Demonstrasi Anti Perang dan Budaya Kawaii

Jumlahnya sekitar 50-an orang. Ada anak muda, orang tua, laki-laki dan perempuan. Mereka long march sambil orasi via megaphone, membawa puluhan spanduk, poster, dan alat peraga lain. Ya, mereka adalah sekumpulan warga Jepang yang sedang berdemonstrasi di tengah keramaian pusat perbelanjaan di Kyoto, di area Kawaramachi.

Demonstrasinya sendiri biasa saja. Sangat standar negara maju yang penuh kesantunan. Rombongan ini hanya menggunakan sebagian kecil badan jalan, sehingga tidak membuat macet. Juga ketika dipersimpangan jalan ada lampu merah bagi pejalan yang menyala, mereka ikut berhenti.

Tapi ada satu hal menarik bagi saya. Di antara belasan poster dan alat peraga, ada satu yang dilengkapi gambar Anpanman, tokoh kartun yang usil itu. Tentu ada maksud tertentu mereka menyertakan Anpanman dalam demonstrasi pro perdamaian.

Akhir-akhir ini, banyak warga Jepang menilai PM Shinzo Abe sedang tersesat dalam sikap agresif dan ingin membawa-bawa Jepang dalam konflik bersenjata lagi. Sudah 70 tahun warga Jepang merasa damai. Juga banyak warga yang dilanda kengerian setiap membaca kisah-kisah perang Jepang di masa lalu, terutama Perang Dunia II. Kebijakan PM Abe membuat warga merasa terancam dan khawatir akan masa depan prinsip cinta dama (pasifis) Jepang.

Terus terang, saya agak sulit menemukan hubungan kehadiran Anpanman dalam demonstrasi kali ini. Tapi ada beberapa dugaan saya.

Pertama, Anpanman adalah tokoh kartun yang merepresentasikan anak-anak. Konflik dan perang merupakan ancaman bagi masa depan. Dan anak-anak adalah representasi masa depan.

Kedua, bisa jadi demonstrasi ini numpang ketenaran Anpanman. Maklumlah, unjuk rasa di Jepang, apalagi di Kyoto, sangat tidak menarik perhatian. Anpanman berjuta kali lebih populer. Karakter ciptaan Takashi Yanase ini merupakan figur paling populer pada anak-anak usia 0-12 tahun selama 10 tahun berturut-turut (2001-2011). Tidak anak Jepang tidak mengenal Anpanman, bahkan mayoritas mengoleksi berbagai atributnya.

Ketiga, ini agak menarik, faktor “kawaii culture” atau budaya imut-imut. Orang Jepang sangat gandrung dengan hal-hal yang “cantik, mungil, lucu, imut-imut” digabung jadi satu. Di tempat konstruksi atau pekerjaan jalan (yang konotasinya “keras”) tidak jarang kita temui instrumen yang didesain lucu dan imut, misalnya pembatas berbentuk kelinci. Anpanman diposter unjuk rasa ini juga, bisa jadi, merupakan representasi kawaii culture.

Menarik sebenarnya mengulas kawaii culture ini. Mungkin nanti di postingan yang lain dih… 🙂

View on Path