Archives April 2016

Rivai Ras dan Strategi Marketing Politiknya

Akhir-akhir ini figur Rivai Ras “tiba-tiba” saja memenuhi jagad media dengan satu pesan: ingin menjadi salah satu kandidat gubernur pada 2018 nanti.  Kelihatannya, RR cukup serius. Ia mengawalinya dengan langkah lumrah dalam strategi marketing politik: meningkatkan popularitas (image branding), menampilkan diri pada banyak ruang publik agar melekat di imajinasi orang banyak.

Branding yang hendak dijual oleh RR adalah sosok “militer-cerdas”, yang menonjolkan sisinya sebagai Ketua Prodi S2 Studi Keamanan Maritim Universitas Pertahanan, juga sebagai pendiri UNHAN.  Pada setiap kesempatan, RR perlu menambahkan kedua atribut ini.

Pertanyaannya adalah: apakah figur seperti ini yang dibutuhkan masyarakat Sulsel?

Dalam teori political marketing (yang diadopsi dari pendekatan marketing konvensional) ada beberapa model political marketing yang cukup terkenal.  Dua diantaranya adalah AIDA model dan Three Stages Marketing (TSM) model.

AIDA adalah singkatan dari Attention, Interest, Desire, dan Action. Pertama-tama, seorang figur perlu menarik perhatian publik (attention).  Kemudian membuat publik tertarik atau berminat (interest) terhadap dirinya.  Setelah itu, publik dibuat membutuhkan kehadiran figur ini (desire).  Terakhir, publik diarahkan untuk bertindak (action) memilih figur tersebut dalam proses pencoblosan.

Sementara Three Stage Marketing model diawali dengan “identifikasi kebutuhan publik” sebagai tahap awal dari strategi marketing.  Seorang figur perlu membentuk dirinya menurut apa yang dibutuhkan publik.  Tahap kedua adalah “menginformasikan kepada publik bahwa sayalah figur yang Anda butuhkan itu”.  Lalu tahap ketiga adalah “menunjukkan kepada publik apa saja keunggulan tambahan yang bisa diperoleh selain pemenuhan harapan publik tadi”.

RR adalah figur yang tiba-tiba “jump-in” dalam hiruk-pikuk politik Sulsel jelang Pilgub.  Mungkin saja ia mempunyai modal besar (atau diback-up oleh kekuatan pemodal besar), sehingga mampu membranding dirinya melalui berbagai atribut: memasang baligo, membayar iklan di media massa, membentuk tim lapangan, mengadakan berbagai kegiatan seminar, dan lain-lain.

Namun sayangnya, menurut penilaian saya, figur ini belum mampu menawarkan diri sebagai figur “yang dibutuhkan masyarakat”.  Mungkin karena dirinya atau tim-nya “lupa” mengawali gerakan political marketingnya dengan “mengidentifikasi kebutuhan publik” sebagaimana pendekatan TSM.

Gaya political marketing yang digunakan oleh RR dan timnya lebih mendekati model AIDA, yaitu mengawalinya dengan menarik perhatian publik terlebih dahulu (attention).  Mereka membombardir ruang publik dengan kehadiran semu: menunjukkan diri dimana-mana, menampilkan foto-foto dengan tokoh-tokoh besar, mengklaim telah didukung oleh berbagai tokoh atau kelompok berpengaruh, dan lain-lain.

Kembali ke soal branding tadi.  Mungkin saja, sosok “militer-cerdas” adalah brand yang bagus. Tapi apakah sosok seperti itu yang dibutuhkan oleh publik Sulsel? Ini pertanyaan besar.  Saya khawatir, RR sebenarnya sedang menjual potensi dirinya (yaitu sosok “militer-cerdas”), sementara publik justru butuh figur dengan brand lain.  Jika demikian, maka upaya “attention” yang dilakukan akan tidak banyak berpengaruh.

Sejak minggu lalu, CRC salah satu lembaga survei di Makassar mulai mengukur tingkat popularitas RR.  Saya sudah membayangkan hasilnya: jika survei popularitas RR rendah, hasil survei itu tidak akan diumumkan, “hanya akan menjadi konsumsi internal”.  Tapi, jika popularitasnya tinggi, hasil survei itu akan dikapitalisasi untuk menjadi materi kampanye baru.  Tentu saja, RR berharap pada “bandwagon effect” dari hasil survei yang tinggi tersebut.

Model TSM sebenarnya sangat ideal diterapkan oleh politisi atau figur “baru” yang sebelumnya belum cukup dikenal, sebagaimana RR.  Sementara model AIDA lebih cocok untuk figur-figur lama yang memang sudah cukup populer dalam ranah politik.

Politik memang merupakan peperangan, butuh perencanaan dan strategi matang. Namun, sebagaimana dalam perang, strategi dalam politik juga mengalami pergeseran.  Dalam era masyarakat modern dewasa ini, strategi yang digunakan juga seharusnya lebih modern.  Kegagalan merencanakan adalah merencanakan kegagalan, begitu kata orang pintar. (*)

Sebenarnya, Kamu Ahli Apa?

Ini pertanyaan seorang teman kepada saya beberapa waktu lalu. Teman ini rupanya diam-diam mengamati. Atau bisa jadi, dia selalu tanpa sadar menemukan postingan saya yang semrawutan di time line media sosialnya.

Sebagai dosen, mungkin teman saya atau juga beberapa orang lain, membayangkan bahwa saya (dan juga dosen-dosen lainnya) adalah sosok yang memiliki keahlian khusus yang piawai dalam satu topik saja.  Sehingga, ketika ia menemukan variasi tidak beraturan pada postingan kita di media sosial, ia bertanya-tanya.

Tentu saja saya menyadari hal ini. Bukankah ketika menulis sesuatu, seratus persen kesadaran saya utuh. Sejujurnya, saya memang tidak peduli dengan warna postingan di sosial media. Toh media ini, menurut saya, adalah tempat berekspresi rasa dan rasio. Dan bukankah untuk mengekspresikan itu kita tidak harus jadi ahli, kan? Sepanjang memiliki rasa dan rasio, setiap kita berhak berekspresi. Begitu kira-kira justifikasi saya.

Tapi tetap saja saya peduli dengan pertanyaan teman ini.

Saya memang mengekspresikan banyak hal. Ketika sedang terjebak macet, saya menulis tentang tata kelola transportasi dalam kota yang, menurut saya, amburadul. Ekspresi saya bisa menjadi-jadi, dengan sedikit atau mungkin banyak selipan marah, ketika tahu bahwa pemerintah kota bahkan bangga dengan penghargaan sebagai kota dengan sistem lalu lintas terbaik.

Pada keempatan lain, saya mungkin berekspresi tentang politik dan politisi. Hanya karena sedang membaca berita, radar ketidaksetujuan (atau mungkin juga kesetujuan) saya bisa berbip-bip. Tidak lama setelah itu, saya berekspresi lagi tentang sampah, perang, dan IT. Seolah ketiga hal itu berada level yang layak untuk disetarakan.

Sejujurnya, saya tidak pernah merasa diri sebagai ahli. Meskipun untuk hal-hal “serius” (ada makna pejoratif dengan tanda kutip itu), saya lebih banyak menulis tentang demokrasi, keterbukaan informasi, dan korupsi. Tetap saja saya bukanlah ahli di urusan itu. Tulisan serius saya selalu penuh kutipan, bukti bahwa untuk menulis pun saya masih butuh “beking”.

Akhirnya, hanya jawaban dengan pertanyaanlah yang bisa saya berikan kepada teman ini. ” haruskah seseorang menjadi ahli untuk berekspresi?” (*)

Warkop Yang Melengkapi Makna

Ada semacam senang setiap kali mampir disini. Namanya Warkop 51, di depan kompleks perumahan Bukit Khatulistiwa (saya menyebutnya “Bukatul”), di daerah Daya, Makassar. Selain kopinya yang enak, suasana ramai anak-anak muda alay campur baur dengan beberapa sosok dewasa yang tampak serius. Di latar belakang, dengan volume sedang, selalu terdengar lagu-lagu top forty, baik yang sedang atau yang telah.

Awalnya, saya terdampar disini karena membutuhkan akses internet murah. Ya, murah, karena untuk akses bertiga byte sekalipun, kita hanya butuh sedikit cangkir kopi seharga Rp. 7.000,- untuk ukuran kecil, atau Rp. 9.000,- untuk gelas normal.

Warkop ini menyediakan wifi “gratis” dengan kecepatan memadai. Bahkan pada saat jumlah user sedang tinggi sekalipun, internet yang terpancar melalui 4 hot spot masih sanggup mengatasinya. Maka, mayoritas orang duduk disini membuka laptop atau tablet. Tentu saja, ada banyak alasan orang-orang ini mengakses internet. Namun ada yang dominan: akses sosial media atau nonton film, baik via YouTube atau media streaming lain.

Jika pulang dari kampus tidak terlalu larut, saya sempatkan mampir. Mungkin menjajaki segelas kopi, atau sekedar bertemu teman untuk ngobrol. Tentu saja teman yang tinggal tidak jauh dari Warkop ini. Menariknya, setiap mampir disini selalu saja saya bertemu teman-teman yang tidak terduga. Maksudnya, tidak terduga bertemu disini.

Begitulah. Warkop ini bukan lagi tempat minum kopi. Kini ia tempat mengelola pertemanan dengan cara tidak terduga. Dalam banyak hal, pertemanan tidak terduga selalu memberi banyak peluang baru. Itulah kekuatan networking.

Dan itulah yang terjadi kemudian. Saya merasakan penemuan dari setiap ketidakterdugaan. Segelas kopi di warkop ini mungkin tidak mengangkat lelah. Tetapi ia melengkapi makna. Bagi saya, sebaik-baik hari adalah hari yang bermakna. (*)