Archives November 2015

Hilangnya Hak Asasi Warga di Jalan-jalan Makassar

Beberapa ruas jalan di dalam Kota Makassar sedang dalam pembenahan.  Yang maksud “pembenahan” disini adalah: jalan-jalan yang sebenarnya masih bagus itu dilapisi dengan konstruksi beton.  Pembenahan jalan ini dilakukan begitu saja, tanpa memikirkan kepentingan warga Makassar. Sungguh praktek pembangunan yang tanpa akal sehat, berdampak pada pengabaian hak asasi warga Kota Makassar.

Saya menggunakan kendaraan melewati jalan raya yang biasa, menyusuri ruas Jalan Abdullah Daeng Sirua dari Tello menuju hendak menuju kawasan Panakukkang. Akan tetapi, tiba-tiba saja kali ini saya terjebak kemacetan luar biasa. Hingga lebih 2 jam terjebak tidak bisa maju dan tidak bisa mundur.  Penyebabnya, sedang terjadi penyempitan jalan, karena seperempat jalur jalan sepanjang beberapa puluh meter tidak bisa dilewati, akibat semen pelapis yang belum kering.  Di depan sana, terjadi “bottle neck”, penyempitan jalan yang berlanjut dengan kendaraan yang akan bergerak pada arah berlawanan, terkunci saling berhadap-hadapan.

Read More

Kemenlu Yang Menohok Hati


Ada yang terasa menohok ketika acara Seminar Indonesia Menyongsong Masyarakat ASEAN 2015 yang diselenggarakan oleh Kementerian Luar Negeri di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Dalam sambutan pembukaan, Sekretaris Daerah Kabupaten Maros, Ir. H. Baharuddin, MM yang mewakili Plt. Bupati mengatakan:

“Ini adalah hari yang harus dikenang. Saya telah menjadi pejabat di Maros lebih 10 tahun. Inilah pertama kalinya Kementerian  Luar Negeri RI melakukan kegiatan seperti ini disini”.

Kabupaten Maros bukanlah daerah pedalaman, atau wilayah yang jauh dari Kota Makassar, ibukota Propinsi Sulawesi Selatan. Kota ini hanya berjarak 30 km dari pusat kota Makassar, dan dapat ditempuh dengan waktu 20-30 menit melalui jalan tol.

Bahkan, bandara internasional Sultan Hasanuddin itu letaknya di wilayah administratif Kabupaten Maros. Jika keluar dari bandara ini, kita akan mendapat perempatan. Belok kanan adalah akses menuju Maros, dengan waktu tempuh hanya 10-15 menit. Akses jalan mulus dan lebar.

Tetapi, Kementerian Luar Negeri RI setiap datang ke Sulsel untuk sosialisasi ASEAN Community selalu belok kiri menuju Kota Makassar. Begitu juga kementerian dan lembaga lain dari Jakarta.  Soal ASEAN Community semakin sering disosialisasikan, terutama menjelang implementasinya pada 1 Januari 2016 yang tinggal beberapa bulan lagi.

Masalah utama dalam implementasi ASEAN Community ini adalah sifatnya yang terlalu elitis.  Ini adalah forum kesepakatan para diplomat dan pemerintah pusat, dan diharapkan nantinya akan diaplikasikan dan diadopsi oleh pemerintah daerah dan masyarakat pada tataran implementasinya.  Akan tetapi, hingga hari-hari menjelang implementasinya, mayoritas entitas di daerah masih asing dengan ASEAN Community.

Saya membayangkan, sedangkan Kabupaten Maros yang waktu tempuh dari Makassar hanya 20-an menit itu begitu remang-remang dengan realitas ASEAN Community. Bagaimana pula dengan Kabupaten Luwu Timur yang membutuhkan waktu perjalanan 12 jam dengan bis malam, dan puluhan daerah lain di utara.

Orang-orang Gila di Sekitar Kita

Entah dimana, tapi saya pernah membaca kalimat ” menurut statistik kegilaan satu dari empat orang di dunia mengalami masalah gangguan mental”. Setelah mencari-cari, saya dapatkan kutipan satire dari Rita Mae Brown: “The statistics on sanity are that one out of every four people is suffering from a mental illness. Look at your 3 best friends. If they’re ok, then it’s you.”

Mae Brown mungkin sedang berolok-olok. Atau bisa jadi, dia sedang alami gangguan mental. Kegilaan memang situasi yang tampak kompleks, berkaitan dengan struktur normal dan tidak normal. Pertanyaan besarnya adalah: apakah yang normal itu?

Kita hidup di dunia dimana nilai, norma, dan adab telah bertautan dan nyaris berantakan. Anda bisa saja masuk di kantor A menggunakan sendal jepit dan Anda akan dianggap gila. Tapi ketika Anda masuk di kantor B menggunakan separu kulit pantofel yang mentereng, Anda bisa dianggap gila.

Uniknya, bisa saja lokasi kantor A dan B ini berdampingan.

Ada anggapan bahwa hal normal adalah hal yang dilakukan banyak orang. Ketika Anda tidak melakukannya, Anda tidak normal. Batasnya akan carut-marut dengan nilai benar dan salah, dengan baik dan buruk.

Banyak hal salah dan buruk dilakukan banyak orang sebagai hal normal. Apakah ini tidak bentuk kegilaan lain?

Untungnya, saya menemukan kutipan dari Oscar Levant: “kegilaan dan jenius itu garis pemisahnya sangta tipis”. Kalau garis ini kita hilangkan, situasi apa yang kita temukan?

Mari minum kopi…

Demonstrasi Anti Perang dan Budaya Kawaii

Jumlahnya sekitar 50-an orang. Ada anak muda, orang tua, laki-laki dan perempuan. Mereka long march sambil orasi via megaphone, membawa puluhan spanduk, poster, dan alat peraga lain. Ya, mereka adalah sekumpulan warga Jepang yang sedang berdemonstrasi di tengah keramaian pusat perbelanjaan di Kyoto, di area Kawaramachi.

Demonstrasinya sendiri biasa saja. Sangat standar negara maju yang penuh kesantunan. Rombongan ini hanya menggunakan sebagian kecil badan jalan, sehingga tidak membuat macet. Juga ketika dipersimpangan jalan ada lampu merah bagi pejalan yang menyala, mereka ikut berhenti.

Tapi ada satu hal menarik bagi saya. Di antara belasan poster dan alat peraga, ada satu yang dilengkapi gambar Anpanman, tokoh kartun yang usil itu. Tentu ada maksud tertentu mereka menyertakan Anpanman dalam demonstrasi pro perdamaian.

Akhir-akhir ini, banyak warga Jepang menilai PM Shinzo Abe sedang tersesat dalam sikap agresif dan ingin membawa-bawa Jepang dalam konflik bersenjata lagi. Sudah 70 tahun warga Jepang merasa damai. Juga banyak warga yang dilanda kengerian setiap membaca kisah-kisah perang Jepang di masa lalu, terutama Perang Dunia II. Kebijakan PM Abe membuat warga merasa terancam dan khawatir akan masa depan prinsip cinta dama (pasifis) Jepang.

Terus terang, saya agak sulit menemukan hubungan kehadiran Anpanman dalam demonstrasi kali ini. Tapi ada beberapa dugaan saya.

Pertama, Anpanman adalah tokoh kartun yang merepresentasikan anak-anak. Konflik dan perang merupakan ancaman bagi masa depan. Dan anak-anak adalah representasi masa depan.

Kedua, bisa jadi demonstrasi ini numpang ketenaran Anpanman. Maklumlah, unjuk rasa di Jepang, apalagi di Kyoto, sangat tidak menarik perhatian. Anpanman berjuta kali lebih populer. Karakter ciptaan Takashi Yanase ini merupakan figur paling populer pada anak-anak usia 0-12 tahun selama 10 tahun berturut-turut (2001-2011). Tidak anak Jepang tidak mengenal Anpanman, bahkan mayoritas mengoleksi berbagai atributnya.

Ketiga, ini agak menarik, faktor “kawaii culture” atau budaya imut-imut. Orang Jepang sangat gandrung dengan hal-hal yang “cantik, mungil, lucu, imut-imut” digabung jadi satu. Di tempat konstruksi atau pekerjaan jalan (yang konotasinya “keras”) tidak jarang kita temui instrumen yang didesain lucu dan imut, misalnya pembatas berbentuk kelinci. Anpanman diposter unjuk rasa ini juga, bisa jadi, merupakan representasi kawaii culture.

Menarik sebenarnya mengulas kawaii culture ini. Mungkin nanti di postingan yang lain dih… 🙂

View on Path