bahkan sesumbar, jika Sputnik V tersedia di pasaran, ia akan menjadi orang pertama yang akan menggunakannya.  Mungkin Dueterte sedang mencari simpati Putin, atau mungkin juga ia sedang frustrasi mengatasi masalah pandemi Covid-19 di dalam negerinya yang tidak terkendali. Dueterte sedang mengalami tekanan politik domestik, akibat dianggap gagal mengambil tindakan yang sesuai mengatasi pandemi.

Terlepas dari kontroversi terhadap efektivitas dan jaminan keamanan Sputnik V, klaim Rusia ternyata mendapat sambutan.  Setidaknya, sebanyak 20 negara di Amerika Latin, Timur Tengah, dan Asia telah memesan vaksin yang dikabarkan akan siap pada akhir Agustus atau awal September 2020 ini.

Meskipun WHO menegaskan bahwa tidak cukup informasi yang tersedia untuk memastikan efektivitas vaksin temuan Rusia, namun badan ini tidak memiliki landasan yang kuat untuk menghentikan klaim Putin.  Keterbatasan rejim organisasi internasional adalah peranan negara dan atribut kedaulatan nasional yang tidak dapat diganggu.

Terlepas dari kebenaran terhadap klaim kehandalan vaksin yang dihasilkan Rusia, hal yang menarik lainnya adalah menelaah hubungan-hubungan kekuasaan dan politik diantara negara-negara dalam interaksi terkait Covid-19.  Ada banyak argumentasi yang membutuhkan penjelasan, misalnya alasan Israel dan Brazil untuk menjadi bagian dalam gerbong penerima klaim Rusia.

Keliatannya, sekuritisasi pandemi Covid-19 masih mendominasi hubungan negara-negara di dunia, dibalik hiruk-pikuk ekonomi dan politik.(*)