Archives September 2016

Siapa Lawan Potensial Yang Bisa Kalahkan Ahok?

Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan (PDI-P) malam ini (20/09) memberi kejutan.  Setelah beberapa hari publik bertanya-tanya, PDI-P (tepatnya Megawati) akhirnya mengumumkan kandidat usungan untuk Pilgub DKI Jakarta.  Sang incumbent lengkap, Ahok dan Djarot, ditetapkan sebagai figur andalan PDI-P.

Yang paling kecewa adalah pendukung Tri Rismaharini, Walikota Surabaya.  Meskipun Risma berkali-kali menyatakan tidak akan meninggalkan Surabaya, belakangan ia berkata “tergantung kehendak Tuhan”.  Ini bukan saja sinyal, tetapi pernyataan diam-diam ingin diusung ke DKI.  Beberapa survei juga menampilkan angka keunggulan Risma. Entah surveinya benar atau survei yang didesain untuk mengunggulkan Risma.

Tadi siang, saya melihat tayangan di Kompas TV. Liputan tentang Risma yang sedang marah-marah dengan wajah tegang. Ia memarahi anak buahnya yang tidak becus.  Meskipun awam, saya yakin tayangan itu di-setting.  Dari teknik pengambilan gambar, perpindahan fokus dan timing zoom-in, saya yakin sekali adegan marah-marah itu adalah “drama untuk keperluan televisi”.

Jelas sekali Risma sedang “berkomunikasi” dengan para pengambil keputusan di PDI-P untuk memilih dirinya.  Tetapi sayang, komunikasi publik ini tidak cukup bersuara menyentuh Megawati.  Sang incumbent DKI tetap menjadi pilihan.

Menduga Motif PDI-P

Ketika Teman Ahok berhasil mencapai angka satu juta KTP, banyak partai politik ketar-ketir.  Dukungan untuk maju sebagai calon independen adalah ancaman delegitimasi partai politik.  Mungkin, dari sisi pendidikan politik ini adalah fenomena positif. Yaitu, rakyat semakin matang dan dewasa dalam berpolitik.  Kedewasaan berpolitik rakyat adalah sesuatu yang paling ditakutkan oleh partai politik.  Di tubuh partai-partai di Indonesia, instrumen-instrumen oligarkis masih dominan.  Delegitimasi partai politik bukan saja ancaman bagi demokrasi, tetapi sekaligus juga ancaman bagi eksistensi para oligark.

Meskipun menghadapi banyak kerikil (ya, saya masih menyebutnya kerikil saja), jalan untuk kembali bertarung di Pilgub DKI pada 2017 tetap lebar. Ia telah mengantongi rekomendasi Golkar, Hanura, dan Nasdem. Ia telah memiliki “sejuta” KTP dari Teman Ahok.  Juga, semakin banyak saja survei yang mengunggulkan dirinya.  Dan, diantara begitu banyak figur yang sedang sempoyongan untuk memperoleh kendaraan politik (baik partai politik maupun jalur independen), Ahok paling siap.

Dari kalkulasi politik, Ahok adalah figur menang.  Meskipun perhelatan Pilgub adalah praktek politik penuh intrik, setidaknya Ahok telah mengendalikan begitu banyak sumber daya politik.  Ia paling siap menang, dan paling besar kemungkinan besar menang.

PDI-P tidak ingin kehilangan momentum ini.  Dalam kacamata menang-kalah (sesuatu yang masih lazim dalam politik praktis di tanah air), mendukung Ahok berarti memastikan kemenangan.  Sementara itu, mendukung kandidat lain berarti “bermain judi”.  Jadi, lumrah saja jika kemudian PDI-P memutuskan dukungan untuk Ahok.  Logika menang-kalah nampaknya bertemu dengan logika kepentingan publik yang dominan.  Ya, meskipun banyak pihak yang mencerca gaya kepemimpinan Ahok, mengejek pendekatannya dalam menata Jakarta, namun banyak juga yang secara konsisten puas dengan tindak-tanduk Ahok mendekonstruksi banyak hal di ibu kota.

Lawan Potensial Ahok

Tetapi, siapakah yang dapat mengimbangi posisi di atas angin Ahok saat ini?  Cukup sulit mengelaborasinya.  Figur-figur yang disebut akan menantang Ahok tampak masih jauh keteteran, bahkan figur yang berlari sekalipun.  Setidaknya, ada 2 aspek paling menonjol yang menjadi penghambat figur-figur lain.  Pertama, kendaraan politik. Hingga kini, belum jelas siapa yang bisa secara legal memenuhi syarat untuk menjadi calon Gubernur DKI.  Partai politik semakin sedikit tersisa. Sementara dukungan suara independen tampak belum berkonsolidasi.

Kedua, rekam jejak.  Kita melihat hadirnya figur-figur dengan integritas memadai.  Ada Yusril Ihza Mahendra, Adhyaksa Dault, atau Sandiaga Salahuddin Uno.  Juga ada Anies Baswedan.  Semua berintegritas, namun dengan level rekam jejak yang berbeda.  Dalam hal membenahi kesemrawutan, apalagi untuk daerah seruwet Ibu Kota Jakarta, belum ada yang bisa menyamai rekam jejak Ahok.

[rpi]

Meskipun demikian, tetap saja ada peluang bagi muncul figur atau pasangan figur yang bisa mengimbangi.  Meskipun memiliki segudang keunggulan, Ahok juga memiliki sederet titik lemah.  Jika saja ada pasangan calon yang dapat menampilkan keunggulan seperti yang dimiliki Ahok, dan sekaligus menampilkan keunggulan yang tidak dimilikinya, maka calon usungan PDI-P (dan Golkar, Hanura, Nasdem) ini perlu meningkatkan kewaspadaan.

Para mantan menteri nampaknya akan sulit “turun level” dengan berpasangan sesama mantan menteri.  Misalnya, Yusril berpasangan dengan Dault, atau Anies dengan Yusril.  Meskipun ini kekuatan besar, tetapi kalkulasi politiknya sulit diterima.  Tapi, jika saja itu terjadi, maka benar-benar kelanggengan Ahok memang mengkhawatirkan.

Maka, saya berpikir, akan lebih ideal jika Sandiaga S. Uno mau sedikit melangkah mundur dengan memposisikan diri sebagai calon wakil gubernur.  Dan menyerahkan calon gubernur kepada figur yang lebih matang dalam politik dan pemerintahan: antara Yusril atau Anies Baswedan. (*)

Di Pelabuhan Makassar, Masih Ada Siksaan Bagi Konsumen

Sudah sangat lama aktivitas menjemput di Pelabuhan Makassar saya lakukan. Bayangan tentang kekejaman pelayanan di pelabuhan ini pada masa lalu sebenarnya telah sirna. Akhir-akhir ini, semakin banyak kabar baik tentang pelayanan di sini. Apalagi Pelabuhan Makassar telah menggunakan garbarata, seperti yang lazim kita temui di bandara internasional.

Sebelum memasuki kawasan pelabuhan, saya harus membayar Rp. 20.000,-. Rinciannya adalah Rp. 15.000,- untuk tarif masuk mobil yang saya gunakan (ini termasuk pengemudi) dan Rp. 5.000,- untuk tarif masuk orang dewasa. Anak-anak tidak dikenakan tarif. Saya menerima karcis yang sesuai. Dengan jumlah sebesar itu, saya yakin akan ada banyak perbaikan di dalam sana. Apalagi pungutan ini berkarcis resmi. Artinya, duit yang masuk seharusnya terkelola baik.

Ini siang hari yang terik. Azan dhuhur baru saja berkumandang. Setelah memarkir mobil di dekat masjid, saya berputar-putar mencari pintu kedatangan, yaitu tempat dimana saya akan menunggu kedatangan ibu saya. Tetapi, tidak satupun penunjuk yang memberitahu dimana para penjemput bisa menunggu penumpang datang.

Setelah berkeliling dan tidak menemukan pintu kedatangan, saya putuskan ke pintu keberangkatan. Pintu ini jelas dan mudah ditemukan. Selain ada papan bicara yang menyolok, juga ada banyak petugas berjaga. Dengan menyeka keringat bercucuran saya menanyakan dimana pintu kedatangan. 

Seorang petugas menjawab tenang: “disebelah sini, pak”, ia menunjuk sebelah kirinya. Disitu adalah pagar terbuat dari seng, bercat warna biru. Rupanya itu pintu yang sedang tertutup. Petugas itu melanjutkan, pintu itu akan terbuka jika penumpang telah turun dari kapal.

Di depan pintu itu ada seorang petugas berseragam berjaga. Di sepanjang jalan depan pintu itu, pada sisi kirinya, terdapat beberapa lapak penjual yang berpayung besar untuk melindungi dagangan dari teriknya matahari.

Para penjemput bergerombol di depan pintu itu, dibawah terpaan matahari siang yang menyengat. Tidak ada tempat berlindung. Beberapa penjemput coba berteduh di bawah payung besar milik pelapak, tetapi para pedagang menggerutu: “tolong jangan halangi dagangan saya”, begitu katanya.

Para penumpang mulai keluar. Jadi saya coba bertahan disitu, berdiri dibawah terik matahari. Tidak butuh waktu lama, keringat mengalir dari jidat dan wajah. Juga sinar matahari siang yang menyengat menggerahkan badan. Untungnya, sekitar 20-an menit saja, ibu yang saya jemput telah tampak keluar.

Saya melihat sekeliling. Ada orang lanjut usia. Ada anak-anak kecil berusia balita. Ada ibu hamil. Semua merasakan siksaan yang sama. Ya, ini penyiksaan. Siapa yang bisa berdiri dibawah terik matahari siang dan menikmatinya?

Ketika meninggalkan tempat itu, terbayangkan uang Rp. 20.000,- yang saya bayarkan di pintu masuk kawasan pelabuhan tadi. Tiba-tiba saja, saya sangat tidak ikhlas mengeluarkannya. Apalagi, setelah beberapa saat berpikir-pikir, tidak ada hikmah apapun yang bisa saya ambil.

Hei, otoritas pelabuhan! Gunakanlah uang kami membangun pelindung, agar kami bisa menjemput kerabat dan keluarga tanpa perlu tersiksa. Kami membayar bukan untuk dijemur seperti dendeng. (*)

Jual Tanah Kaflin, Sejujur-jujurnya Iklan

Di sekitar daerah Samata, Kabupaten Gowa, disisi kiri jalan menuju kompleks Zarindah, saya menemukan iklan sederhana ini. Tertulis pada sebilah papan hitam, terbaca cukup jelas: “JUAL TANAH KAFLIN”. Iya, ini adalah iklan penjualan tanah di Kecamatan Bontomarannu, lengkap dengan nomor handphone yang bisa dihubungi.

Bagi sebagian orang, bahasa di iklan itu adalah bahan lawakan. Tulisan tanah kaflin yang dimaksud pastilah tanah kavling. Orang Makassar bilang ini okkots. Anak-anak alay mungkin akan mengatakan ini okkots yang akut.
Tetapi, sungguh saya melihatnya sebagai sebenar-benarnya iklan.

Setiap hari, saya dan kita semua, pasti melewati iklan-iklan yang tersebar di banyak tempat. Juga iklan yang menawarkan tanah kavling. Tetapi seberapa sering kita memperhatikannya? Saya sendiri selalu saja mengabaikan iklan-iklan seperti itu.

Kali ini, saya memilih berhenti sejenak untuk mengamati baik-baik. Sebelum memotret iklan ini dengan kamera HP, saya sempat tersenyum sekilas. Tanpa sadar, iklan ini (yang sekilas tampak seperti bahan olok-olok, telah mencapai tujuan pemasangannya: menarik orang untuk singgah. Ya, iklan ini menjadi eye-catching.

Bukankah itu salah satu tujuan iklan?

Dikenal sejak jaman Yunani kuno, pada awalnya iklan berisi informasi pencarian terhadap budak-budak yang melarikan diri dari tuannya, atau mengenai informasi pertandingan Gladiator yang akan dihelat. Tujuannya, tentu, agar dibaca orang. Dengan begitu, informasi akan tersebar luas.

Iklan cetak yang termuat di koran seperti kita kenal sekarang dulunya merupakan sesuatu yang ekslusif. Dalam sejarah, iklan di media cetak pertama kali terbit di Imperial Intelligencer pada Maret 1648 di Inggris. Sayangnya, melalui pencarian di internet, saya tidak berhasil menemukan konten dan gambar iklan pertama itu.

Iklan modern, konon, dipelopori oleh seorang Inggris bernama Thomas J. Barratt di London. Ia bekerja untuk mempromosikan sabun merk Pears dengan menerapkan prinsip-prinsip slogan untuk audiens yang spesifik (targeted audience), menggabungkan frasa dan gambar. Salah satu slogan yang ia rancang adalah: “Good morning. Have you used Pears’ soap?” menjadi sangat populer hingga awal abad ke-20. Tidaklah berlebihan jika Barratt dikenal sebagai Bapak Iklan Modern.

Perusahaan besar seperti Coca Cola telah mengawali iklan di media cetak sejak abad ke-19. Tanggal 28 Mei 1886, iklan Coca Cola dengan slogan “Delicious! Refreshing! Exhilirating! Invigorating!” diterbitkan oleh John Pamberton (pendiri Coca Cola) di The Atlanta Journal. Pada masa itu, slogan ini merupakan ungkapan yang menarik dan akan selalu diingat.

Jika tujuan utama pemasangan iklan adalah untuk menanamkan dalam ingatan publik tentang suatu produk atau jasa yang hendak dipasarkan, maka tidak diragukan lagi iklan tanah kaflin yang saya temukan ini telah berhasil mencapai sebagian tujuan itu. Entah siapa yang membuat dan memajang iklan ini. Bisa jadi, ia membuatnya karena ketidaktahuan penulisan kata “kavling” yang benar.

Apakah ini kesalahan dari ketidaktahuan? Saya kira, banyak orang sukses yang mengawali langkahnya dengan ketidaktahuan dan kesalahan. Mungkin saja, seseorang dibalik iklan tanah kaflin ini juga demikian. Mungkin saja, seseorang itu adalah RahinG. (*)


Logika Larangan Membuang Sampah di Sekitar Kita

Suatu ketika, saya menemukan tulisan di dinding tembok pagar tidak jauh dari rumah saya.  Awalnya, tulisan itu bersahabat: “DISINI BUKAN TEMPAT MEMBUANG SAMPAH”.  Nampaknya, penghuni rumah dekat situ merasa tidak nyaman karena ada orang (entah siapa) membuang sampah dan membiarkannya tertumpuk berhari-hari di tempat yang tidak jauh dari rumahnya. Jadi ia menulis seperti itu.

Tetapi, setiap waktu masih saja ada orang membuang sampah di tempat itu.  Inilah masalah utama “public space”.  Semua orang merasa memilikinya, dan semua orang merasa boleh seenaknya meletakkan dan menumpukkan sampah di sekitarnya.  Padahal, semua orang sebenarnya tahu bahwa sampah yang tertumpuk dalam waktu lama akan menyebabkan banyak masalah: bau yang tidak sedap, pemandangan yang tidak asri, hingga aksesibilitas yang menjadi terganggu.

Maka, tidak lama setelah itu tulisan yang awalnya bersahabat di tembok mulai agak tegas.  Nampaknya, penghuni rumah dekat situ yang membuat. Ia mengganti tulisan sebelumnya menjadi “ORANG YANG BISA MEMBACA TIDAK MEMBUANG SAMPAH DISINI”.  Dengan tulisan berwarna merah menyala.  Akan tetapi, tidak ada hasil apapun.  Sampah tetap saja menumpuk, orang “tidak dikenal” selalu saja diam-diam membuang sampah disitu.

Maka, perlahan-lahan tulisan disitu berganti dari waktu ke waktu, dengan nada yang semakin lama semakin tegas.  Misalnya, tulisa itu menjadi: “BILA KAMU BERPENDIDIKAN, JANGAN BUANG SAMPAH DI SINI !!!” (dengan tiga tanda seru).  Tidak lama, tulisan itu berubah menjadi: “HANYA ANJING DAN BABI YANG BUANG SAMPAH DI SINI…”.

Tidak sampai disitu, tulisan itu kemudian berubah lagi menjadi: “YANG BUANG SAMPAH DI SINI SIAP-SIAP DIHAJAR MASSA!!!”.  Tetapi dampaknya hanya sebentar.  Tidak sampai seminggu, sampah terus berdatangan.  Pada titik puncak keputusasaan, si penulis peringatan itu akhirnya mengganti tulisan dengan: “YA ALLAH, CABUTLAH NYAWA ORANG YANG BUANG SAMPAH DI SINI!!!”.  Tetapi kemudian diganti lagi menjadi “YA ALLAH, MASUKKAN KE DALAM NERAKA ORANG YANG MEMBUANG SAMPAH DI SINI”.

Gagal Paham Logika Sampah

Saya bertanya-tanya, mengapa larangan membuang sampah itu tidak pernah efektif?  Mengapa hingga pada level ancaman paling menakutkan sekalipun, orang-orang tetap saja membuang sampah pada tempat yang tidak seharusnya?

Pertama-tama, sampah adalah sesuatu yang lazimnya dibuang.  Meskipun kini telah banyak inovasi pemanfaatan sampah untuk menghasilkan berbagai macam produk baru, namun masyarakat umum masih melihat sampah sebagai kumpulan benda-benda tidak berguna, sehingga seharusnya disisihkan.

Kedua, setiap waktu, manusia selalu memproduksi sampah.  Disadari atau tidak, kita terus-menerus menghasilkan sampah dalam jumlah yang terus meningkat.  Menurut data, rata-rata orang Indonesia menghasilkan 0,7 kg sampah per orang per hari, atau sekitar 175.000 ton sampah per hari, atau sekitar 63,8 juta ton per tahun.  Jika persoalan ini tidak diatasi segera, diperkirakan, pada tahun 2019 produksi sampah di Indonesia akan mencapai 67,1 juta ton.

Persoalan lainnya adalah kebanyakan sampah yang dihasilkan oleh orang Indonesia merupakan sampah plastik.  Jenis sampah ini sangat berbahasa bagi kelangsungan dan masa depan lingkungan hidup, mengingat karakternya yang tidak mudah terurai.  Pada tahun 2014, Indonesia adalah penghasil sampah plastik terbesar kedua setelah China.

Pada saat bersamaan, sebagian besar kota-kota Indonesia belum maksimal mengelola sampah dalam model yang lebih ramah lingkungan.  Misalnya, sampah-sampah itu sebelum dibuang, seharusnya dipilah dan dipisah dulu dari sumber pertamanya, yaitu dari manusia.  Pemilahan sampah seharusnya bukan dilakukan di tempat pembuangan akhir (TPA) sampah, atau di bank-bank sampah yang kini banyak dibentuk.

Agar dapat mencapai situasi “sampah dipilah dari sumbernya”, satu hal penting yang dibutuhkan adalah “literasi sampah”.  Dalam prakteknya, literasi sampah tidak cukup hanya dengan himbauan dan seruan, melainkan harus terbangun dalam sistem menyeluruh, mulai dari persuasif hingga tahapan koersif.

 

Jangan Melarang, Tetapi Menganjurkan

Kembali ke persoalan tulisan ancaman agar tidak membuang sampah di suatu tempat tadi.  Nampaknya, kegagalan literasi sampah terlihat disitu.  Warga selalu dibiasakan untuk menyerukan tidak membuang sampah pada suatu tempat, tetapi tidak dibiasakan memberikan solusi dimana seharusnya sampah dibuang.  Mungkin saja, ini disebabkan tidak ada tempat pembuangan sampah itu.

Saya membayangkan, jika saja sistem literasi sampah bekerja.  Pada saat ada suatu tempat yang dijadikan sasaran membuang sampah padahal disitu bukan tempat membuang sampah, otoritas setempat bersama-sama warga seharusnya segera menyiapkan tempat membuang sampah sementara.  Kemudian di tempat tadi, dipasang tulisan yang berbunyi: “BUANG SAMPAH, 20 METER DI SISI KIRI” misalnya.

Artinya, orang-orang tidak perlu mengancam orang lain hanya karena urusan sampah.  Jauh lebih baik memberikan solusi, dimana seharusnya sampah itu dibuang. (*)