Archives July 2018

Pembacaan Data Pribadi Semakin Kritikal

Ini pengalaman pribadi. Sejak tahun lalu, setiap kali membuka aplikasi-aplikasi di telepon genggam, selalu muncul iklan yang menyentuh hati. Di sosial media dan media-media online, berseliweran iklan baju kaos, topi, atau scarf dengan desain bertuliskan: “Ayah terbaik lahir di bulan Oktober” atau “Suami terbaik lahir di bulan Oktober“.

Bagaimana tidak menyentuh hati, saya lahir di bulan Oktober. Dan saya adalah ayah yang bangga memiliki empat anak, juga suami yang memiliki istri hebat.

Hari ini, iklan baju kaos yang muncul makin menohok hati: “ayah terbaik lahir di bulan Oktober 1972”. Wow, gue banget, kata hati saya.

Iklan yang menyentuh hati ini membuat saya berpikir cepat: benarkah ayah terbaik atau suami terbaik lahir di bulan Oktober 1972? Logikanya bagaimana?

Maka, sayapun Googling.

Ternyata, ayah terbaik (atau suami terbaik) itu lahir di semua bulan sepanjang tahun. Pencarian Google banyak menampilkan pabrik atau desainer baju kaos yang menawarkan produk dengan embel-embel “ayah terbaik lahir di bulan bla bla bla“.  Lebih spesifik lagi, hasil pencarian paling menyolok menampilkan toko-toko online yang menawarkan produk demikian.

Mengapa iklan yang muncul di HP yang saya gunakan begitu spesifik dan detail?  Dugaan saya spontan tertuju kepada isu yang sedang marak akhir-akhir ini: “keamanan data pribadi di internet”.

Saya membayangkan suatu routine yang sedang berlangsung seperti ini:

HP saya, yang sejatinya adalah benda mati dan seharusnya pasif, kini berubah menjadi sesuatu yang aktif mengumpulkan informasi yang secara teratur saya ketikan di HP ini: nomor kontak saya, alamat-alamat email relasi, informasi apa saja yang paling sering saya cari, aplikasi apa saja yang paling sering saya gunakan, dan sebainya.

Dari hasil perekaman tersebut, HP saya (sebenarnya lebih tepat disebut aplikasi atau aplikasi-aplikasi di HP saya), sekarang mengetahui dengan pasti kalau saya adalah seorang laki-laki, seorang ayah yang sedang terikat hubungan romantis dengan keempat anak yang mulai melek dunia. Ia tahu saya seorang suami yang perhatian pada istri. Ia tahu saya lahir di bulan Oktober, pada tahun 1972. Ia tahu saya senang dengan t-shirt dan topi. Ia tahu saya sering membuka-buka situs belanja online.

Informasi ini bisa dikatakan hasil analisis terhadap serpihan aktivitas dan karakter interaksi yang saya lakukan dengan aplikasi-aplikasi di HP.  Jadi, setiap kata (teks) yang saya ketikan di HP, baik itu ketika menggunakan sosial media, browsing, bahkan chat, direkam oleh aplikasi-aplikasi, disimpan, dan dianalisis untuk mengetahui profiling individual.

Targeted Audience

Aplikasi-aplikasi ini kemudian “memberikan” (tepatnya: mentransaksikan) profiling individual jutaan penggunanya tadi kepada pemasang iklan, baik perusahaan maupun agensi periklanan.  Maka, pemasang iklan kini memiliki data berharga target iklannya, sehingga mereka dapat merancang iklan yang langsung sesuai kebutuhan pembacanya.  Iklan dibuat bisa lebih efektif dan efisien, dengan tingkat ketertarikan yang lebih tinggi untuk memperoleh respon audiens.

Pasar itu besar dan beragam.  Para pengiklan yang menawarkan suatu produk perlu melakukan segmentasi.  Misalnya, jika suatu perusahaan memproduksi kosmetik, maka sasarannya tentu adalah seluruh wanita.  Tetapi jika yang diproduksi adalah “kosmetik yang dapat menghilangkan jerawat”, maka hanya wanita dengan masalah jerawat sajalah yang menjadi target.

Sehingga, audiens dari iklan yang dibuat oleh produk perlu ditargetkan secara spesifik, yang disebut sebagai “target audience”.  Secara konseptual, ada tahapan tertentu yang harus dilakukan oleh setiap perencana periklanan. (Tentu hal ini akan lebih cocok jika diuraikan oleh penstudi dan praktisi periklanan itu sendiri).

Secara konvensional, pengiklan akan melakukan cara manual untuk menyasar target audiens tadi. Misalnya, membuat event yang mengundang wanita-wanita dengan masalah jerawat pada contoh di atas.

Data Pribadi

Analisa terhadap data pribadi seperti itu menyebabkan seseorang di luar sana sekarang mengetahui apa yang ada di dalam hati dan pikiran kita (heart and mind).  Padahal, apa yang ada dihati dan pikiran kita adalah satu-satunya kekuatan yang kita miliki di era information superhigh way yang penuh keterbukaan seperti sekarang ini.

Siapa saja tidak bisa lagi menyembunyikan kekuatan dan kelemahan kasat mata yang dia miliki.  Seorang yang memiliki kekayaan, tidak bisa lagi menutupinya.  Setiap orang yang pernah melakukan sesuatu di masa lalu, selalu saja memiliki catatan sekecil apapun. Seseorang yang memiliki dan mengendalikan pasukan rahasia, suatu negara yang memiliki persenjataan, dan sebagainya, tidak bisa lagi dirahasiakan.  Semua telah serba terbuka.

Satu-satunya kekuatan yang dimiliki oleh individu dewasa ini adalah kapan dan bagaimana semua itu digunakan. Hal ini tersimpan di hati dan pikiran.  Maka, mengetahui apa yang ada di hati dan pikiran seseorang, berarti potensi untuk mengontrol penuh seseorang, mengarahkannya untuk bertindak sesuau keinginan orang yang mengontrolnya.

Mungkin kita berpikir bahwa penggunaan data pribadi kita untuk memprofil karakter kita dan digunakan untuk keperluan iklan produk bukanlah masalah besar.  Tetapi bagaimana jika pengetahuan terhadap “what lies in our heart and mind” itu dimanfaatkan untuk membentuk preferensi kita terhadap pemimpin politik, menggerakkan kita untuk memilih orang-orang yang buruk, bahkan menghipnotis kita untuk membela orang-orang sebenarnya salah.

Yang menjadi persoalan dari proses ini adalah ketika pengumpulan data pribadi kita, dan bahkan pemberian data pribadi kepada pihak ketiga itu: berlangsung atas seijin kita, tetapi kita tidak sadar pernah memberikan ijin itu!

Coba ingat-ingat. Ketika pertama kali mengintall suatu aplikasi di HP, kita kemungkinan besar pernah menekan tombol “Saya Setuju” atau “I agree” dari suatu terms of service (TOS).  Tetapi pernahkah kita membaca TOS secara lengkap? Mayoritas tidak pernah.  Kenapa? Panjang, membosankan, dan kadang-kadang tidak jelas.  Tetapi, menekan “Setuju” adalah prasyarat untuk menjalankan aplikasi itu.

Proses “tidak sadar” yang dianggap dilakukan dengan kesadaran inilah yang kini menjadi jebakan bagi setiap orang yang memiliki akses online. By the way, masih adakah orang yang menggunakan smart phone tidak memiliki akses online?

Penetrasi pengumpul data memasuki ruang privat seharusnya menjadi kepedulian kita dewasa ini.(*)

Pilkada Serentak Indonesia di mata Dunia

Pilkada serentak yang berlangsung pada tanggal 27 Juni 2018 juga menjadi perhatian dunia internasional. Hajatan demokrasi untuk memilih 17 gubernur, 39 walikota, dan 115 bupati ini diberitakan oleh media-media internasional, dengan sudut pandang beragam. Bagaimanapun, 171 Pilkada secara simultan pastilah menarik, baik dari sisi politik, ekonomi, bahkan human interest.

Namun demikian, sebagian besar media internasional melihat Pilkada serentak ini sebagai babak pendahuluan dari pertarungan pemilihan presiden 2019.

The Economist, misalnya, menurunkan laporan berjudul “Local elections in Indonesia prefigure next year’s presidential poll“. Media menguraikan bagaimana kedua poros besar yang sekarang telah terpola (yaitu pro dan anti petahana) merasa puas dengan hasil Pilkada serentak ini.

Koalisi partai pendukung Jokowi dan pendukung oposisi nampak sangat cair dan miskin greget ideologi. Pengurus partai ramai-ramai membela diri dengan istilah “setiap daerah memiliki karakter lokalitas yang khas, sehingga bisa saja dua partai saling berseteru di tingkat nasional, namun justru berkoalisi di tingkat Pilkada”.

The Economist juga meyakini bahwa Pilkada serentak ini memberi gambaran bagaimana peta suara pada 2019 yang kian dekat. Daerah-daerah yang melakukan Pilkada ini berpenduduk hampir 175 juta jiwa, dari total 260 juta penduduk Indonesia.

Nikkei, media bisnis Jepang, bahkan secara terang-terangan menulis laporan dengan judul: “Indonesia local elections sounds warning for Widodo“. Sebaliknya, Reuters malah menilai kalau hasil pemilihan ini merupakan sinyal baik bagi Jokowi, seperti diulas pada artikel: “Unofficial counts show regional Indonesia polls favoring President Widodo“.

Bloomberg, media yang lebih fokus ke berita ekonomi-politik, mengangkat judul “Jokowi’s Battle for Indonesian Presidency Begins With Local Election“. Ujian kontestasi pilpres, kata Bloomberg, diuji dari Pilkada ini dengan perhatian khusus pada peta suara di Jawa Barat, propinsi dengan lebih 30 juta pemilih dari 152 juta pemilih Indonesia.

Propinsi Jawa Barat memiliki nilai penting, kata Bloomberg karena beberapa faktor. Dari sisi elektoral, propinsi ini pada Pemilu Presiden 2014 merupakan basis Prabowo, yang sekarang menjadi pemimpin oposisi. Pengaruh Partai Demokrat, dimana putra mahkota Agus Harimurti Yudhoyono sedang diperjuangkan untuk menjadi pasangan Jokowi pada 2019, juga cukup strategis di daerah ini.

Dari sisi ekonomi, Jawa Barat merupakan ujian publik terhadap janji pembangunan ekonomi Jokowi. Propinsi ini memiliki angka pengangguran tertinggi di Indonesia, yaitu 8.16%, jauh di atas rata-rata nasional yang hanya 5.13%. Kebijakan ekonomi Jokowi direspon beragam di propinsi ini, kata Bloomberg.

Ridwan Kamil yang diusung PDI-P memang diperkirakan tampil sebagai pemenang (versi Quick Count). Namun, perolehan suara kandidat usungan Gerindra, Sudradjat-Syaikhu, melejit jauh di atas prediksi berbagai lembaga survei pra pemilihan.

Tidak hanya persoalan rivalitas Jokowi-Prabowo dan Pilpres saja yang menjadi perhatian media asing. Deutsche Welle, misalnya, menyoroti tampilan dan suasana pemilihan. Melalui artikel berjudul “In Indonesia, voting doesn’t have to be boring“, media Jerman ini menurunkan laporan tentang petugas pemungutan suara yang berkostum unik, atau desain lokasi yang dibuat unik.

Bagi publik politik Indonesia, Pilkada serentak 2018 memiliki beberapa hasil unik. Di Makassar, pasangan calon walikota Appi-Cicu dikalahkan oleh kotak kosong menurut hasil Quick Count. Di Kabupaten Tulungagung, kandidat yang saat ini sedang ditahan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Syahri Mulyo, berhasil memenangkan Pemilu.

Sayangnya, hal unik dalam politik ini justru tidak mendapat perhatian media internasional.(*)