Pembacaan Do’a, Antara Ritual dan Seremonial

Tanggal 25 Maret 2017 lalu, saya mengikuti acara Pelantikan Pengurus salah satu organisasi sosial. Pada susunan acara yang dibacakan protokol, terdapat item “Pembacaan Do’a” dibagian akhir. Tentu saja, susunan acara seperti ini sangat lazim kita temui. Para penyusun acara selalu merasa tidak lengkap (atau merasa berdosa?) jika acara yang mereka persiapkan tidak ditutup dengan do’a.

Akan tetapi kali ini ada yang berbeda. Memasuki penghujung acara, protokol mempersilahkan seseorang untuk tampil ke mimbar dan memimpin pembacaan do’a. Begitu tiba di mimbar, sang lelaki segera mengucapkan salam, lalu membaca basmalah.

Pada saat begini, audiens biasanya segera diam, menciptakan suasana hening, lalu beberapa orang mulai menunduk. Begitu juga kali ini. Sebagian audiens mulai menengadahkan tangan, bersiap melaksanakan ritual berdo’a.
Tanpa disangka, lelaki muda di mimbar itu berucap: “marilah kita menundukkan kepala sejenak, berdo’a sesuai agama dan kepercayaan masing-masing, serta sesuai permintaan dan harapan masing-masing. Do’a dimulai….”

Sekitar 1 menit kemudian, ia kembali berucap: “…Do’a selesai. Terima kasih. Assalamu alaikum warahmatullaahi wabarakatuh…”. Dan diapun kembali ke tempat duduk semula.

Orang-orang sontak tertawa. Beberapa bersorak. Lalu ramai-ramai memberi tepuk tangan sambil berdiri kepada sang pembaca do’a.

Tiba-tiba ada semacam kesadaran yang mengusik pikiran saya.

Coba kita ingat-ingat kembali. Setiap item “pembacaan do’a” pada kebanyakan acara yang kita hadiri, selalu ada pembaca do’a yang monopolistik. Pertama, ia tidak peduli bahwa diantara audiens ada orang-orang berbeda agama, berbeda keyakinan, yang cara berdo’anya juga beda. Tetapi pembaca do’a akan memimpin do’a dengan cara agama tertentu (kebanyakan dengan cara Islam). Baik pengarah acara maupun pembaca do’a memiliki asumsi mayoritas yang sama, yaitu sebagian besar yang hadir beragama sama. Jika ada hadirin beragama tidak sama, itu bukan urusan kita. Itu masalahnya. Ia bisa berdo’a sendiri.

Kedua, pembaca do’a nampaknya yakin bahwa semua hadirin, atau sebagian besarnya, memiliki harapan dan keinginan yang sama. Sehingga ia, sang pembaca do’a itu, akan melafalkan do’a untuk diaminkan oleh semuanya. Padahal, bisa saja ada sebagian yang hadir memiliki harapan tersendiri. Dalam kasus ini, orang-orang tidak boleh berbeda harapan.

Selama ini memang do’a yang dilafalkan dari mimbar suatu acara selalu saja do’a yang baik-baik. Ya, do’a memang harusnya begitu. Tetapi, kita mestinya ingat juga bahwa kebaikan itu ada kadarnya. Setiap orang bisa memiliki kadar kebaikan yang berbeda terhadap suatu hal.

Saya pikir, anak muda pembaca do’a tadi sedang berusaha mengembalikan fungsi do’a sebagai manifestasi beragama. Bahwa, pada batas-batas tertentu, urusan dengan Tuhan adalah wilayah privat. Tentu saja, pandangan ini akan sangat penuh kontroversi, banyak mengandung debat.(*)