Archives October 2015

Makassar Bersih dan Tragedi Milik Bersama

Dalam pengelolaan lingkungan hidup, terdapat istilah populer yang disebut “tragedy of the common”. Garret Hardin telah menulis artikel dengan judul itu di jurnal prestisius Science pada 1968. Sayangnya, banyak pengelola kota yang melupakan (atau mengabaikan?) fenomena ini. Padahal, ini adalah akar persoalan mengapa sulit sekali mendorong partisipasi publik dalam menciptakan lingkungan hidup bersih, bebas sampah, tertata rapi dan indah.

Lingkungan hidup dianggap sebagai milik bersama (common goods). Karena semua orang merasa memiliki, maka semua orang “menyadari” bahwa mereka harus menjaganya. Akan tetapi, orang-orang tidak terdorong “bertindak” menjaganya. Ada kesenjangan antara “menyadari” dan “bertindak” nyata. Misalnya, kita tahu bahwa membuang sampah tidak boleh sembarangan. Tetapi, ketika ada orang lain membuang sampah sembarangan dan tidak ada dampak buruk apapun yang langsung dirasakan pelakunya dan orang lain, maka orang-orang akan berpikir: “kenapa saya harus tertib, sementara orang lain tidak? Toh, tidak ada dampak apa-apa”.

Di Makassar, Walikota mencanangkan Lihat Sampah Ambil (LISA). Publik tahu program itu. Publik juga paham bahwa memungut sampah berserakan adalah penting bagi kebersihan, keindahan, dan kesehatan lingkungan. Tetapi, pada saat yang sama publik berpikir: “kalau saya memungut sampah yang berserakan, apakah orang lain melakukan juga hal yang sama?”. Pemikiran seperti ini timbul karena faktanya disekitar kita, kebanyakan orang mengabaikan sampah, termasuk figur-figur yang seharusnya menjadi “public opinion leader”.

Semua orang sebenarnya mengetahui, tetapi kebanyakan orang saling tidak percaya. Ketidakpercayaan ini lahir karena proses panjang dan terus-menerus yang terjadi setiap hari. Orang-orang yang berkampanye tentang hidup bersih tidak cukup menjadi contoh hidup bersih. Selain itu, juga ada gejala saling harap. Kebanyakan orang berpikir: “tidak usah saya yang melakukan, akan ada orang lain yang melakukan koq”. Karena kebanyakan orang berpikir begitu, yang terjadi adalah justru banyak orang tidak bertindak. Itulah “tragedi milik bersama” atau “tragedy of the common”, yang menggambarkan sulitnya mengelola sesuatu yang tidak jelas kepemilikan individualnya.

Gejala global

Tragedy of the common adalah fenomena global, dipahami sebagai benturan antara “kepentingan individu” (yang selalu ingin senang, nyaman, dan tidak repot) versus “kepentingan bersama” (yaitu tersedianya lingkungan yang bersih, nyaman, dan sehat). Dalam kajian lingkungan hidup, kondisi sosial (dan psikologi) masyarakat yang terjebak pada situasi seperti ini selalu menjadi pertimbangan para pengambil kebijakan.

Ada tiga pendekatan ekstrim untuk menjawabnya, yaitu memicu kesadaran bersama (call to conscience), paksaan (coercion), dan swastanisasi (privatization). Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan, sehingga tidak ada model tunggal yang dapat diadopsi. Karena kompleksnya pengelolaan lingkungan, setiap kebijakan seharusnya memadukan ketiganya, namun dengan memilih penekanan (prioritas) pada salah satunya.

Memicu dan membangkitkan (serta mempertahankan) kesadaran publik membutuhkan waktu lama dan kerja-kerja intensif. Karena ini berkaitan dengan budaya dan kebiasaan, maka butuh proses menginstalnya. Dalam rekayasa perilaku sosial, ada formula yang lazim tentang metode pengulangan: “perilaku yang diulang-ulang akan menjadi kebiasaan, kebiasaan yang diulang-ulang akan menjadi budaya, budaya yang diulang-ulang akan menjadi karakter”.

Pada tahapan tertentu, peran instrumen “paksaan” juga dibutuhkan, baik sebagai instrumen tunggal atau sebagai bagian dari proses membangun kesadaran. Cara yang paling rasional adalah dengan menegakkan aturan. Sebagian besar kota memiliki aturan pengelolaan lingkungan, mulai urusan membuang sampah hingga ke hal-hal yang rumit seperti Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Namun penegakkan aturan-aturan ini seringkali tidak pernah serius.

Cara lain yang bisa ditempuh adalah privatisasi, yaitu menyerahkan pengelolaan lingkungan kepada swasta, terutama pada bagian-bagian yang memungkinkan. Dalam upaya pemilahan sampah, misalnya, swasta memiliki peluang untuk terlibat, mengingat besarnya potensi ekonomi yang terselubung di dalam sampah. Swasta juga dapat terlibat dalam urusan pengelolaan fasilitas publik dan ruang terbuka, revitalisasi sungai, atau pemeliharaan taman-taman kota.

Tentu saja, kritik dan tantangan terbesar dalam pelibatan swasta adalah biaya. Karena karakter pihak swasta yang mengutamakan profit, maka swastanisasi berdampak pada peningkatan beban biaya yang kemungkinan akan ditanggung masyarakat.

Untuk Makassar

Manakah yang seharusnya menjadi prioritas Makassar? Ini tidak bisa dijawab dengan perkiraan atau hayalan, atau dengan menjiplak saja dari apa yang telah dilakukan daerah lain. Pengambil kebijakan harus mendasarkan keputusannya pada riset, terutama riset sosial. Hal terpenting untuk dipertibangkan adalah memahami persepsi publik, karakter masyarakat serta dinamikanya.

Pendekatan yang berlandaskan pada kesadaran bersama sebenarnya jauh lebih berkelanjutan dan efektif secara biaya. Tetapi persoalan terbesar adalah mengawalinya dan mempertahankannya. Dalam konteks Makassar, pendekatan membangun kesadaran ini jauh lebih sulit. Dengan karakter masyarakat yang beragam, dibutuhkan koordinasi sistematis, dimana peran koordinator ini dapat dimainkan oleh pemerintah.

Sayangnya, pemerintahan memiliki batas waktu, dan pemerintahan baru selalu datang dengan gagasan baru. Jarang sekali kita melihat ada program berkelanjutan. Dulu, ketika Makassar masih bernama Ujung Pandang, ada program “Teduh Bersinar”, akronim dari Tertib dan Hijau, Bersih, Indah dan Rapi. Substansinya adalah mengoptimalkan kebersihan dan keindahan kota. Pemerintahan berganti, program ini berakhir menjadi nama jalan.

Beberapa waktu lalu, Wakil Walikota Makassar pernah melakukan aksi pungut sampah setiap pagi ketika dalam perjalanan menuju kantor di Balaikota. Sayang, contoh baik ini berhenti begitu saja. Walikota juga pernah tampil sekali dengan foto-foto di media massa ketika menyapu Pantai Losari jelang AMF. Hajatan AMF usai, selesai jugalah aktifitas itu.

Tidak usah menghitung berapa sampah yang bisa dipungut Walikota atau Wakil Walikota. Substansinya bukan itu. Keduanya adalah public opinion leader, dimana tindakan mereka akan menjadi pembicaraan publik dan membentuk opini. Kehadiran mereka adalah penting untuk memicu kesadaran publik. Memberi contoh tiga puluh menit setiap pagi, dapat memberi efek jauh lebih besar daripada memasang spanduk kampanye dimana-mana atau berbicara berjam-jam di seminar setiap hari. Terlalu banyak pesan kampanye dan sosialisasi bisa membuat publik bergumam “ah, piti kana kanai ji itu”. (*)

Dimuat pada harian Tribun Timur Makassar, Selasa, 27 Oktober 2015, hal. 23 (OPINI)

Beginilah Tantangan Terbesar Berselfie

Di Kyoto ada banyak sebaran obyek yang bisa diajak wefie. Dan variatif. Akan tetapi, meski sudah hampir setahun berlatih teknik selfie dan wefie, skil saya tidak kunjung meningkat.

Inilah penyebabnya. Setiap mau praktek, selalu dijabir (istilah gaulnya di Makassar) oleh pandangan mereka. Ada tatapan mamito yang penuh curiga. Ada tatapan Zidan seolah bilang: “papito ini, kayak abg saja”. Ada tatapan si kembar seolah bilang: “lho, memangnya mereka lebih cantik dari kita ya?”. Tatapan Akachan yang bungsu rasanya paling tidak tega, seolah matanya bilang: “papito, saya juga ikuuut”…

The picture originally made by Shanti Yani (www.perduliar.com)

View on Path

Mottainai dan Mubazzir, Sama Ide Beda Praktek

Orang Jepang menyebutnya “mottainai”. Dalam Islam, dan juga populer di Indonesia, kita sebut “mubazzir”. Arti harfiahnya bisa jadi berbeda. Akan tetapi penggunaannya sangat mirip: “jangan dibuang”, atau “jangan sia-siakan”. Dalam praktek yang paling sederhana, saat makan kita menghabiskan sampai piring bersih. Jangan sia-siakan makanan.

Meskipun “mottainai” diakui sebagai istilah yang diambil dari agama Budha, namun praktek “makan jangan bersisa” di Jepang tidak memiliki akar agama. Seorang teman Jepang yang saya tanya mengapa kamu makan sampai habis dan piring hampir bersih, merespon balik: “Mengapa ya? Wah, saya tidak memikirkan hal itu. Ini kebiasaan saja. Dan rasanya, kasihan sekali kan kalau makanan tersisa. Banyak orang kekurangan makanan di dunia ini, koq kita malah membuang-buang makanan”. Tidak sedikitpun teman ini menyebut karena dilarang Tuhan, atau nanti dimarahi oleh “Amaterasu” (dewa tertinggi dalam Shinto).

Saya mencatat dua hal penting dari kata-kata teman ini: “kebiasaan” dan “empati”. Kita masih dan selalu menemukan mottainai di Jepang karena orang-orang dibiasakan untuk berpraktek mottainai. Di sekolah dasar anak saya sampai kelas 3, guru kelas tidak terlalu khawatir jika ada anak tidak bisa membaca atau berhitung. Akan tetapi, guru akan menanggapi serius jika ada anak yang tidak habiskan makanan.

Bagaimana dengan “mubazzir”?

Di Indonesia, sedikit sekali orang tua yang mau meluangkan waktu memberitahu anaknya agar tidak menyisakan makanan. Bahkan orang tua sendiri lazim berpraktek seperti itu. Coba lihat di rumah makan atau pesta perkawinan. Susah membiasakan sesuatu kepada anak-anak jika orang tuanya: tidak mau memberi contoh, atau tidak mau meluangkan waktu.

Di awal datang di Jepang, tahun 2011, saya “sit in” mata kuliah “Development Studies in Developing Countries”. Seorang teman, namanya Saori Tezuka. Kadang saya tidak bisa bedakan apakah dia kandidat doktor atau model. Dandannya dan make upnya selalu menonjol. Saori selalu bilang waktu untuk membaca masih lebih banyak dibanding berdandan. “Syukurlah saya tidak terlalu percaya agama, sehingga saya tidak banyak ibadah”, katanya suatu kali.

Saori berbicara, dengan bangganya, tentang praktek mottainai di Jepang. Ia yakin, praktek ini memberi kontribusi positif pada lingkungan hidup. Saat banyak kota di dunia hadapi masalah dengan pengelolaan sampah, kota-kota di Jepang jauh lebih terbantu dengan “moittanai” ini. Untuk itu, kata Saori, pemerintah Jepang sedang berupaya mendaftarkan mottainai sebagai “warisan budaya dunia” di UNESCO. Menurutnya, budaya ini harus dilestarikan, kalau perlu disebarkan.

Saya menyela, di Indonesia dan banyak negara Islam, ada nilai “mubazzir”. Substansinya sama dengan “mottainai”. Jadi, sebenarnya nilai itu memang nilai dunia yang telah ada di banyak masyarakat.

Saori heran. Dia bilang banyak teman-teman dia yang muslim sering menyisakan makanan di piring. Awalnya, mereka ambil makanan dalam jumlah besar, kemudian tidak dihabiskan. Akibatnya, dibuang.

Dan Saori bertanya, “Bagaimana dengan Indonesia? Apakah orang Indonesia masih mempraktekkan mubazzir itu, Ishaq San?”. Saya hanya tersenyum. Tapi sejak saat itu, saya selalu menghabiskan makanan di piring. Mungkin bukan karena mottainai atau mubazzir. Mungkin lebih karena faktor Saori. Ya, malu rasanya mendapat pertanyaan seperti itu dari seorang yang lebih banyak habiskan waktu untuk berdandan daripada beribadah… – at Starbucks Coffee 京都三条大橋店

View on Path

Sekedar Rubik Di waktu Senggang

Rekor nasional Rubik 3×3 diselesaikan dalam waktu 6.84 detik (Stephen Adisaputra). Rekor dunia adalah 5.25 detik yang baru saja dicatatkan oleh seorang remaja Amerika pada April 2015 lalu. Rekor dunia sebelumnya, 5.63 detik dipegang selama dua tahun oleh Feliks Zemdegs dari New Zealand.

Berapa rekorku? 3.2 detik….
Eh salah, menit maksudnya… Hehehe. Ya, catatan waktu terbaik saya adalah 3 menit 20 detik.

Lumayanlah. Untuk ukuran Bapak-bapak yang kerjaan utamanya mengurus seorang anak cowok dan tiga anak cewek (dua diantaranya adalah kembar), dengan kerjaan lebih utama lagi mengajar dan meneliti, dan lalu kerjaan tambahan wajib belajar, rekor itu rasanya tidak buruk-buruk amat.

Tapi tentu saja, saya butuh motivasi mengejar rekor seseorang. Siapa dia? Namanya Will Smith (hehehe). Rekornya adalah 55 detik. Dulu, Smith pernah ngos-ngosan mengejar kebahagiaan (dalam Pursuit of Happiness). Sekarang, saya akan mengejar-kejar rekor rubik-nya (bisalah Pursuit of Smith…heheh). Do’akan saya berhasil, permirsahhh… (pake “h”, jadi mendesah…)

Btw, ada yg bisa selesaikan dalam waktu kurang dari 5 menit? Berarti bisa kita ngopi bareng sambil bawa rubik. Yang bisa selesaikan dengan waktu tercepat kopinya dibayarkan.

Atau ada yang ingin berlatih agar bisa selesaikan dalam waktu sekitar 10 menit? Lagi-lagi, bisalah kita ngopi bareng sambil bawa rubik. Secangkir kopi belum habis, tekniknya bisa dikuasai. Asalkan, kopi saya dibayarkan…

Atau ada yang mau latihan teknik dasar menyusun rubik? Marilah kita ngopi-ngopi sambil bawa rubik. Kopi belum habis, teknik dasar sudah bisa dikuasai koq. Tapi, kopi saya dibayarkan ya…

Sebenarnya, saya hanya mencari teman ngopi yang bersedia membayarkan kopi saya.. 😂😂😂😂 – at Kyoto, Japan

View on Path

Makassar Tidak Terambil

“You can take someone out off Makassar. But you can’t take Makassar out off someone”. Begitulah… Kalian bisa mengeluarkan seseorang dari Makassar, tapi kalian tidak akan pernah bisa mengeluarkan Makassar dari dalam diri seseorang.

Kalimat ini pertama saya dengar dari teman, dulu adik angkatan di Unhas. Namanya Erlita. Dia cantik, modern, dan bertahun-tahun tinggal di New York. Tapi ketika berbicara, kalimatnya dipenuhi: mi, ji, ki…

Beberapa tahun ini saya tinggal di Kyoto. Maka sering sekali saya memposting foto atau berbagi pengalaman tentang kota ini. Seorang rekan, saya yakin ia bercanda, bilang: “takkala sekalian pindah mi ki di situ”. Teman ini tentu mengira saya mengagungkan kota ini.

Saya sarapan dan minum kopi di Starbucks yang saya lewati dalam perjalanan ke kampus. Suasananya jauh dari keriuhan dan keramahan warkop ala Makassar.

Tapi di meja ini, saya bisa menghadirkan Makassar melalui tumbler kopi. Lumayan, selain bisa bantu promosikan kota, juga dapat diskon 10% karena bawa tumbler sendiri. Hehehe…

Yes, we are always Makassarian… – at Starbucks Coffee 京都三条大橋店

View on Path