Do You Kyoto, dan Asal Mula Slogan

Tempat sampah di halte bis biasanya hanya dua, tidak ada tempat untuk sampah basah. Orang Kyoto tidak membuang makanan di jalan. (foto: Ishaq)

Tempat sampah di halte bis biasanya hanya dua, tidak ada tempat untuk sampah basah. Orang Kyoto tidak membuang makanan di jalan. (foto: Ishaq)

Tidak terasa, ini adalah awal tahun kelima saya tinggal di Kyoto. Ada begitu banyak pengalaman, kesan, dan pengetahuan yang terserap, tetapi hampir lupa saya tuliskan.  Beberapa memang sempat menjadi sumber untuk ditinggalkan pada blog.  Akan tetapi, rasanya itu terlalu sedikit untuk membagikan apa yang bisa kita pelajari dari bangsa ini.  Tentu, tidak perlulah kita berdebat mengapa kita, terutama orang Indonesia, perlu menoleh dan melirik apa dan bagaimana orang Jepang hidup.  Ada begitu banyak nilai, begitu banyak spirit, yang membuat kita sering kali iri dan “ingin menjadi seperti itu”.

Saya berpikir untuk memulai saja serial tulisan tentang Kyoto.  Kebetulan sekali ini adalah awal tahun kelima, dan kebetulan juga ini adalah awal bulan Oktober.  Saya terinspirasi istri saya, Shanti Yani, yang begitu semangat membuat sketsa.  Pada bulan Oktober, ia dan kawan-kawannya berinisiatif mengatasi “tantangan” bertema #inktober, setiap hari memposting minimal satu sketsa baru.  Maka, serial tulisan ini rencananya akan saya beri saja label #Kyotoktober.  Setiap hari (semoga saja) sepanjang bulan Oktober ini akan ada minimal satu postingan tentang Kyoto dan seluk-beluknya. Tentu saja, ungkapan ini akan sangat subyektif.

Di banyak tempat di kota Kyoto, kita akan menemukan tulisan “Do You Kyoto?”.  Bisa jadi dalam bentuk stiker kecil, atau baner besar.  Bahkan, bis kota yang berseliweran memajang tulisan besar itu di dinding-dindingnya, berdampingan dengan iklan komersial.  Secara harfiah, tulisan ini bermakna “Apakah Anda Kyoto?”.  Menarik untuk menelisik makna kontekstual slogan ini, dan bagaimana asal mula lahirnya.

Slogan ini awalnya diperkenalkan “secara tidak sengaja” oleh Angela Merkel, Kanselir Jerman.  Ketika itu, di tahun 2007 ia berkunjung ke Kyoto dalam rangka menghadiri perayaan satu dekade Protokol Kyoto.  Pada tahun 1997, Kyoto menjadi tuan rumah Konvensi PBB tentang Perubahan Iklim (United Nations Framework Convention on Climate Change, UNFCCC).  Konvensi ini bertujuan untuk membangun kesepakatan global tentang perlunya mengurangi efek rumah kaca, yang diakibatkan oleh lebih 150 tahun industrialisasi di seluruh dunia. Informasi detail tentang Protocol Kyoto dapat diakses pada link ini.  Bagi warga Kyoto, penunjukkan kota mereka sebagai tuan rumah konvensi global berkaitan dengan lingkungan hidup merupakan kepercayaan, sekaligus tantangan.

Merkel, pada saat Protokol Kyoto diadopsi tahun 1997, menjabat sebagai Menteri Lingkungan Hidup Jerman.  Sehingga terlibat intensif dalam proses perumusan protokol sebagai wakil negaranya.  Ketika menghadiri peringatan sepuluh tahun Protokol Kyoto itu, Merkel memperkenalkan bahya gaya hidup yang “eco-friendly” itu adalah gaya hidup yang mewakili implementasi Protokol Kyoto. “Kita perlu selalu bertanya, Do You Kyoto? Apakah cara hidupmu sudah ramah lingkungan?”, kata Merkel.

Warga Kyoto menilai bahwa pernyataan Merkel, dan juga substansi dari Protokol Kyoto, adalah perilaku yang sebenarnya akrab dengan kehidupan sehari-hari orang Jepang, khususnya warga Kyoto.  Dalam tradisi kehidupan orang Jepang, dimana tradisi ini masih sangat kental di Kyoto, ada aktivitas rutin yang telah membudaya yang disebut “kadohaki” (門掃き).  Secara harfiah, kata ini bermakna “sapu gerbang”.  Dalam prakteknya, orang Kyoto selalu bangun pagi hari untuk membersihkan lingkungan di sekitar rumah tempat tinggal mereka.  Semangat dari kebiasaan ini adalah refleksi kecintaan terhadap lingkungan sekitar sebagai tanggung jawab setiap orang.

Protokol Kyoto sendiri mulai efektif berlaku pada tanggal 16 Februari 2005.  Sebagai ungkapan “kepemilikan” terhadap nilai-nilai di dalamnya, Pemerintah Kota Kyoto menetapkan tanggal 16 setiap bulan sebagai “Do You Kyoto? Day”.  Pada hari ini, warga kota berkesempatan menunjukkan partisipasi mereka untuk hidup ramah lingkungan dalam segala aspeknya, mulai dari memadamkan lampu-lampu yang tidak perlu, mengurangi pemakaian peralatan listrik yang mengkonsumsi energi besar, menggunakan transportasi publik, dan sebagainya.

Dalam praktek yang lebih luas, warga Kyoto bahkan mengidentifikasi nilai ramah lingkungan itu sebagai “karakter orang Kyoto”.  Misalnya, dalam aktivitas membuang sampah.  Secara teoritis, para perencana perkotaan mengakui bahwa sampah itu seharusnya dikelola sejak pada tahap awal, yaitu dipilah sebelum dibuang.  Sehingga, idealnya kita menemukan ada tiga macam tempat sampah, sesuai kategori masing-masing sampah.  Yaitu, sampah basah (ini biasanya sisa-sisa makanan, sampah rumah tangga), sampah kering atau combustible (yaitu sampah dari bahan mudah terbakar seperti kertas), dan sampah daur ulang atau recycled (ini biasanya plastik, kaleng dan benda-benda yang dapat diolah kembali).

Di Kyoto, praktek memilah sampah itu benar-benar dipraktekkan.  Begitu ketatnya warga Kyoto dalam urusan ini, sampai-sampai jika ada seorang Kyoto yang membuang sampah tanpa memilahnya, tidak jarang orang lain akan menegurnya: “Hei, kamu ini seperti orang asing saja….”

Hal menarik lain adalah kesadaran seperti ini ternyata melalui proses cukup panjang, melalui serangkaian trial and error, dimana Pemerintah Kota menjadi ujung tombaknya.  Pada dasarnya, secara kultural warga Kyoto memang telah memiliki fondasi mind-set tentang hidup bersih dan mencintai lingkungan (seperti tergambar dalam nilai kadohaki tadi).  Tetapi, bagaimana mempertahankan nilai itu, menjadikannya tetap aktual, dan bahkan memastikan agar terus diwariskan adalah persoalan yang tidak mudah.  Apalagi, dalam banyak praktek modernisasi, nilai-nilai tradisional seringkali kalah dan tenggelam oleh nilai-nilai baru yang instan. (*)