Gubernur dan Kelakarnya

“Katanya ada yang mau keluar dari Sulawesi Selatan ini, kenapa tidak sekalian keluar dari Indonesia,” kata Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman. Ia mengucapkan itu sambil ketawa kecil, menunjukkan bahwa ia sedang bercanda.

Peristiwa itu terjadi pada puncak peringatan Hari Ulang Tahun ke-19 Kabupaten Luwu Timur, pada Kamis (12/5/2022). Gubernur ASS sedang mengomentari pembangunan infrastruktur jalan ke daerah Rampi di Luwu Utara yang tidak kunjung terealisasi. Warga Rampi merasa tidak diperhatikan hingga mengancam akan keluar dari Sulsel.

Belakangan, candaan Pak Gubernur viral di media sosial. Banyak kalangan yang mengkritik Pak Gubernur, menudingnya tidak piawai berkomunikasi politik. Banyak juga yang menilai beliau tidak memiliki empati.

Namun setiap peristiwa selalu memiliki dua atau lebih sisi. Para analis bisa saja memberi penilaian berdasarkan persepsi atau insersi kepentingan dalam dirinya. Meskipun kemudian diberi label “penilaian obyektif”, namun terminologi ini bersifat kontekstual. Obyektif bagi satu perspektif, bisa jadi berbeda dengan obyektif perspektif lainnya.

Akibat pernyataan Pak Gubernur, isu jalan 80 km dari Masamba (ibu kota Luwu Utara) menuju Rampi, kini jadi pembicaraan dimana-mana. Dan seharusnya para penggiat pembangunan fokus membesarkan isu tersebut. Mumpung ada momentum akibat kelakar Pak Gubernur.

Pada satu sisi, mungkin benar bahwa kelakar tersebut mengandung elemen kelemahan komunikasi politik. Tapi di sisi lain, praktisi komunikasi pembangunan seharusnya memanfaatkan peristiwa ini sebagai hikmah (blessing disguise). Hal yang kurang dioptimalkan.

Setelah kelakar ini viral, Partai Nasdem Sulsel cepat-cepat cari muka ke masyarakat. Ketua Partai Nasdem Sulsel segera mengerahkan alat berat untuk mempercepat pembukaan akses ke Rampi. Juga disertai pernyataan siap berkontribusi untuk pembangunan jalan yang jadi polemik. Alhamdulillah, terima kasih Nasdem.

Bupati Luwu Utara, Indah Putri Indriyani, yang selama ini sendiri dan kesepian membangun daerahnya, khususnya Rampi, kini memiliki banyak kandidat kolaborator. Setidaknya, kini banyak pihak ramai-ramai membahas Rampi. Ini hal baik, tentu saja.

Menurut saya, sudahi polemik komunikasi politik Gubernur ASS. Sekarang saatnya kita bergeser ke isu fundamental bagi warga Rampi. Pastikan warga Rampi tetap menjadi bagian dari Sulsel dan Luwu Utara. Ajak mereka untuk sama-sama berpartisipasi. Ramaikan hashtag #janganpergiRampi.(*)