Archives January 2020

Donald Trump

Trump Mungkin Bertahan, Namun 2020 Akan Berat

Di tengah hiruk pikuk perang dagang Amerika Serikat dan China, DPR Amerika yang dipimpin oleh Nancy Pelosi setuju untuk meng-impeach Presiden Donald Trump. Keputusan politik yang diambil pada 18 Desember 2019 waktu Washington itu membuka kemungkinan-kemungkinan baru dalam politik Amerika.

Secara formal, proses impeachment akan berlanjut di Senat, yang akan bersidang pada pertengahan Januari 2020. Melihat komposisi Senat yang didominasi oleh Partai Republik (partai pendukung Trump), banyak kalangan yakin jika proses impeachment ini akan terhambat. Dari 100 Senator Amerika, 53 diantaranya berasal dari Partai Republik, sementara 45 lainnya dari Partai Demokrat, ditambah 2 Senator independen.

Berbeda dengan aturan di DPR yang hanya membutuhkan 50% plus 1 untuk mengambil keputusan pemakzulan, proses di Senat membutuhkan 2/3 suara mayoritas, atau 67 suara. Dengan asumsi Partai Demokrat bisa menguasai independen, maka masih dibutuhkan 20 Senator yang membelot dari Partai Republik. Hal yang cukup mustahil.

Proses impeachment ini bukan saja urusan politik harian. Meskipun banyak kalangan, termasuk demokrat, tidak yakin impeachment akan berhasil, namun proses konstitusional ini tetap didorong. Dampak yang sebenarnya akan terasa adalah pada efek elektoral.

Tahun 2020 ini, Amerika Serikat akan melalui pemilihan presiden. Donald Trump dapat dipastikan akan kembali mencalonkan diri. Posisi Trump yang telah memperoleh persetujuan DPR untuk dilengserkan sudah pasti akan dijadikan lawan-lawan politik untuk menyerangnya. Jadi, meskipun Trump tetap bertahan di Senat, ia akan menghadapi tahun politik yang berat.

Jelang Pemilu 2020

Sistem pemilu di Amerika Serikat memang unik.  Seseorang yang memperoleh suara pemilih terbanyak (popular vote) bukan merupakan jaminan akan terpilih sebagai pemenang.  Ada kalkulasi berkaitan dengan bobot dari suara pemilih pada setiap daerah pemilihan (electoral college). Kisah tentang ini lumrah terjadi.

Pemilihan Presiden Amerika Serikat memang masih lama. Menurut jadwal, akan berlangsung pada 3 November 2020, masih 11 bulan lagi.  Menghadapi masa-masa itu, akan ada banyak kejutan dari Donald Trump, baik kebijakan domestik maupun internasional.  Apalagi, Donald Trump selama ini dikenal sebagai Presiden Amerika yang lebih banyak membawa kebingungan dalam kebijakannya.

Tetapi yang lebih unik lagi adalah pemilih di Amerika. Meskipun masyarakat Amerika dikenal relatif rasional, namun dalam hal pilihan politik, ada banyak variabel yang mempengaruhi.(*)

Jakarta Sudah Habis Sejak 1992

Tahun 1992, Iwan Fals yang konon mulai “melunak” meluncurkan album berjudul Hijau. Pada album itu, terdapat single berjudul “Lagu Dua”.

Iwan Fals mengkritik habis Jakarta. Syair pembukanya adalah: “Jakarta sudah habis….”

Keseluruhan lagu ini mencerca Jakarta, dengan gaya khas Iwan Fals. Coba simak syair-syair berikut:

Jakarta sudah habis
Musim kemarau api
Musim penghujan banjir

Jakarta tidak bersahabat
Api dan airnya bencana
Entah karena kebodohan kecerobohan
Atau keserakahan

Jakarta sudah habis
Diatasnya berdiri bangunan bangunan industri
Disekitar bangunan bangunan itu
Bangunin bangunin memproduksi belatung

Jakarta sudah habis
Warna tanahnya merah kecoklat coklatan
Mirip dengan darah
Mirip dengan api
Mirip dengan air mata

Tanah Jakarta sedang gelisah
Jangan lagi dibuat marah
Tanah Jakarta sedang gelisah
Jangan lagi dibuat marah

Jakarta sudah habis
Dijalan jalan marah ( Dijalan )
Dijalan marah marah
Dirumah rumah marah ( Dirumah )
Dirumah marah marah
Apa enaknya ?

Jakarta sudah habis
Empat puluh persen rakyatnya
Beli air dari PAM
Sisanya gali sendiri

Persoalannya gali pakai apa ?
Tentu saja gali pakai duit
Duitnya terbuat dari air mata asli

Jakarta sudah habis

Sebentar lagi kita akan menjual
Air mata kita sendiri
Karena air mata kita
Adalah air kehidupan

Jakarta sudah habis
Tetapi Indonesia bukan hanya Jakarta

Membaca syair lagu itu, rasanya telat bagi segala diskusi dan perdebatan ditengah suasana banjir hari-hari ini. Situasi Jakarta sekarang adalah situasi yang sudah ada sejak 28-30 tahun lalu.

Iwan Fals menyuarakannya melalui lagu. Namun ada banyak pakar yang telah menuangkan kekhawatiran itu melalui artikel ilmiah, atau para teknokrat yang menuliskannya dalam paper kajian kebijakan publik.

Jakarta sudah habis. Jakarta sedang gelisah. Tanah Jakarta tidak bersahabat. Itu telah ada sejak 30 tahun lalu.

Dan hari ini, kita masih berdebat soal Anis dan Ahok.

Padahal, seperti kata Iwan Fals, “Indonesia bukan hanya Jakarta”.(*)