Archives May 2020

Kedatangan Petugas Kesehatan Ber-APD Lengkap

Anak saya tiba di Makassar pada Senin, 13 April 2020 tengah malam. Perpulangannya bersama para santri Pesantren Modern Darussalam Gontor (PMDG) berlangsung dengan protokol kesehatan yang ketat. Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Gontor dan Satgas Covid-19 menangani proses ini di Bandara Hasanuddin.

Sebagai orang yang paham situasi dan protap pencegahan Covid-19, saya berinisiatif melaporkan kedatangan anak saya ke Puskesmas terdekat. Hari Selasa, 14 April pagi, saya datang membawa dokumen-dokumen pemeriksaan kesehatan dari daerah asal. Saya juga ceritakan prosedur yang telah dilewati sejak dari Ponorogo hingga tiba di Makassar.

Petugas yang menerima tampak senang. Ia mendata dan memberikan petunjuk (yang sebagian besar sudah saya pahami). Di rumah, anak saya telah mulai isolasi mandiri. Proses ini akan berlangsung selama 14 hari.

Setiap hari, saya mengukur sendiri suhu tubuh anak saya, dan mencatatnya pada selembar kertas. Angka termometer selalu berkisar pada 36.2° hingga 36.8° Celcius.

Pada hari kesembilan, angka termometer tiba-tiba melonjak, 37.5°C. Tentu saja saya kaget. Hari itu, suhu saya ukur setiap 4 jam, sebanyak 3 kali. Angka termometer di atas 37°C.

Selama tiga hari, suhu tubuh anak saya di atas 37°C. Kadang 37.3° paling rendah 37.1°. Saya pikir, ini ada yang salah. Badan anak saya tidak terasa hangat kalau dirasa dengan tangan. Maka, saya teringat pada istilah “second opinion”. Segera saya membeli termometer baru. Sekaligus dua, digital dan manual.

Ternyata, termometer yang selama ini digunakan tidak berfungsi normal. Suhu tubuh anak saya menurut termometer baru (digital dan manual) ada diangka 36.7°C. Sementara pemgukuran dengan termometer pertama tadi angkanya 37.3°C.

Lega rasanya. Apalagi anak saya tidak ada gejala batuk, pilek, atau sesak napas. Hingga hari ke-14, suhu tubuh anak saya dibawah 36.8°C.

Petugas Kesehatan

Selasa, 28 April, sekitar pukul 09.30 pagi, istri saya terkejut. Di depan rumah, lima petugas Puskesmas datang, tiga diantaranya memakai Alat Pelindung Diri (APD) lengkap. Itu pakaian yang mirip astronot. Warga sekitar heboh.

Saya keluar menemui mereka. Seorang diantaranya mengatakan hendak memeriksa kesehatan anak saya yang tiba dari Ponorogo 14 hari lalu.

Meskipun saya paham prosedur, tapi baru kali ini saya merasakan langsung dampak psikologis didatangi tenaga kesehatan ber-APD lengkap. Tiba-tiba timbul perasaan tidak enak, merasa jadi suspek di mata warga yang melihat dari jauh. Apalagi, mereka datang menggunakan mobil ambulans.

Sambil memanggil anak saya dari kamarnya, saya sempat bilang ke petugas itu: “kenapa mesti pakai APD lengkap begini, Bu?”

“Ini prosedurnya, pak. Kami harus memeriksa setelah 14 hari,” kata seorang petugas.

“Ya, saya paham. Tapi itu kan warga jadi heboh. Kenapa tidak telepon saja saya, supaya anak saya ke puskesmas,” kata saya kurang enak.

“Kami harus memeriksa semua anggota keluarga, pak,” jelasnya.

“Lha, kan saya bisa membawa semua anggota keluarga ke Puskesmas,” tepis saya, tapi tidak berniat lagi melanjutkan debat. Nanti malah dikira melawan petugas. Bisa bikin heboh.

Petugas Puskesmas ini kemudian memeriksa suhu tubuh semua orang di rumah. Benar-benar hanya periksa suhu tubuh saja. Sambil bertanya apakah ada yang flu, batuk-batuk, dan sesak napas. Hanya itu saja.

Sementara di luar sana, warga makin banyak yang melihat dari jauh. Saya berpikir cepat. Sosok petugas kesehatan ber-APD lengkap seperti ini pasti menimbulkan kesan kurang baik. Seolah-olah orang yang dikunjungi itu bersalah.

Maka, untuk mencairkan suasana, cepat-cepat saya meminta istri untuk foto-foto. Kita ingin tunjukkan kesan senang dikunjungi, tidak ada yang perlu ditakuti, pemeriksaan seperti ini hal biasa.

Untungnya, para petugas ini cukup paham. Salah seorang juga menyodorkan HP-nya dan minta foto bareng.

Ketika akan meninggalkan rumah kami, mereka malah sempat dadah dadah kepada kami dan warga yang ada di sekitar. Beberapa lama setelah kepergian mereka, sebagian warga masih berkerumun dan mengajak saya ngobrol.

Begitulah drama kedatangan petugas medis ber-APD lengkap. Saya merasa, ada transformasi ketakutan yang tersebar bersama pakaian itu.(*)

Santri Gontor

Ketika Pesantren Darussalam Gontor Lock Down

Ketika wabah Covid-19 akhirnya masuk ke Indonesia, saya intensif memantau perkembangan Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor (PPMDG) di Mlarak, Pronorogo. Pesantren ini biasa disebut Gontor Pusat atau Gontor Satu. Di sini Kantor Pusat PPMDG berada. Anak sulung saya, Zaidaan, adalah santri kelas satu.

Pada minggu-minggu pertama di bulan Maret, penambahan kasus relatif lambat. Penyebabnya, kemampuan melakukan pengujian yang masih sangat terbatas. Hanya dalam waktu dua minggu setelah kasus pertama terkonfirmasi, jumlah pasien positif Covid-19 mencatat angka 117 pada 15 Maret 2020.

Di berbagai media, kabar Covid-19 menjadi trending topik. Setiap waktu, berita-berita kasus baru, pencegahan, penanganan, dan debat sana-sini menjadi bahan berita.

Sementara di Gontor, tanggal 15 Maret ini beredar surat dari pimpinan PPMDG bahwa area pesantren dinyatakan sebagai kawasan tertutup dari interaksi dengan pihak luar. Siapa saja dilarang masuk ke kawasan Pesantren Gontor, termasuk orang tua. Bahkan, paket-paket kiriman yang datang dihentikan.

Ada bangunan di Gontor I bernama Gedung Satelit. Ini adalah Balai Penerimaan Tamu atau Bapenta. Gedung empat lantai menjadi tempat menginap ratusan hingga ribuan orang tua santri yang datang mengunjungi anak-anaknya.

Pembatasan Sosial ala Gontor

Tanggal 16 Maret, beredar pengumuman bahwa dalam 1 x 24 jam, Gedung Satelit harus dikosongkan. Para orang tua santri diminta untuk segera meninggalkan Gedung Satelit, tidak mengadakan kontak fisik dengan santri dan guru-guru serta pengasuh, dan tidak berada di area Pesantren Gontor sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

Pengumuman Pengasuh Santri di Gontor Pusat.

Keliatannya, para kyai, pimpinan PPMDG, dan para pengasuh paham betul makna wabah, sebagaimana yang umum dibahasakan pada berbagai kajian islami: “jika ada wilayah terkena wabah, jangan masuk ke wilayah itu. Jika berada di situ, jangan keluar”. Gontor berlakukan lock down!

Meskipun cukup was-was, namun saya sebagai orang tua merasa lebih tenang. Karena sering terlibat dalam pembahasan terkait Covid-19 sejak awal wabah, saya memiliki cukup pemahaman dasar tentang bagaimana menghindari terpapar dan memaparkan virus ini. Kuncinya adalah membatasi interaksi dan sentuhan dengan pihak lain.

Dengan asumsi bahwa seluruh santri (jumlahnya ada ribuan) di Pondok Pesantren Gontor Pusat masih bebas dari virus, maka langkah memutuskan interaksi dengan pihak luar adalah upaya preventif yang tepat. Apalagi, melalui informasi di media sosial dan grup-grup WA pondok, terasa benar bagaimana kepedulian para pengasuh dan guru-guru dan terhadap kesehatan dan keselamatan para santri.

Anak-anak sedang memasuki persiapan ujian akhir tahun. Ini adalah ujian yang menentukan, untuk mengetahui hasil belajar selama selama satu tahun.  Usai ujian, para santri akan “libur”. Santri kelas 1 hingga 4, akan pulang ke tempat asal selama kurang lebih 50 hari. Itu adalah jadwal pada situasi normal.

Perpulangan ke Tempat Asal

Menurut rencana, perpulangan santri asal Makassar (termasuk Zaidaan) akan berlangsung pada tanggal 13 April. Meskipun demikian, masih ada beberapa hal yang perlu diperhitungkan oleh pengasuh dan guru-guru. Keputusan akhir akan diambil oleh Kyai, pimpinan PPMDG, untuk memutuskan apakah perpulangan para santri akan berlangsung sesuai jadwal, ditunda, atau dibatalkan.

Di berbagai tempat, kasus-kasus terkonfirmasi terus meningkat. Selain itu, pemerintah nampaknya kelabakan mengambil kebijakan pembatasan sosial, akibat respon masyarakat yang nampaknya belum sepenuhnya memahami bagaimana mengatasi sebaran wabah. Di Makassar, situasi mengkhawatirkan terasa dimana-mana.

Sebagai orang tua, saya merasa anak saya lebih aman dan terlindungi jika berada di dalam wilayah pondok yang telah memutuskan interaksi dengan dunia luar. Rasanya, akan lebih aman jika Zaidaan tetap tinggal di pondok saja selama masa pandemi. Akan tetapi, saya paham bahwa keputusan itu tentu sulit, terutama bagi Zaidaan sendiri. Ia dan anak-anak santri lain telah lama mengidamkan dapat pulang sejenak, lepas dari rutinitas pondok yang nyaris tanpa waktu senggang.

Hingga akhirnya, keputusan dari Kyai datang. Perpulangan para santri tetap berlangsung sesuai jadwal, namun dengan protokol yang lebih ketat.  Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Gontor di Makassar, yang akan mengkoordinir perpulangan ini, juga tidak kalah sigap. Segera para pengurus berkoordinasi dengan Gugus Tugas Covid-19 Sulsel.

Maka, pada pukul 00.30 tanggal 14 April, Zaidaan tiba di Makassar. Karena saya paham prosedur pencegahan Covid-19 dengan baik, Zaidaan otomatis berstatus Orang Dalam Pemantauan (ODP). Ia harus menjalani isolasi mandiri di rumah selama 14 hari ke depan.(*)