Archives May 2019

Bahaya Laten Memelihara Prasangka

Dalam bahasa Inggris, prasangka dimaknai sebagai prejudice. Istilah ini populer dalam dunia psikologi, menggambarkan perasaan yang dimiliki oleh seseorang terhadap orang lain yang tidak berdasarkan fakta utuh.

Setiap orang memiliki perspektif dalam dirinya, yang dibentuk oleh banyak faktor: pengetahuan, pengalaman, nilai sosial, afiliasi politik, gender, kelas sosial, usia, agama, ras, bahasa, pekerjaan, dan berbagai karakter personal lainnya. Hal ini berpengaruh terhadap cara ia menilai orang lain, positif atau negatif.

Seseorang yang pernah alami pengalaman buruk dalam kehidupan asmara, akan cenderung menilai lawan jenis dengan penuh kecurigaan. Ketika ada hal kecil saja yang mendukung prasangka buruk terhadap lawan jenisnya, ia mempertahankan prasangka itu sebagai kebenaran. Hal baik yang besar akan tertutupi oleh fakta kecil.

Harper Lee, dalam To kill a mockingbird, mengatakan:

People generally see what they look for, and hear what they listen for.

Disinilah persoalan hubungan sosial bermula. Ketika memiliki prasangka buruk terhadap orang lain, maka seseorang tanpa sadar membentuk penjara bagi dirinya. Ia akan selalu mencari sisi buruk orang lain. Karena hal buruk yang dia cari, maka hal buruklah yang akan selalu ia temukan.

Ada kisah tentang dialog Buya Hamka dengan seseorang yang mengatakan bahwa “di Mekkah saja ada pelacur”. Hamka menjawab, ia baru saja dari Los Angeles dan New York, dan ia tidak menemukan satupun pelacur di Amerika.

Orang itu mengatakan, tidak mungkin. “Amerika adalah sarangnya pelacuran”.

Buya Hamka menjawab: “setiap orang akan selalu menemukan apa yang ia cari. Jika yang kamu cari adalah hal buruk, maka kemanapun kamu pergi akan kamu temukan hal buruk. Sebaliknya, jika yang kamu cari adalah hal baik, maka kamu akan menemukan kebaikan dimanapun”.

Menjauhi Prasangka

Seseorang yang memiliki prasangka dalam dirinya akan memiliki beban berlipat ganda. Ia akan sulit menemukan kebaikan orang, dan akan memendam ketakutan menerima hal baru.

Di sisi lain, seseorang lain yang diberi stigma buruk berdasarkan prasangka buruk, akan terus menjadi sosok buruk dalam imajinasi. Alangkah repotnya menjadi orang yang selalu dituduh buruk dan salah, meski hanya oleh satu dua orang saja. Bagi pribadi yang peduli, tuduhan buruk dari orang lain bukan soal jumlah, namun soal nilai.

Bagaimana menghindari prasangka dalam diri kita?

Ada banyak teori psikologi yang menelaah hal ini. Namun, saya pribadi menilai langkah awal yang paling penting adalah membangun komunikasi dengan pikiran jernih. Belajarlah untuk selalu mencari hal baik dari sisi orang lain, seperti pesan Buya Hamka.

Tentu saja, itu bukan langkah mudah. Tapi langkah itu selalu mungkin. Tinggal kita mau atau tidak mau saja.(*)

Tong Susu dan Kim Teng di Pekanbaru

Tiba sekitar pukul 18.30 WIB di Pekanbaru yang diguyur hujan. Perjalanan sekitar enam jam (termasuk lay over sekitar dua jam) cukup menguras energi.

Setelah pertemuan pendahuluan usai, saya menyalakan radar tempat minum kopi. Di google map, terdapat beberapa tempat yang tidak jauh. Tapi, seperti biasa, sumber informasi terbaik selalu saja dari warga lokal.

Beberapa nama tempat yang disarankan cukup menarik. Saya memutuskan untuk mencoba Tong Susu, karena lokasi yang dekat dan nama yang unik. Pada malam yang mulai larut seperti ini, sebaiknya memang tidak mencari tempat yang jauh.

Juga ada informasi tentang Kim Teng, kedai kopi legendaris di kota ini. Namun, lagi-lagi, karena alasan waktu yang telah cukup larut, maka tempat ini tidak bisa menjadi pilihan. Kata warga, Kim Teng punya beberapa cabang. Ada yang tutup jam 12 siang, ada juga yang jam 10 malam.

Tong Susu

Sesuai namanya, kedai ini menyajikan susu sebagai sajian utama. Tapi ini bukan sembarang susu, melainkan susu sapi murni. Lokasinya tidak jauh dari Hotel Pangeran tempat saya menginap, hanya sekitar 3 menit jalan kaki.

Saya tiba sekitar pukul 22.30. Kedai tidak terlalu ramai, mungkin karena ini adalah hari kerja. Atau mungkin juga karena memang sudah larut. Kata pramusaji, kedai ini tutup jam 24.00, last order jam 23.30.

Cukup jarang mencoba kopi dengan campuran susu sapi murni. Di banyak warkop, kopi umumnya dicampur dengan sweetener yang entah kenapa disebut susu. Tapi disini, kopi dicampur dengan susu murni yang tentu saja sehat.

Konon, Tong Susu telah ada sejak tahun 2011. Ketika itu, kedai ini terletak di Jalan Nanas, satu-satunya tempat minum susu sapi murni. Menurut kasir, kedai di jalan Sudirman ini baru berdiri dua tahun, pindahan dari Jalan Nanas.

Nampaknya, bangunan kedai yang ini memiliki histori tersendiri. Terdapat tulisan yang menjelaskannya. Terlihat di atas bangunan untuk non smoking area, tulisan “berdiri sejak tahun 60-an, tempat ini diberi nama GUDANG ASAP”.

Harga minuman cukup murah. Segelas kopi susu Rp. 14.000,-. Tapi rasanya otentik. Mungkin karena dominasi susu yang hendak ditonjolkan, jenis kopi yang digunakan tidak terkenali. Aromanya hilang, berganti aroma susu sapi murni.
.
Kopi yang sebenar-benarnya susu.

Kim Teng

Esok harinya, 24 April, usai workshop sehari penuh yang melelahkan, saya memutuskan akan berkunjung ke Kedai Kim Teng. Sudah banyak orang menceritakan tempat ini. Saya googling, nama ini rupanya memang populer.

Kopi Kim Teng adalah rekomendasi warga lokal ketika kita bertanya kedai kopi di Pekanbaru.

Kedai ini awalnya di tepi Sungai Siak, sudah ada sejak tahun 1950-an. Sekarang, Kopi Kim Teng telah memiliki gerai di beberapa mall di Pekanbaru. Kedai yang aslinya terdapat di daerah Senapelan, namun beroperasi jam 06.00 hingga 12.00 siang hari saja.

Menunya yang utama adalah kopi susu dan roti bakar srikaya. Juga ada telur setengah matang. Menu yang sama persis dengan Kopi Phoenam, juga legendaris di Makassar.

Menurut cerita supir taksi online yang membawa saya, Kopi Kim Teng aslinya di Jalan Senapelan itu selalu ramai. “Ada puluhan mungkin sampai seratusan kursi disitu. Tapi kalau datang jam 9 atau jam 10 seringkali pengunjung harus antri,” kata pak supir.

Karena datang sore hari, kedai aslinya tutup. Sedikit berat hati, saya berkunjung ke kedai yang beroperasi di Senapelan Plaza, tidak jauh dari kedai yang asli.

Menurut pelayan disini, kopi yang disajikan adalah Arabika dari Kerinci. Namun, saya mendapatkan rasa asamnya telah tenggelam oleh campuran susu instan. Rasa kopinya jadi khas, tidak terlalu manis. Nampaknya, pembuat kopinya mengetahui campuran yang seimbang.

Rasa kopi yang khas membuat pikiran jadi ringan.(*)