Archives December 2017

Akihito

Rencana Kaisar Akihito Mengundurkan Diri

Kaisar Jepang, Akihito, akan mengundurkan diri. Rencana ini telah terdengar sejak tahun lalu, meskipun tidak dapat terkonfirmasi. Pada Juni 2016, sempat terdengar kabar dari dalam Istana kekaisaran tentang desas-desus rencana ini. Namun pejabat resmi Istana Kekaisaran Jepang enggan untuk mengkonfirmasinya.

Banyak kalangan yang gamang. Pengunduran diri seorang kaisar yang masih hidup di Jepang terakhir terjadi sekitar 200 tahun lalu.  Ketika itu, Kaisar Kokaku mengundurkan diri pada tahun 1817. Sehingga, ketika kabar ini merebak, banyak kalangan menganggapnya sebagai hal luar biasa. Karena sangat tidak lazim, sebagian lagi menganggapnya sebagai isu.

Namun demikian, berita itu sempat dilansir oleh NHK, badan penyiaran Jepang yang memiliki kredibilitas tinggi.

Isu menjadi kenyataan, ketika pada Mei 2017 lalu, Pemerintah Jepang mengajukan rancangan undang-undang tentang pengunduran diri Kaisar Akihito.  Juga rencana mengalihkan kekuasaan kekaisaran kepada anak pertamanya, Pangeran Naruhito. Pada bulan Juni 2017, rancangan undang-undang itu diloloskan oleh parlemen Jepang (Diet). Pemerintah Jepang diperintahkan untuk mempersiapkan proses transisi kekuasaan kaisar.

Pengunduran diri ini menjadi semakin jelas, ketika pada Jum’at, 1 Desember 2017, Dewan Rumah Tangga Kekaisaran mengadakan rapat untuk mulai mempersiapkan seremoni dan prosesi pengunduran diri Kaisar Akihito. Sekaligus juga pengangkatan Pangeran Naruhito menjadi Kaisar yang baru. Proses ini perlu dipersiapkan sejak dini, mengingat ini bukanlah peristiwa lazim. Peristiwa yang sebelumnya terjadi pada 200 tahun lalu adalah sangat langka.

Akihito, Kaisar Rendah Hati

Dalam tradisi Jepang, kaisar adalah sentra kekuasaan negara dan simbol pemersatu masyarakat. Kaisar dijuluki “Tenno” yang berarti “memiliki kedaulatan atas surga”. Sepanjang sejarah Jepang, fungsi kaisar melalui dinamika. Sejak tahun 1947 (yaitu sejak Jepang mengadopsi konstitusi baru yang dirancang oleh Komando Pasukan Sekutu pimpinan Amerika Serikat), Kaisar Jepang dinyatakan sebagai “simbol kepala negara”, yang tidak lagi memiliki kekuasaan eksekutif.

Akihito mewarisi kekuasaan kaisar dari ayahnya, Hirohito, yang melewati masa-masa tersulit Jepang modern. Hirohito adalah kaisar yang secara langsung mengumumkan melalui radio penyerahan diri Jepang sebagai pertanda kekalahan dalam Perang Dunia II. Komandu Pasukan Sekutu di Asia Pasifik dibawah pimpinan Jenderal Mac Arthur yang kemudian datang dan mengubah banyak hal di dalam negeri Jepang (termasuk menulis konstitusi baru), menyadari pentingnya posisi Kaisar dalam masyarakat Jepang. Sehingga, lembaga ini tidak disentuh secara signifikan.

Hirohito terus menjalankan kekuasaan kaisar hingga akhir hayatnya pada 1989. Akihito yang menggantikannya mendapatkan gelaran Heishei, yang berarti “kedamaian dimana-mana”. Dalam tradisi Jepang, sebutan era kekaisaran ini akan diberikan kepada kaisar setelah wafatnya. Gelar ini berkaitan dengan upaya yang ia lakukan dalam meneruskan upaya ayahnya untuk mengembalikan kejayaan Jepang setelah kalah perang, dan kembali ke tatanan masyarakat internasional yang penuh perdamaian.

Akihito dikenal sebagai kaisar dengan karakter dan gaya kepemimpinan yang berbeda dengan ayahnya, bahkan kaisar-kaisar sebelumnya. Ia memiliki karakter rendah hati (down to earth), mendobrak beberapa kebiasaan yang diwariskan turun-temurun dalam tradisi kekaisaran Jepang.

Pada bulan April 1959, Akihito memutuskan untuk menikah dengan Michiko Shoda. Perkawinan ini mendobrak tradisi kekaisaran yang telah dipertahankan selama 2.600 tahun, dimana Michiko adalah rakyat biasa yang bukan berasal dari keturunan bangsawan.

Pada bulan Juni 2016, Akihito menyampaikan pidato televisi yang sangat langka. Dalam catatan, sejak tahun 1945, hanya ada 3 kali pidato kaisar didepan umum, dua lainnya adalah pidato Kaisar Hirohito yang menyatakan kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II, serta Pidato Akihito pada 2011 ketika terjadi bencana tsunami di Fukushima.

Pidato Akihito pada 2016 juga merupakan hal tidak lazim, dimana dia secara terbuka mengutarakan kekhawatiran terhadap kondisi kesehatan dirinya sehingga dapat mengganggu tugas-tugasnya memimpin negara. Adalah tidak lazim seorang Kaisar mengungkapkan persoalan kesehatan dirinya kepada publik. Ayahnya, Hirohito, diketahui mengidap penyakit yang diumumkan terbuka hanya setelah wafatnya.

Akihito juga secara berulangkali menyatakan penyesalannya atas apa yang telah dilakukan Jepang selama Perang Dunia II. Ia mencatatnya sebagai peristiwa kelam yang tidak perlu terjadi lagi, dan ia mendorong agar Jepang menjadi bangsa yang menghilangkan sikap agresif dalam hubungan internasional. Kaisar Akihito mengunjungi China pada tahun 1992 (suatu kunjungan pertama kali dari kalangan monarki Jepang, dan banyak memicu kontroversi di dalam negeri). Meskipun Kaisar tidak meminta maaf, namun ia secara terang menyatakan kesedihannya atas perang yang terjadi pada masa lalu antara kedua negara.

Dampak Pengunduran Diri

Apa yang akan terjadi jika Akihito mengundurkan diri?

Secara fundamental, dari sisi politik tidak akan banyak perubahan. Jepang memang dikenal sebagai negara monarki, yang berarti memiliki basis kekuasaan raja atau kaisar yang diwariskan turun-temurun. Akan tetapi kekuasaan kaisar telah dibatasi sampai pada titik paling rendah, sehingga hanya menjadi simbol pemersatu bangsa saja.

Meskipun demikian, makna kekuasaan simbolik kaisar bukanlah sesuatu yang tidak bermakna. Justru bagi banyak orang Jepang, posisi kaisar yang demikian itu merupakan kekuatan tersendiri. Kaisar akan menjadi tempat terakhir untuk mengambil keputusan ketika terjadi kegagalan mencapai konsensus.

Keputusan kaisar untuk mengundurkan diri sebelum waktunya dapat diinterpretasikan banyak hal. Dan juga mendatangkan banyak spekulasi.

Pada satu sisi, hal ini menunjukkan sikap kaisar yang menyadari perkembangan jaman, modernisasi yang semakin maju, dan penerimaan publik terhadap institusi kekaisaran yang makin turun. Namun di sisi lain, hal ini dapat juga diartikan sebagai respon terhadap kondisi aktual diri kaisar yang memang secara fisik mulai menurun secara alamiah.

Dibalik itu, sebagian kalangan juga meramalkan bahwa hal ini berkaitan dengan isu perbedaan pendapat dikalangan istana kekaisaran sendiri berkaitan masa depan penerus kaisar.

Sebagaimana diketahui, pewaris tahta kekaisaran Jepang setelah Kaisar Akihito adalah putranya, Pangeran Naruhito. Tidak ada debat, putra pertama Kaisar Akihito dan Permaisuri Michiko ini akan melanjutkan tahta.

Pangeran Naruhito hanya mempunyai seorang anak, seorang perempuan bernama Putri Aiko. Ini menimbulkan debat, apakah Putri Aiko (yang lahir pada 2001) akan mewarisi tahta kelak?

Undang-undang Kekaisaran Jepang 1947 menganut sistem Agnatic Primogeniture, dimana tahta diturunkan kepada garis darah laki-laki. Bukan Absolute Primogeniture (yaitu keturunan pertama, terlepas jenis kelaminnya).

Nampaknya, Kaisar Akihito menyadari kontroversi ini, dan ingin memberi ruang dialog sejak awal. Ia tahu, bahwa ketika tahta diturunkan kepada anaknya, Pangeran Naruhito, saat itu juga akan ada pengukuhan mengenai siapa yang akan menjadi pewaris selanjutnya.

Selain hal-hal itu, dampak sosial dan politik dari pengunduran diri sebagai kaisar tentu tidak banyak. Namun demikian, rakyat Jepang akan selalu mengenang Kaisar Akihito, sang Putra Matahari, sebagai sosok yang membawa pembaharuan Jepang modern dengan kerendahan hatinya yang mengagumkan.(*)

Zimbabwe, Negara Tanpa Mata Uang Resmi?

Presiden Zimbabwe, Emmerson Mnangagwa yang baru seminggu menjabat setelah mengambil alih kekuasaan dari Robert Mugabe yang telah berkuasa selama 37 tahun, mengumumkan nama-nama kabinetnya. Ia menunjuk dua tokoh sentral militer dalam “kudeta” 15 November.

Tentu saja, kritikan dari dalam negeri bermunculan. Mnangagwa dianggap sedang melakukan politik balas jasa, sekaligus melindungi dirinya dibalik perisai militer. Dengan usia 75 tahun, Mnangagwa patut diakui telah melewati usia puncaknya untuk menghadapi oposisi politik dengan cara-cara politik pula.

Tetapi, kali ini saya tidak ingin membahas hal itu. Ada isu lebih menarik untuk menjadi bahan diskusi, yaitu soal mata uang (currency) Zimbabwe. Negara ini alami krisis ekonomi politik berkepanjangan, yang berdampak pada kegagalan mengelola mata uang. Bahkan, negara ini dapat dikatakan tidak memiliki mata uang.

Zimbabwe secara formal diakui sebagai republik independen pada 18 April 1980.  Meskipun pada 1964 negara ini mendeklarasikan kemerdekaan dari kolonisasi Inggris yang telah berlangsung sejak tahun 1888, namun deklarasi tersebut tidak sepenuhnya mendapat pengakuan, akibat masih adanya dominasi Rhodesia yang juga tidak diakui.  Hingga kemerdekaan pada 1980 itu, Zimbabwe lebih dikenal sebagai Rhodesia.  Pada masa itu, negara ini menggunakan mata uang Rhodesian Dollar (R$).

Sejak kemerdekaan Republik Zimbabwe pada 1980, mata uang Rhodesian Dollar digantikan dengan Zimbabwean Dollar, dengan nilai tukar yang setara dengan Rhodesian Dollar. Namun, karena tekanan inflasi yang tinggi, bahwa hingga mencapai apa yang disebut hyperinflasi, Zimbabwean Dollar hanya berlaku hingga 2009.  Kini, Zimbabwe menggunakan Dollar Amerika (US$) sebagai mata uang resmi negara.

Ekonomi Politik Mata Uang

Uang atau mata uang pada dasarnya merupakan alat transaksi.  Namun, nilai suatu mata uang ditentukan oleh banyak faktor yang kompleks.  Secara sederhana, mata uang dapat dibuat oleh pemerintah (negara) dengan cara mencetak dan menciptakan konvensi atau kesepakata dalam masyarakat (teori konvensi).  Jika seluruh elemen masyarakat sepakat menerima uang dan mata uang, maka jadilah ia sebagai mata uang, yang dapat dipergunakan sebagai alat pembayaran yang sah.

Akan tetapi, dalam proses sehari-hari tidaklah semudah itu.  Teori-teori klasik seperti Teori Kuantitas (yang diperkenalkan oleh David Ricardo dan kemudian disempurnakan oleh Irving Fisher), misalnya, menunjukkan ada faktor dinamis dalam memberlakukan suatu mata uang.  Dasarnya yang pertama adalah mata uang itu harus “diterima” secara luas masyarakat.

Dalam perkembangan modern, isu mata uang menjadi lebih dinamis lagi ketika dikaitkan dengan perdagangan internasional.  Suatu mata uang bukan saja menjadi alat pembayaran dalam negeri, tetapi menjadi alat untuk mengukur nilai komoditas relatif terhadap mata uang negara lain.

Dengan demikian, uang atau mata uang bukan saja alat ekonomi.  Ia memiliki dimensi politik yang sangat lekat.  Bahkan, jika dikaitkan dengan fungsinya sebagai alat pembayaran, dimensi politik dari mata uang jauh lebih dominan.  Hal ini dapat dilihat dari syarat-syarat agar suatu mata uang dapat diterima (sebagai alat pembayaran).  Mata uang itu setidaknya memiliki syarat: dapat diterima secara umum (acceptability), bernilai dan nilai itu dijamin oleh pemerintah, bahan tahan lama (durability), kualitasnya sama (uniformity), jumlah yang beredar memenuhi kebutuhan masyarakat, tidak mudah dipalsukan (scarcity), mudah dibawa-bawa (portable) dan mudah dibagi tanpa mengurangi nilainya (divisibility), serta nilainya stabil.

Kegagalan Zimbabwe dalam mempertahankan kelangsungan mata uangnya (Zimbabwe Dollar) dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling terkait, termasuk tidak terpenuhinya seluruh pra-syarat sebagai mata uang.  Masyarakat Zimbabwe tidak percaya bahwa mata uang mereka memiliki kemampuan ekonomi, akibat ketidakmampuan pemerintah memberikan keyakinan itu.  Sehingga, masyarakat lebih memilih untuk menggunakan mata uang asing sebagai alat pembayaran.

Hyper inflasi dan Zimbabwe Dollar

Akibat ketidakpercayaan itu, Zimbabwe pernah mengalami inflasi terburuk dalam sejarah bangsa-bangsa di dunia.  Mata uang Zimbabwean Dollar yang pada awal diperkenalkan memiliki nilai setara dengan Dollar Amerika ternyata tidak diterima oleh masyarakat.  Ada kecurigaan bahwa uang-uang yang dikeluarkan oleh Bank Sentral Zimbabwe memiliki kualitas rendah, sehingga mudah dipalsukan.  Selain itu, ada kecurigaan bahwa nilai mata uang ini tidak stabil sebab kepercayaan publik terhadap pemerintah begitu rendahnya.

Penyebab hyperinflasi yang tinggi adalah adanya kecurigaan bahwa pemerintahan Robert Mugabe mencetak uang dalam jumlah banyak untuk membiayai keterlibatannya dalam Perang Congo, yang berlangsung pada tahun 2000.  Uang juga dicetak besar-besaran untuk membiayai gaji tinggi pejabat pemerintah.  Hal ini berdampak pada hilangnya nilai real uang Zimbabwe dibandingkan dengan kondisi aktual ekonomi.

Pada puncaknya, nilai mata uang Zimbabwe terjun bebas, dan dinyatakan sebagai mata uang paling tidak bernilai di dunia.  Pemerintah mencetak uang kertas yang setiap lembarnya bahkan memiliki 100 trilyun (100.000.000.000.000).  Namun, uang sebesar itu nilainya setara dengan 40 cent Amerika, atau hanya sekitar US$ 0.4.  Kalau dikonversi ke Rupiah, kira-kira senilai Rp. 5.000,- saja.

Mata Uang Saat Ini

Pada tahun 2009, pemerintah kemudian membatalkan mata uang Zimbabwean Dollar dan mengumumkan US$ sebagai mata uang resmi pemerintah. Pada Januari 2014, Bank Sentral Zimbabwe mengumumkan bahwa selain US Dollar, mata uang yang diterima sebagai alat pembayaran yang sah di dalam negeri adalah South African rand, Botswana pula, Pound sterling, Euro, Australian dollar, Chinese yuan (renminbi), Indian rupee, dan Japanese yen.

Pertanyaannya, apakah Zimbabwe masih membutuhkan mata uang sendiri?  Dan bagaimana kemungkinan untuk memberlakukan hal ini?

Di seluruh dunia, mata uang merupakan alat pembayaran dengan banyak fungsi tambahan.  Bahkan, mata uang juga memiliki unsur-unsur nasionalisme di dalamnya, dimana pahlawan nasional atau obyek-obyek kebanggaan nasional ditampilkan.  Sebagai negara merdeka, keberadaan mata uang merupakan indikasi kedaulatan.  Hal ini menunjukkan bahwa suatu negara memiliki kemampuan untuk mengatur dirinya dan memperoleh kepercayaan dari masyarakatnya.

Hanya saja, belajar dari pengalaman terhadap buruknya tata kelola pemerintahan di Zimbabwe, nampaknya masih butuh waktu panjang bagi negara ini untuk memiliki mata uang sendiri.  Meskipun pemerintahan Presiden Robert Mugabe telah berakhir, namun fakta bahwa pemerintahan baru dibawah Emmerson Mnangagwa justru mengawali langkahnya dengan politik balas jasa (bahkan tidak memberi ruang bagi kelompok oposisi dalam kabinetnya).  Hal ini akan sulit mendatangkan kepercayaan rakyat.

Padahal, dari berbagai faktor yang mempengaruhi kekuatan suatu mata uang, kepercayaan rakyat terhadap pemerintah selalu memainkan peranan penting.  Disinilah sebenarnya tantangan utama pemerintahan di Zimbabwe, baik sekarang maupun yang akan datang.(*)