Asal Mula Bulan Lampu-lampu a.k.a. Winter Illuminations di Jepang

Bulan Desember adalah saat datangnya musim dingin. Warga Jepang selalu mempunyai kebiasaan unik menyambut pergantian musim. Adakalanya, kebiasaan ini datang dari warisan leluhur. Namun tidak jarang kebiasaan-kebiasaan ini juga berasal dari adaptasi kehidupan modern yang masuk dan mempengaruhi masyarakat Jepang dalam waktu yang belum terlalu lama.

Salah satu tampilan lampu-lampu di Kota Osaka (Foto: Ishaq)

Salah satu tampilan lampu-lampu di Kota Osaka (Foto: Ishaq)

Salah satunya adalah illumination, atau pertunjukan lampu-lampu. Pada sepanjang bulan Desember (sebagian ada yang telah mengawalinya sejak Nopember) berbagai kota di Jepang dihiasi semarak lampu warna-warni. Biasanya, pengelola taman-taman, hotel-hotel dan mall-mall akan menghiasi halaman atau pohon-pohon dengan berbagai dekorasi lampu beraneka bentuk dan warna.

Pada beberapa tempat, pertunjukan lampu-lampu itu dilangsungkan dengan sangat spektakuler, melibatkan teknologi perlampuan yang cukup canggih.  Pertunjukan di Osaka Castle (disebut Osaka Castle 3D Mapping Super Illumination) ditampilkan dengan menjadikan bangunan Osaka Castle sebagai medium.  Berbagai efek cahaya dengan teknologi 3D ditampilkan, bahkan memberi efek seolah-olah bangunan Osaka Castle itu terbelah menjadi dua. Sungguh luar biasa.

Suasana penuh lampu-lampu ini sekarang telah menjadi semacam kebiasaan menyambut musim dingin.  Semakin tahun, kebiasaan ini makin meluas di berbagai kota Jepang. Di Kyoto sendiri, selain halaman-halaman hotel di sekitar down town, juga ada waktu khusus di pertengahan bulan Desember yang disiapkan untuk acara lampu-lampu ini.  Lokasinya di salah satu area taman hutan yang cukup terkenal di daerah Arashiyama.

Sejarah

Sejak kapan kebiasaan ini dimulai?  Sayangnya, saya tidak memiliki informasi mendetail (mungkin ini bisa menjadi tugas mereka yang mengkaji soal-soal sosial budaya atau sejarah ya…).  Tetapi informasi yang saya dapatkan menyebutkan bahwa festival illuminasi di Kobe pada tahun 1995 adalah festival iluminasi yang pertama kali diadakan di Jepang (tentu saja informasi saya ini bisa jadi keliru, jadi perlu diperiksa kembali).  Festival ini dinamakan Kobe Luminarie, dan memiliki kisah yang berasal dari bencana dahsyat. 

Kobe Luminaire Tahun 2011 (foto: Wikipedia)

Pada tanggal 17 Januari 1995, gempa bumi hebat meluluhlantakkan Kobe dan sekitarnya.  Gempa yang dikenal dengan nama Great Hanshin Earthquake ini menelan korban meninggal 6.434 jiwa. Sebanyak 4.600 diantaranya adalah penduduk Kobe.  Gempa ini juga membuat lebih 150.000 bangunan (sebagian besar di Kota Kobe) rata dengan tanah.

Kehancuran transportasi terjadi dengan ambruknya rel kereta api utama Hanshin Expressway.  Kehancuran jalur kereta dan subway ini menjadi berita yang menghiasi halaman depan berbagai media di dunia, sebab konstruksi rel kereta Jepang memiliki reputasi tahan terhadap gempa.  Selain itu semua, kerugian ekonomi akibat gempa ini diperkirakan mencapai US$ 102.5 milyar (atau sekitar 2.5% dari GDP Jepang ketika itu)!

Begitu dahsyatnya hentakan gempa bumi di Kobe sehingga pada masa-masa awal paska gempa, warga Jepang sempat dilanda kepedihan dan frustrasi mendalam.   Jepang adalah negara yang terbiasa dengan gempa sehingga negara ini sangat maju dalam hal teknologi early warning system dan teknologi bangunan konstruksi tahan gempa.  Selama bertahun-tahun, Jepang sangat bangga dengan keunggulan mereka dalam dua bidang ini.

Gempa Kobe bukan saja menghancurkan bangunan dan menelan korban jiwa.  Namun juga telah meluluhlantakkan kebanggaan tersebut.  Situasi pada fase-fase awal paska gempa sangat memprihatinkan.  Salah satu penyebabnya adalah Jepang tidak siap menghadapi kerusakan separah itu.  Pemerintahan yang dipimpin oleh Perdana Menteri Moriichi Murayama mendapatkan kritikan tajam, akibat lambat memobilisasi relawan, dan juga pada tahap awal menolak bantuan yang ditawarkan oleh Amerika Serikat, Korea Selatan, Inggris, dan Mongolia.  Semua itu adalah perpaduan dari bentuk ketidaksiapan dan rasa malu karena kehilangan harga diri.

Kobe Luminaire Tahun 2013 (Foto: Wikipedia)

Selama berbulan-bulan, warga Kobe hidup dalam kegelapan.  Selain dalam makna kontekstual, juga secara tekstual, akibat diputusnya aliran listrik, gas, dan air dalam jangka waktu cukup lama karena kerusakan infrastruktur.  Pada bulan Desember 1995, munculah gagasan untuk menyelenggarakan festival Luminarie.  Kata ini berasal dari bahasa Inggris “luminary” yang berarti: (a) benda yang menghasilkan cahaya; (b) seseorang yang menjadi inspirasi bagi orang lain.

Kobe Luminarie adalah kegiatan simbolik “menyalakan lampu” untuk warga Kobe, menerangi hari-hari mereka yang penuh kegelapan, memberikan isyarat bahwa masa depan yang terang akan datang, dan yang terpenting: mengirimkan pesan bahwa mereka tidak sendiri.  Lampu-lampu yang dinyalakan itu berasal dari sumbangan pemerintah Italia dan instalasi lampu-lampunya dikerjakan oleh desainer Valerio Festi (pemilik Studio Festi, Italia) dan Hirokazu Imaoka (seniman Jepang).  Sebanyak 200.000 lampu yang dilukis tangan menghiasi festival ini.

Pada awalnya, Kobe Luminaire dipersiapkan untuk sekali pertunjukkan saja.  Akan tetapi, perhatian dan simpati yang begitu besar, serta permintaan dari warga Kobe sendiri yang begitu terinspirasi, mendorong pertunjukkan ini menjadi acara tahunan.  Paska gempa, pariwisata Kobe adalah sektor yang juga luluh lantak.  Namun, Kobe Luminarie telah menjadi atraksi wisata baru, yang mengundang pengunjung semakin banyak.  Setiap tahun , Kobe Luminarie dikunjungi oleh 3,5 juta wisatawan, dan menghasilkan donasi sekitar US$ 1.3 juta, dan mendatangkan keuntungan dari sponsorship dan penjualan merchandise mencapai US$ 6.1 juta.

Kini, acara menyalakan lampu telah menjadi sesuatu yang menyebar luas di Jepang.  Di mulai pada bulan Nopember, puncaknya pada bulan Desember.  Di beberapa tempat, ada yang berakhir pada bulan Januari, namun ada juga yang mempertahankannya sampai bulan Februari, hingga momentum valentine.  Mungkin banyak orang yang tidak mengetahui bahwa menyalakan lampu yang kini menjadi hiburan itu, pada awalnya adalah sesuatu yang mengandung makna simbolik begitu dalam.  Di Jepang, setiap hal yang menyentuh perasaan dan memiliki nilai manusiawi mendalam biasanya langgeng untuk waktu yang lama. (*)

Berikut beberapa tampak iluminasi di Jepang. Sumber foto: Niigata (www.japan-attractions.jp), Kyomizudera, Shiodome, dan Keyaizaka Street (www.japan-guide.com)

Illumination di Niigata

Kyomizudera in Kyoto

Shiodome, Tokyo

Keyakizaka Street in Roppongi Hills