Terlambat Menjajal Rammang-rammang

Akhirnya, saya sempatkan diri berkunjung ke Kawasan Wisata Karst Rammang-rammang, pada Sabtu (9/7). Sekian lama kawasan ini tenar di sekitar saya, dikunjungi oleh berbagai tokoh publik: Jusuf Kalla (Mei 2017), Sandiaga Uno dan Atta Halilintar (Juni 2021), Nadjwa Shihab (Januari 2022), hingga delegasi Global Forum dari 84 negara (2018).

Pada banyak kesempatan, saya juga lalu lalang di jalan raya yang melewati akses masuk ke kawasan Rammang-Rammang, Jalan Poros provinsi (entah jalan apa namanya, ada beberapa versi soalnya). Namun, selama ini belum ada cukup hal yang membuat saya berpikir untuk mampir.

Kawasan Karst Rammang-Rammang sejatinya memiliki keunikan sebagai obyek wisata. Namun, sebagaimana dilansir oleh banyak komentar dan postingan di sosial media, perlu memberi polesan pada unsur-unsur tambahan non alam.

Sebagai obyek wisata alam, keunikan lautan karst di Rammang-Rammang tidak perlu lagi dipoles-poles. Ia memang telah tampil apa adanya, dan memiliki pesona yang luar biasa. Apalagi, menurut informasi, kawasan Karst Rammang-Rammang tercatat sebagai terbesar ketiga di dunia.

Artinya, dari sisi attraction, kawasan ini memiliki keunggulan. Begitu juga dari aspek accesibility, nampak tidak ada masalah berarti. Kampung Karst Rammang-Rammang dapat ditempuh dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin dalam waktu sekitar 30-45 menit (32 km), melewati jalan provinsi yang mulus meski kadang-kadang padat.

Beberapa isu nampaknya terlihat pada aspek amenity atau kenyamanan. Hal ini berkait dengan unsur-unsur pendukung suatu obyek wisata. Secara teoritis, para wisatawan datang melihat atraksi (obyek). Minat mereka untuk datang kedua kali dan selanjutnya, sedikit banyak ditentukan oleh perasaan nyaman yang ia rasakan pada kunjungan pertama.

Wisatawan juga dapat menjadi agen promosi informal. Jika ia merasakan paket lengkap, ia akan membicarakan keunggulan obyek yang telah ia datangi, dan tanpa “tapi..”. Untuk itu, sedapat mungkin terdapat mekanisme menjaring apa ekspektasi wisatawan, dan bagaimana pengelola serta pihak terkait dapat memenuhinya.

Saya berkunjung ke Rammang-Rammang dengan modal pengetahuan pas-pasan. Tidak ada hal detail saya ketahui, kecuali informasi umum yang selama ini sudah beredar. Misalnya, soal sewa perahu untuk menyusuri sungai di tengah lautan Karst. Ketika tiba barulah saya tahu kalau ada tiga kelompok tarif, yaitu:

  • Rp. 200.000,- untuk kapasitas 1 s.d. 4 orang
  • Rp. 250.000,- untuk kapasitas 5 s.d. 8 orang
  • Rp. 300.000,- untuk kapasitas 9 s.d. 12 orang

Penggunaan perahu juga baru saya ketahui ketika tiba. Wisatawan akan diajak menyusuri sungai kecil dari Dermaga 1 menuju Kampung Berua. Di sini, wisatawan turun dan mengelilingi kawasan Karst, sambil menikmati pemandangan dan sajian kelapa muda. Untuk masuk ke kawasan Kampung Berua, ada biaya masuk sebesar Rp. 5.000,-

Pada saat berkeliling itu, perahu akan menunggu di Dermaga Kampung Berua. Tidak ada batasan waktu spesifik.

Pengelola kawasan Karst ini perlu menyiapkan semacam lembar asesmen kepada para pengunjung, untuk mengetahui apa impresinya dan layanan serta fasilitas apa yang perlu diperbaiki atau ditingkatkan. Sayangnya, hal ini belum terlihat ketika saya berkunjung.

Selain itu, nampaknya pengelola perlu menyiapkan jasa tour guide. Banyak pengunjung tidak memiliki referensi apapun tentang obyek Karst Rammang-Rammang. Padahal, dari perbincangan dengan warga setempat yang ditemui, banyak hal menarik bisa digali. Misalnya, mitos suatu obyek, atau cerita suatu situs tertentu.

Ini bisa menjadi hal yang menarik bagi wisatawan. Tentu saja, jasa tour guide ini dapat dibebankan biayanya kepada pengunjung. Saya ingat ketika berkunjung ke Kyoto Imperial Palace. Ada tour guide yang menjelaskan setiap bangunan dan cerita-cerita dibaliknya.

Sebenarnya, keterlambatan saya menjajal kawasan Karst Rammang-Rammang ini disertai harapan berbagai hal mendasar tersebut telah tersedia. Sayangnya, belum. Semoga pada kunjungan selanjutnya, layanan pendukung di Kawasan Karst Rammang-Rammang yang kini sedang dalam proses pengusulan menjadi Warisan Geopark ke UNESCO tampil lebih menarik lagi.(*)