Makassar dan Kenangan, eh Genangan

Waktu itu tahun 2013. Di sela-sela studi di Kyoto, saya sempatkan ke Makassar. Kebetulan sedang hajatan jelang pemilihan walikota Makassar. Seperti biasa, setiap sudut kota penuh poster dan baliho. Apalagi jumlah kandidat lumayan banyak.

Tetapi bukan itu yang menarik. Saya selalu terkesima dengan spot (yang mungkin saja iklan berbayar) di Radio Mercurius Top FM, berisi paparan singkat seorang calon Walikota Makassar, Danny Pomanto. Siaran itu hampir setiap hari, dan sehari bisa berkali-kali. Konten paparan juga beragam, tetapi intinya adalah gagasan apa yang akan beliau lakukan membenahi kota Makassar jika terpilih dan memperoleh kepercayaan rakyat.

Saya selalu takjub dan mencerna dengan kagum. Gagasan yang beliau lontarkan sungguh progressif, “out of the box”, dan aplikatif. Misalnya, ketika berbicara tentang masalah saluran pembuangan dan drainase yang pada musim hujan selalu memberi masalah berantai hingga terjadi genangan, beliau berbicara tentang model di kota-kota dunia. Drainase itu harusnya tertutup, terletak di bawah tanah, sehingga sampah tidak leluasa masuk. Dengan begitu penyumbatan dapat diminimalisir. Selain itu, area permukaan di atas drainase yang tertutup itu dapat bermanfaat untuk banyak keperluan.

Beliau juga berbicara tentang model pengelolaan sistem transportasi massal, bagaimana mengatasi macet, bagaimana menyediakan ruang publik dengan konsep taman tematik, bagaimana mengatasi masalah sosial seperti kriminalitas jalanan, kenakalan remaja dan perkelahian antar kelompok.

Mendengarnya sungguh membuat saya terbayang pada Makassar masa depan (sesuai slogan kampanye yang beliau usung), yang akan jauh lebih baik, lebih manusiawi, dan menjadi tempat hidup menyenangkan.

Dan beliau terpilih sebagai Walikota, dilantik pada 8 Mei 2014. Gebrakan pertama beliau adalah: menandatangani MOU dengan PT. Telkom untuk mengaplikasikan Makassar Smart City, suatu pendekatan pelayanan publik berbasis e-Government. MOU itu beliau teken saat itu juga, hanya sejam setelah pelantikan. Beliau langsung bekerja, bahkan tidak sempat berpesta kemenangan. Saya salut!

Hari berganti, bulan berganti.

Saya datang ke Makassar lagi pada November 2015. Kali ini untuk waktu yang agak lama. Niatnya adalah menulis paper mini riset tentang Makassar Smart City, untuk presentasi di Symposium Internet in Southeast Asia, Power and Society, di Kuala Lumpur.

Alangkah kagetnya ketika melintas di jalan Abdullah Dg. Sirua pada suatu sore yang padat. Sedang ada pembangunan, tepatnya pembetonan, jalan. Pengerjaannya separuh-separuh. Jadi, karena separuh badan jalan dibeton, separuh lainnya digunakan untuk akses kendaraan dari dua arah. Tentu saja, kendaraan bertumpuk, padat menggila, dan saling mengunci. Saya dan ratusan pengguna jalan lain terjebak hampir 2 jam tidak bisa bergerak!

Tidak ada pemberitahuan, spanduk, atau papan bicara di ujung jalan kalau jalan ini sedang dalam proses pengerjaan. Saya dan ratusan pengguna jalan tentu tidak menduga akan terperangkap macet di depan sana. Dan ini bukan pembangunan standar kota dunia, bahkan standar kota biasa sekalipun. Ini bukan pembangunan ala Smart City yang saya bayangkan. Pembangunan jalan macam apa yang tidak dilengkapi strategi mengalihkan sementara jalur lalu lintas. Padahal, even a fool can know, proses pembetonan ini akan berdampak sementara pada trafik yang kacau.

Hari ini, ketika menulis postingan ini, Kota Makassar telah diguyur hujan selama 3 hari. Jalan-jalan penuh air tergenang. Lalu lintas, tentu saja, menjadi sangat padat kalau tidak mau disebut macet. Di beberapa tempat, pengendara motor terjatuh, karena melintas jalan berlubang yang tidak ketahuan gara-gara tertutupi genangan air hujan.

Salut kepada aparat pemerintah kelurahan dan kecamatan yang sigap mengangkat tumpukan sampah dari selokan agar air dapat lewat. Tetapi itu tidak cukup, tentu saja. Dibutuhkan rekayasa besar, sebesar gagasan Pak Danny ketika berbicara di radio sebelum jadi Walikota. Rekayasa itu harus komprehensif, rekayasa teknis dan rekayasa sosial. Juga rekayasa kebijakan.

Ini tentu saja bukan hanya urusan Walikota. Persoalan hidup adalah persoalan semua warga kota, tidak terkecuali. Akan tetapi, hanya Walikota satu-satunya yang mengumbar janji akan menjadikan kota ini tambah baik. Maka, tidak salah jika warga menaruh harapan besar terhadap janji itu. Di balik jabatan, ada kekuasaan besar. Mengelola kekuasaan, itulah kata kuncinya.

Dengan kekuasaan itu, Walikota dapat menggerakkan seluruh potensi kota. Sebab, Walikota bukan superman. Ia adalah orang biasa yang juga butuh bantuan. Sayangnya, tidak sedikit orang yang tampil seolah-olah membantu. Ini masalah lain lagi.

Rekaman-rekaman spot radio itu saya yakin masih terdokumentasi baik di Radio  Mercurius. Saya tiba-tiba rindu untuk  mendengarnya lagi. Mungkin bersama-sama Pak Danny yang sekarang telah menjadi Walikota. Mungkin kami sambil duduk-duduk di sebuah kafe, yang lantainya penuh genangan air setinggi betis.(*)