Archives July 2017

Timur Tengah, Masih Saja Tentang Konflik dan Palestina

Ketika pertama kali belajar hubungan internasional (HI), sekitar 25 tahun lalu, mata kuliah Politik Regional Timur Tengah adalah kurikulum wajib.  Suka tidak suka, kami harus mempelajarinya.  Saya pribadi kurang tertarik dengan topik ini.  Mungkin kemampuan intelijensi saya dibawah standar, sehingga sulit mencerna rumitnya peta hubungan negara-negara di kawasan ini, baik intrakawasan maupun dengan negara eksternal.

Era perang dingin berakhir pada Desember 1991.  Namun demikian, berbagai literatur studi HI dan Timur Tengah masih didominasi setting situasi perang dingin hingga bertahun-tahun kemudian.  Maka, argumen-argumen yang dikemukakan para ahli tentang perang dan damai maupun konflik dan kerja sama di kawasan Timur Tengah sangat didominasi oleh setting perang dingin.  Mainstream argumen, tentu saja, adalah teori-teori realis, mulai dari balance of power (dari era David Hume hingga Kenneth N. Waltz), security dilemma (John H. Herz atau Glenn H. Snyder), proxy war (Robert Jervis), atau hegemonic stability (Robert O. Keohane, A.F.K. Organsky, Immanuel Wallerstein, atau David Kindleberger).

Tahun-tahun itu internet belum semassif sekarang.  Referensi paling populer di antara mahasiswa adalah buku-buku karya awal M. Riza Sihbudi.  Beliau adalah penulis dengan tema Timur Tengah produktif masa itu, yang menerbitkan: Bara Timur Tengah (1991), Palestina: Solidaritas Islam dan Tata Politik Dunia Baru (1992), Eksistensi Palestina di Mata Teheran dan Washington (1992), Timur Tengah, Dunia Islam, dan Hegemoni Amerika (1993), serta Konflik dan Diplomasi di Timur Tengah (1993), Biografi Politik Imam Khomeini (1996).  Belakangan, saya masih menemukan lagi dua buku beliau yang ditulis dalam rentang waktu 10 tahun: Indonesia Timur Tengah, Masalah dan Prospek (1997) dan Menyandera Timur Tengah (ditulis tahun 2007).

Beberapa Referensi Dekade 1990-an

Tahun 1995, M. Riza Sihbudi bersama beberapa pengkaji hubungan internasional dan Timur Tengah menulis buku yang kemudian sangat populer: Profil Negara-negara Timur Tengah (Buku Kesatu).  Sayangnya, hingga kini Buku Kedua dari profil ini tidak kunjung terbit.  Para penulis adalah (Alm) Zainuddin Djaffar, Prof. Dr. A. Rahman Zainuddin, M.A., Hamdan Basyar, Amris Hassan, dan Drs. Dhurorudin Mashad.  Diantara mereka, saya hanya pernah berinteraksi dengan Prof. Zainuddin Djaffar, akrab disapa Mas Buyung (al-Fathihah).  Beliau menjadi dosen saya ketika kuliah S2 di UI.

Selain itu, referensi untuk topik Timur Tengah di dekade 1990-an itu adalah buku Amien Rais berjudul “Timur Tengah dan Krisis Teluk” pada 1990.  Menurut dosen-dosen kami, Mas Amien adalah “dosen terbang” yang secara rutin ke Makassar mengajar mereka di dekade 1980-an, pada masa-masa awal berdirinya HI Unhas.

Meskipun tidak serius membaca semua buku itu, saya mendapat garis merah untuk menjelaskan Timur Tengah pada masa perang dingin.  Kawasan ini menjadi dinamis karena dua faktor.  Pertama, arena pertarungan super power dunia, yang didominasi oleh Amerika Serikat (dengan North Atlantic Treaty Organization, NATO) dan Uni Sovyet (dengan Pakta Warsawa).  Kedua, potensi minyak di kawasan yang mencakup dua per tiga dari cadangan minyak dunia.  Louise Fawcett, menjelaskan hal ini lebih detail dalam “International Relations of the Middle East” (2005).

Itu adalah cerita 25 tahun lalu.  Amerika Serikat dan Uni Sovyet (yang bubar pada 1991 itu) sebelumnya menjadikan  Timur Tengah sebagai instrumen mengukur balance of power melalui praktek proxy war yang sistematis.  Hasilnya adalah, belasan konflik dan perang di Timur Tengah adalah refleksi dari perseteruan kedua adi daya.  Konflik Arab-Israel yang teraktualisasi pada Peperangan 1948, Perang Enam Hari (1967), atau Perang Yom Kippur (1973).  Begitu juga, perang Sovyet-Afghanistan yang berlangsung selama 9 tahun (1979 – 1989) sesungguhnya adalah perang antara Sovyet dan Amerika Serikat.  Ada dukungan nyata masing-masing adi daya terhadap pihak berkonflik.

Palestina Kini

Isu Palestina juga menjadi ajang “mainan” negara-negara, baik di kawasan maupun di luar kawasan.  Sejak Otoritas Pemerintahan Palestina dibentuk oleh Liga Arab pada 1948, sejak itu pula wilayah ini tidak pernah berhenti dari konflik.  Maka setiap waktu, masyarakat dunia dijejali kisah tentang Dataran Tinggi Golan, Tepi Barat Sungai Yordan, dan Jalur Gaza.  Kisah ini sudah berlangsung puluhan tahun, pada era modern ini.  Meskipun berkali-kali perundingan dan upaya damai digelar, semua berakhir tanpa akhir yang menenangkan.

Hari ini, kita mendapat lagi kabar bentrokan yang terjadi di Palestina.  Menyusul penembakan tentara Israel terhadap Imam Masjid Al-Aqsa, terjadi demonstrasi yang menyebabkan sekitar 50 warga sipil Palestina tertembak.  Kisah kekerasan seperti ini telah ada sejak era “Dunia Dalam Berita”.

Saya pernah mengikuti ulasan seorang pakar tentang bagaimana rumitnya struktur konflik di kawasan ini.  Faktor ekonomi, politik, ideologi berkelindan saling silang, membentuk jaringan yang lebih rumit dari jaring laba-laba.  Artinya, sebagaimana jaring laba-laba, kerumitan jaring itu memiliki titik sentrum.  Sayangnya, kebanyakan pengkaji lebih senang melihat kawasan ini secara parsial.(*)

 

Dulu kolonialisasi, sekarang konspirasi

Kalimat dijudul ini kebetulam saja saya baca, tapi lupa kapan dan dimana. Pesannya, jaman dulu bangsa kita dikuasai melalui kolonialisasi. Dalihnya berdagang, tetapi di belakang (bahkan tidak jarang di depan) para pedagang itu ikut pula bala tentara mengiringi.

Dewasa ini, tentara tidak bisa lagi keluar masuk teritori suatu negara begitu saja. Aribut kedaulatan nasional yang dilegalkan melalui Perjanjian Westphalia pada tahun 1648 memberi kendali penuh setiap negara terhadap wilayah dan teritorinya.  Ruang gerak dan peluang untuk kolonialisasi semakin sempit.

Sementara itu, prinsip menguasai dan mengendalikan kedaulatan adalah kontrol terhadap entitas negara. Maka, para aktor politik internasional menempuh cara-cara legal yang memungkinkan. Konspirasi adalah salah satu strateginya.

Setiap negara selalu memiliki kerja sama dengan pihak eksternal, baik negara lain maupun entitas non-negara lain. Dalam setiap kerja sama, selalu terbuka peluang untuk menyisipkan (bahkan menyusupkan) elemen-elemen yang berada di luar cakupan kerja sama.

Misalnya, dua negara bekerja sama dalam bidang pembangunan infrastruktur padat karya. Dalam diktumnya, tercantum hak pihak kuar untuk menyertakan tenaga kerja mereka dalam proyek. Dalam prakteknya, dikirimlah ratusan hingga ribuan tenaga kerja asing untuk mengerjakan proyek.

Orang-orang asing yang datang bisa jadi campur baur antara benar-benar pekerja dan bukan pekerja. Paling ekstrimnya adalah agen-agen intelijen. Namun, bisa juga para kriminal yang akan melakukan kejahatan terorganisir. Bisa jadi menyelundupkan narkotika, melakukan pencucian uang, atau mungkin perdagangan manusia.

Konspirasi dalam bentuk lain adalah infiltrasi nilai, yang dikenal sebagai insepsi soft power. Cara ini sangat halus, dan benar-benar tidak terasa. Apalagi instrumen yang digunakan adalah medium populer yang diterima luas, misalnya film, mode, gaya hidup, dan nilai. Tiba-tiba saja, misalnya, kita menemukan generasi milenial yang lebih kenal artis-artis Korea ketimbang pahlawan nasional.

Begitulah…

Kekhawatiran terhadap konspirasi (melalui soft power) bukan saja melanda negara berkembang atau middle power countries seperti Indonesia. Amerika Serikat, sang super power, juga ditimpa serangan serupa. Itulah salah satu alasan Presiden Donald Trump memutus banyak sekali kerja sama ekonomi dengan negara lain. Apalagi, ketika ia menyadari bahwa semakin banyak rumah produksi film yang besar-besar di Amerika kini dikuasai China. Trump tidak rela Hollywood jatuh ke tangan asing. Ia sadar betul kekuatan apa yang ada dibalik industri film.

Pada masa lalu, konspirasi mungkin saja marak dilakukan oleh agen-agen intelijen. Semua tentu pernah mendengar tentang Central Intelligence Agency (CIA). Kemudian, para pelaku bisnis internasional menyusul dengan iming-iming uang, pembangunan, dan kesejahteraan.

Kini, para konspirator mulai berada di wilayah abstrak tetapi berdampak nyata. Wilayah persepsi dan nilai. Para aktornya mulai berkolaborasi. Dan kita perlu siaga.(*)