Uang Kertas Palu Arit, Mental Gagal Move On

Palu Arit, sebagai representasi PKI, masih menjadi hantu. Terus menghantui pikiran dan khayalan bangsa ini. Minggu-minggu ini, logo Bank Indonesia di uang kertas yang tercetak dengan teknik khusus dianggap oleh sebagian orang sebagai penyusupan logo PKI.

Pikiran-pikiran konspiratif segera berkembang. Seolah-olah PKI diam-diam secara sistematis sedang mengkooptasi bangsa ini, termasuk dalam uang kertas. Isunya berkembang liar kemana-mana, bahkan kembali menyentuh Presiden Jokowi. Isu lama yang sudah diklarifikasi tentang keterkaitan dan hubungan Jokowi dengan PKI kembali diutak-atik.

PKI seharusnya tinggal sejarah. Dan bangsa ini seharusnya sudah bergerak maju. Tetapi, kekeliruan menempatkan sejarah menjadi semacam katalisator bagi kebencian yang dilestarikan.

Pada musim panas tahun 2014, saya sungguh beruntung. Seorang tokoh sepuh Jepang yang dianggap sebagai “the living legend” hadir di kampus saya di Kyoto. Namanya Sadao Ogata, populer dengan sebutan Madame Ogata. Ia memberi kuliah singkat untuk audiens yang sangat terbatas. Saya salah seorang diantaranya.

Madam Ogata menghabiskan sebagian besar usianya untuk kemanusiaan. Ia bertahun-tahun menjabat Direktur Executive UNHCR, badan PBB yang mengurusi pengungsi. Diusianya yang telah lebih 90 tahun, ia belum berhenti.

Seorang peserta kuliah, seorang gadis kekinian khas anak muda Jepang, bertanya: “saya ingin menempuh jalan kesuksesan seperti Anda, Ogata San. Apa yang harus saya pelajari?”.

Tanpa ragu sedikitpun, Madame Ogata menjawab: “pelajarilah sejarah!”.

Umat manusia telah ribuan tahun di bumi ini. Hampir seluruh masalah dan persoalan masa kini telah kita selesaikan di masa lalu. Akan tetapi, banyak orang malas belajar sejarah, sehingga mereka sibuk mencari solusi untuk masalah-masalah yang sebenarnya pernah diselesaikan di masa lalu.

Pada tahun 1991, komunisme mengalami guncangan hebat di dunia. Dimulai dengan bubarnya Uni Sovyet pada bulan Desember yang dingin, sistem-sistem komunime di seluruh dunia mengalami delegitimasi. Bubarnya Uni Sovyet bukan saja pertanda kemenangan kapitalisme liberal, tetapi juga pertanda jaman bahwa komunisme tampaknya terlalu ideal (bahkan utopis) untuk dapat dijalankan dalam kehidupan nyata.

Perlahan-lahan, negara pecahan Uni Sovyet dan negara-negara satelit komunisme peninggalan perang dingin beramai-ramai mengkonsolidasi diri. Ada yang kemudian mengadopsi jalan demokrasi liberal, namun ada juga yang coba mengkonstruksi jalan baru.

Dan apa yang terjadi dengan komunisme yang puluhan tahun menjadi ideologi bangsa? Dijadikan peninggalan sejarah, dalam arti harfiah.

Simbol-simbol komunisme, baik itu bangunan, peristiwa, maupun dokumen, dipajang dan menjadi obyek wisata. Mulai dari Rusia yang memiliki luas 17 juta kilometer persegi, hingga Moldova yang hanya seluas 33 ribu kilometer persegi. Termasuk juga negara-negara satelit komunisme pada masa lalu.

Ketika saya berkunjung ke Budapest, Hungaria pada musim panas 2009, saya sempat mampir ke museum peninggalan komunisme. Namanya House of Terror, terletak di Jalan Andarassy No. 60, Budapest. Sementara di setiap toko suvenir dan pedagang kaki lima, atribut-atribut berlogo palu arit di jual sebagai suvenir bagi wisatawan.

Ketika itu saya hanya bisa menimang-timang saja T-Shirt, pin, dan topi yang terdapat logo palu-arit. Saya tahu, akan jadi masalah besar kalau benda-benda seperti ini saya bawa ke Indonesia. Kita tentu masih ingat, bagaimana Anindya Kusuma Putri menuai kontroversi bahkan jadi sasaran bullying di sosial media. Putri Indonesia 2015 itu hanya mengunggah foto dirinya di Instagram berbaju T-Shirt merah dengan logo palu-arit.

dan uang kertas

Entah paranoia semacam apa yang terinstal di memori kolektif bangsa ini. Saya sepakat bahwa kita tidak boleh kembali lagi ke masa lalu. Dan sepertinya kita tidak akan kembali ke sana. Hampir tidak ada lagi negara di dunia dewasa yang berpikir untuk kembali mengadopsi komunisme. Ini ideologi yang gagal.

Sayangnya, komunisme yang gagal ini masih menjadi hantu lebih disebabkan oleh bangsa kita yang gagal move on. Pada Pilpres 2014 lalu, Jokowi yang capres diserang dengan isu PKI. Setelah dua tahun menjabat, isu PKI masih saja sering ada yang ungkit-ungkit.

[rpi]

Sekarang, logo BI di uang kertas yang telah begitu lama kita gunakan, dipaksa agar terlihat sebagai model “palu-arit”. Selanjutnya, konspirasi yang dilebih-lebihkan dengan komentar orang-orang yang belum move on menjadi bumbu penambah rasa. Hal buruknya adalah rasa kebencian saja yang ditambahkan, dengan memperalat uang kertas kita.

Seseorang akan menemukan apa yang dicari. Jika yang dicari adalah hal-hal buruk, dalam kitab suci juga bisa ditemukan. Apalagi jika hanya mau mencari logo yang dipaksakan berbentuk “palu-arit”.

Kita mesti segera bergerak maju, saudara-saudara… Tinggalkan saja imajinasi palu arit itu di museum. (*)