Patrialis Akbar, Sujud Syukurnya Yang Saya Kenang

Suatu malam pada akhir bulan Oktober 2009, saya dalam perjalanan pulang. Di mobil, saya mendengar ulasan di radio tentang amanah dan jabatan dalam Islam. Nara sumbernya, saya lupa siapa, kembali mengingatkan besarnya beban pada orang-orang yang diberi amanah untuk menjadi pejabat.

Nara sumber itu menyatakan, dalam Islam ada adab dimana seseorang yang diberikan jabatan akan mengucapkan “innalilahi wa innailaihi rojiun”. Ucapan ini sebenarnya lazim disampaikan kepada seseorang yang sedang mendapat musibah.

Uraian itu masuk akal saya. Jabatan yang melekat pada seseorang seringkali dilihat sebagai gelimang fasilitas. Padahal, dibalik itu terdapat tuntutan untuk bertanggung jawab, baik kepada masyarakat maupun kepada Tuhan. Seseorang dengan jabatan memiliki ruang luas untuk menjadi amanah, namun juga penuh ancaman untuk menjadi khianat. Godaan pada seseorang dengan jabatan jauh lebih besar.

Ketika tiba di rumah, saya menonton televisi. Saat itu Presiden SBY baru saja dilantik untuk periode kedua. Publik dan pengamat sedang ramai membincangkan siapa saja yang akan menjadi menteri.

Lalu, ketika Presiden SBY menyebut nama Patrialis Akbar sebagai Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia. Keriuhan sorak-sorai terjadi di kediaman Patrialis Akbar. Salah satu stasiun TV menyiarkan langsung situasi di rumah beberapa tokoh yang sebelumnya telah diduga kuat akan menjadi menteri, termasuk di kediaman Patrialis Akbar. Ia dan keluarga juga menonton TV yang menyiarkan pengumuman nama-nama menteri itu.

Riuh rendah di rumah Patrialis Akbar adalah riuh rendah bahagia. Bahkan, dengan demonstratif, Patrialis Akbar sujud syukur. Dihadapan kamera TV, disaksikan jutaan pemirsa, termasuk saya. Ia sujud syukur.

Saya ternganga. Andaikata saya tidak mendengar ulasan di radio beberapa waktu sebelumnya, tentu perspektif saya terhadap kegembiraan Patrialis Akbar dan keluarganya ini akan berbeda. Tetapi kali ini, saya tiba-tiba melihat sosok Patrialis Akbar dengan sinis. Apalagi, ia berasal dari Partai Amanat Nasional (PAN), partai yang konon didominasi oleh tokoh-tokoh Muhammadiyah, suatu organisasi massa Islam terbesar di Indonesia.

Sujud syukur pada tempatnya

Tentu saja, Patrialis boleh bergembira. Di Indonesia, ada konstruksi sosial yang menempatkan orang-orang dengan jabatan pada strata yang tinggi. Menjadi menteri, berarti memiliki kekuasaan, kewenangan, dan fasilitas. Diam-diam, banyak orang di luar sana yang menghabiskan porsi do’a dengan meminta diberi jabatan. Bahkan, tidak sedikit yang hingga berhubungan dengan klenik. Juga mistik.

Namun, menunjukkan kebahagiaan itu didepan publik, dibawah sorotan kamera TV yang sedang siaran live, adalah bahasa yang jelas. Bahwa ia tidak bisa menahan diri, bahwa ia memang menginginkan jabatan itu. Dalam hati saya bertanya-tanya: “how long can you go, Sir?”. Pertanyaan itu penuh kekhawatiran.

Dan perjalanan kebahagiaan memiliki jabatan dan kekuasaan itu akhirnya usai. Ketika pada Kamis pagi, 26 Januari 2017, berbagai broadcast di grup-grup WhatsApp membagikan kabar Patrialis Akbar tertangkap tangan menerima suap, memori saya tiba-tiba kembali pada suatu malam di bulan Oktober 2009 itu. Saya melihat diri saya sedang duduk di hadapan TV, menyaksikan Patrialis Akbar sujud syukur, dengan mulut saya sedikit ternganga.

Mungkin tidak banyak lagi kita dapatkan orang-orang yang masih mengucapkan “innailaihi wa innailaihi rojiun” ketika diberi amanah. Kebanyakan orang memang bergembira. Meskipun demikian, saya tidak tahu bagaimana ekspresi kegembiraan Patrialis Akbar ketika ia ditunjuk menjadi hakim Mahkamah Konstitusi oleh Presiden SBY. Tidak ada siaran langsung ketika itu.

Begitulah

Presiden Nigeria, Goodluck Jonathan, dilantik pada tahun 2010. Dalam pidato pelantikan, ia berkata: “Jabatan adalah musibah. Hanya ucapan innailaihi wa innailaihi rojiun yang layak mengiringinya”. Saya tidak tahu siapa lagi yang pernah mengatakan ini.

Pada tahun 2015, Goodluck Jonathan kalah dalam Pemilihan Presiden untuk periode kedua. Itulah untuk pertama kalinya ada Presiden Nigeria yang tidak terpilih pada periode kedua. Sebagian besar analis akan mengatakan ia gagal terpilih. Tetapi merasa, ia sebenarnya berhasil “membebaskan diri” dari beban tanggung jawab dengan cara terhormat.

Tentu saja, kita sedih dan prihatin dengan apa yang menimpa Patrialis Akbar. Saya bisa membayangkan bagaimana perasaan keluarganya saat ini. Adalah tidak elok kita ikut menambah beban yang mereka hadapi.

Namun demikian, secara pribadi saya ingin mengambil hikmah: “sujudlah sesuai kebutuhan”.(*)