Naomi Koshi: Walikota Wanita Termuda di Jepang

Naomi Koshi (source: www.asianspiegel.ch)

Naomi Koshi (source: www.asianspiegel.ch)

Kisah Naomi Koshi, wanita berusia 36 tahun di Jepang, bisa menjadi pembelajaran yang menarik tentang bagaimana kekuatan visi dipadu kesederhanaan memahami realitas dapat memikat warga dan pemilih. Koshi adalah politisi muda yang mengawali karir sebagai pengacara. Ia maju menjadi calon Walikota Otsu melalui jalur independen.

Kota Otsu terletak di tepi Danau Biwa, danau terbesar di Jepang, berpenduduk 341.684 jiwa, terletak sekitar 10 kilometer di utara Kyoto. Otsu adalah ibu kota kekaisaran Jepang tahun 667 – 672 M pada masa dinasti Asuka. Banyak bangunan bersejarah yang diakui sebagai World Heritage oleh UNESCO terletak di kota ini.

Koshi menawarkan program meningkatkan pariwisata, membantu kaum perempuan, dan memasukkan pelajaran bahasa asing dalam kurikulum sekolah. Program ini terkesan sederhana dan terlalu umum (common sense), tetapi Koshi mengemasnya dalam bentuk nyata sesuai kebutuhan warga Otsu.

Misalnya, untuk isu peranan perempuan, Koshi terinspirasi pengalaman hidupnya, dimana ibunya harus berhenti bekerja untuk merawat neneknya. Dan juga banyak teman wanita Koshi yang berhenti bekerja setelah melahirkan anak. Ia menawarkan dukungan agar para wanita dapat terus bekerja dalam kondisi apapun.

Untuk isu bahasa asing di sekolah, Koshi yang alumni Harvard Law School merasa miris dengan kenyataan bahwa sangat sedikit orang yang dapat berbahasa asing di Otsu.  Padahal, Otsu adalah kota wisata yang menjadi tujuan kunjungan bukan saja oleh warga Jepang tetapi juga oleh turis asing.  Baginya, mendorong kemampuan berbahasa asing bagi warga dapat memberi banyak peluang baru.

Pada pemungutan suara pada 22 Januari 2012, secara mengejutkan Koshi meraih 44,34% suara, jauh melampaui kandidat incumbent Makoto Mekata (36,20%) dan kandidat senior lainnya Masako Higashi (19,46%).

Koshi adalah kandidat termuda, belum berpengalaman, dan wanita. Ia mengalahkan Makoto Mekata, kandidat incumbent yang telah menjabat walikota dua periode (8 tahun), berusia 70 tahun, dan didukung para pengusaha. Terlebih lagi, selisih suara keduanya yang hampir mencapai 10 ribu suara.

Hasil pemilu ini juga menjadikan Koshi sebagai Walikota wanita termuda dalam sejarah Jepang.  Rekor sebelumnya dipegang oleh Kazumi Inamura, yang terpilih menjadi Walikota Amagasaki di Prefektur Hyogo pada usia 38 tahun di tahun 2010.

Dari berbagai faktor yang dapat menjelaskan terpilihnya Koshi, nampaknya penerimaan pemilih terhadap visi realistis menjadi faktor utama. Warga Otsu merasa bahwa visi yang ditawarkan Koshi lebih memenuhi kepentingan mereka. Visi sederhana yang dikemas dengan program yang membumi dan realistis terbukti mampu menarik simpati pemilih. (*)