Archives July 2013

Diwawancarai Sebagai Seorang Muslim Yang Tinggal di Jepang

Suasana Sholat Jum'at di Kyoto Muslim Association (foto: ishaq)

Suasana Sholat Jum’at di Kyoto Muslim Association (foto: ishaq)

Islam adalah agama dengan jumlah pemeluk sangat sedikit di Jepang.  Tetapi tentu saja saya tidak bisa menyebut bahwa Islam adalah agama minoritas.  Sebab secara sosiologi politik, minoritas itu adalah konsep tentang relasi kuasa, dan bukan sekedar angka statistik.

Artinya, jumlah yang kecil tidak berarti minoritas.  Begitu jumlah yang besar tidak serta-merta berarti mayoritas.  Konteks minoritas-minoritas adalah hubungan mempengaruhi berdasarkan mainstream idea tertentu.  Di Jepang, pengaruh aspek-aspek di luar jangkauan rasio (beyond rationality) masih cukup penting.  Menariknya, masyarakat Jepang masih dapat bertindak rasional dalam hidup bermasyarakat yang terus berubah.

Akhir-akhir ini, saya merasakan bahwa perhatian warga Jepang terhadap Islam mengalami kemajuan.  Awalnya adalah pada bulan Ramadhan tahun 2012 lalu.  Ada beberapa kabar yang menunjukkan makin pesatnya perhatian warga Jepang terhadap Islam.

Setiap Ramadhan, warga Muslim Kyoto mengadakan Ifthar Party, semacam acara buka puasa bersama.  Masing-masing Muslim dari setiap negara akan menggelar makanan khasnya masing-masing untuk dinikmati bersama.  Pada momen ini juga diundang warga Jepang non muslim yang berminat untuk mengenal lebih jauh Islam dan kehidupan warga muslim.

Pada Ifthar Party tahun 2012 lalu, untuk pertama kalinya Walikota Kyoto turut hadir.  Selain memberikan sambutan singkat, beliau juga menyempatkan diri untuk berkeliling mencicipi makanan dari berbagai negara.

Saat itu, saya juga mendengar kabar bahwa di Tokyo, Perdana Menteri Jepang juga untuk pertama kalinya mengundang para duta besar negara-negara Muslim pada suatu jamuan buka puasa bersama dan makan malam.

Sekitar tiga minggu lalu, sekelompok mahasiswa Doshisha Women College of Liberal Art (DWCLA) meminta saya menjadi nara sumber untuk kegiatan penulisan artikel mereka di koran berbahasa Jepang.  Mereka meminta saya membagikan berbagai kesan saya sebagai seorang Muslim yang hidup di Jepang.  Sepanjang proses wawancara yang berlangsung beberapa kali itu, saya merasakan kesempatan tidak saja membagikan pemahaman dasar tentang Islam tetapi juga belajar kembali tentang hal-hal mendasar tentang Islam.  Sebab, kebanyakan pertanyaan mereka berkaitan dengan hal-hal dasar yang kadang-kadang tidak pernah ditanyakan oleh seorang Muslim.

Dan ternyata menjadi seorang Muslim yang rasional adalah hal yang sudah hampir saya lupakan.  Hal itu saya sadari setelah banyak memperoleh pertanyaan “mengapa” dari Yui Tani, Tomoko Yoshikawa, dan kawan-kawannya.  Misalnya, mereka bertanya: “mengapa kalau shalat harus ruku dan sujud?”.  Ketika saya menjawab bahwa itulah ajaran Islam, mereka kembali bertanya: “mengapa Anda menerima ajaran seperti itu?”.  Wow…

Dan, dengan sedikit mengeles karena pemahaman rasional yang terbatas, saya hanya selalu memposisikan diri pada pemilahan antara ibadah dan muamallah. Bahwa kalau untuk ibadah, kita membutuhkan waktu panjang untuk mendiskusikannya, dan butuh waktu panjang untuk memahaminya.  Jadi, lebih baik kita berbicara pada tataran muamallah saja.

Nampaknya mereka cukup paham hal itu.  Apalagi, artikel yang akan mereka tulis sebenarnya lebih berfokus pada bagaimana kesan seorang Muslim yang hidup di Jepang, di tengah perbedaan nilai dan budaya.

Kesan saya sendiri terhadap wawancara ini adalah adanya minat yang makin tinggi dari warga Jepang terhadap Islam.  Mungkin saja minat ini berkaitan dengan pertimbangan ekonomi (ya, sekitar 1,6 milyar pemeluk Islam di seluruh dunia merupakan pasar yang sangat signifikan).  Akan tetapi, juga mungkin saja minat ini berkaitan dengan motif-motif pencarian spiritual dari individu-individu di Jepang.

Proses wawancara kemudian berlangsung intensif.  Mahasiswi-mahasiswi DWCLA ini kemudian sering mengirim email atau menaruh pesan inbox di facebook saya, berisi pertanyaan-pertanyaan individual. Misalnya: “sebagai seorang Muslim apa kendala yang paling sering dihadapi selama hidup di Jepang”.  Atau “jika ingin mengusulkan sesuatu, apa yang Anda usulkan bagi pemerintah atau warga Jepang”, dan sejenisnya.

Berkali-kali saya mengatakan bahwa meskipun saya adalah Muslim yang berasal dari negara dengan pemeluk agama Islam terbesar di dunia, harap agar pandangan ini dianggap sebagai pandangan pribadi.  Hal berbeda mungkin saja diberikan oleh Muslim lain, meskipun juga ia berasal dari negara yang sama.

Saya menunggu bagaimana respon warga Jepang jika saja wawancara tersebut betul-betul termuat di media massa. (*)

Tragedi Mesir dan Kisah Nyata Seorang “Tom Hanks” dari Palestina

tom hank the terminal

Victor Navorski (diperankan Tom Hanks) tidur di bangku terminal di JFK Airport, New York (sumber: internet)

Pada tahun 2004, ada sebuah film drama komedi menarik berjudul The Terminal, disutradarai si maestro imajinasi Steven Spielberg.  Film ini mengisahkan tokoh rekaan bernama Viktor Navorski (diperankan aktor kawakan Tom Hanks) yang tiba-tiba saja “kehilangan negara”.

Navorski adalah warga negara Krakozhia (tentu saja ini juga negara rekaan), terletak di wilayah perbatasan Eropa Timur dan Asia Tengah. Negara ini sedang mengalami konflik internal perebutan kekuasaan.  Ketika Navorski sedang dalam perjalanan belasan jam di udara menuju New York, Amerika Serikat, di tanah airnya eskalasi konflik meningkat menjadi perang saudara hebat.  Dampaknya, pemerintah AS menyatakan tidak mengakui lagi kedaulatan Krakozhia.

Pada saat pesawat yang ditumpangi Navorski mendarat di Bandara Internasional John F. Kennedy, New York, masalah dimulai.  Navorski tidak diperbolehkan melewati imigrasi, karena ia memegang passpor negara yang tidak diakui (unrecognized).  Dia juga tidak bisa meninggalkan AS karena (lagi-lagi) ia memegang paspor negara yang “secara hukum internasional dianggap tidak ada”.

Maka, terjebaklah Navorski di ruang penyangga. Ia tidak bisa menuju pintu keluar, karena itu berarti memasuki wilayah AS.  Untuk itu, ia butuh paspor yang diakui.  Ia juga tidak bisa menuju pintu keberangkatan, sebab selain butuh tiket, ia juga butuh paspor yang diakui.  Jadilah Navorski terkurung di area itu selama sembilan bulan!  Di penghujung film, Navorski kemudian berhasil meninggalkan AS dan kembali ke tanah airnya setelah perang saudara berakhir, tertib sipil tercipta, dan pemerintah AS memulihkan pengakuan kedaulatan terhadap Krakozhia.

Seharusnya film ini dapat menjadi bahan diskusi hukum internasional dan hubungan internasional yang menarik.  Sayangnya, kisah di atas adalah latar belakangnya saja.  Keseluruhan film itu mengisahkan drama khas Hollywood, tentang percintaan, karakter baik vs. karakter jahat, semangat, dan semacamnya.

Meskipun demikian, pada salah satu kuliah di Jurusan Hubungan Internasional Unhas, saya mendorong mahasiswa untuk menonton film itu dan mendiskusikan dengan teman-teman.  Mungkin saya akan mengajak mahasiswa nonton bersama dan mendiskusikannya kalau saya kembali nanti. Terutama setelah hari ini saya menemukan kisah yang sangat mirip dengan kisah Navorski.

Dan ini adalah kisah nyata…

Saya dipercaya mengorganisir konferensi internasional tentang Resolusi Konflik dan Identitas di Graduate School of Global Studies, Doshisha University, Kyoto.  Sebanyak 14 pembicara ahli dari 7 negara diundang berbicara dan berdiskusi.  Salah seorang pembicara adalah Associate Professor Waleed Al Modallal, seorang ahli ilmu politik dari University of Gaza, Palestina.

Professor Waleed (tengah) berbincang bersama rekan dari Palestina, Iyaas Salim, dan nara sumber lain dari Zambia, Prof. Jotham C. Momba (foto: ishaq)

Professor Waleed (tengah) berbincang bersama rekan dari Palestina, Iyaas Salim, dan nara sumber lain dari Zambia, Prof. Jotham C. Momba (foto: ishaq)

Palestina terdiri atas wilayah Jerusallem dan Tepi Barat (yang dikendalikan oleh Israel) dan wilayah Gaza yang dikendalikan oleh Hamas, organisasi pergerakan yang dicap sebagai teroris oleh pemerintah AS.  Akses masuk dan keluar Gaza adalah melalui Kairo, Mesir.  Bandara internasional Kairo merupakan pintu internasional satu-satunya bagi warga Palestina yang bermukim di Gaza.

Meskipun konferensi internasional di Doshisha berlangsung pada tanggal 5 dan 6 Juli, namun Professor Waleed meninggalkan Gaza sejak tanggal 30 Juni.  Selain pertimbangan waktu tempuh Kairo – Kyoto yang membutuhkan waktu belasan jam, juga ada proses pemeriksaan keamanan yang ketat bagi warga Palestina di bandara Kairo.  Betul saja, setelah sempat tertahan 2 hari di Bandara Kairo, Professor Waleed terbang ke Jepang menggunakan Emirate Airline pada tanggal 2 Juli.

Rupanya, eskalasi politik di Kairo dan Mesir umumnya meningkat.  Puncak krisis terjadi pada tanggal 3 Juli, ketika militer Mesir melakukan kudeta terhadap Presiden Muhammad Mursi, yang menjabat melalui pemilu demokratis setahun sebelumnya.  Tentara Mesir mengambil alih kendala negara, menyerahkan pimpinan interim pemerintahan kepada Ketua Mahkamah Agung, dan mengambil tindakan militer terhadap “pihak-pihak yang mendukung mantan Presiden Mursi”.

Professor Waleed tiba di Kyoto dua hari menjelang konferensi berlangsung.  Menurut rencana yang kami siapkan, beliau seharusnya meninggalkan Kyoto, Jepang menuju Gaza (via Kairo tentu saja)  pada Minggu, 7 Juli, yaitu sehari setelah konferensi usai.

Namun hari ini (Senin, 8 Juli 2013), saya bertemu Professor Waleed di kantin kampus.  Wajahnya resah dan nampak agak sedih.  Awalnya, saya pikir ada masalah dengan penerbangan yang seharusnya ia gunakan, sehingga ia harus tinggal lebih lama di Kyoto.  Namun, saat berbicara dengannya, saya mengetahui bahwa: “situasi di Kairo memburuk.  Saya tidak bisa pulang ke Gaza”.

Saya bertanya mengapa?  Ia menjelaskan: “saat ini di bandara Kairo terdapat ratusan warga Palestina yang hendak menuju Gaza tidak diperkenankan meninggalkan bandara oleh militer Mesir”, ujarnya.  Sejak dua hari lalu, ia mendapat telepon dari istrinya di Gaza, memintanya untuk tidak kembali dulu sebelum kondisi stabil.

Professor Waleed menjelaskan kondisi seperti ini sering terjadi jika ketegangan di Timur Tengah meningkat.  Tidak jarang, orang-orang Palestina yang hendak ke Gaza akan tertahan di Bandara Kairo berhari-hari, bahkan berbulan-bulan.  Itulah sebabnya diminta untuk tinggal dulu di Jepang beberapa lama, atau terbang ke Inggris untuk sementara waktu.  Prof. Waleed adalah alumni Stanford University, dan saat ini dia mempunyai seorang anak berkewarganegaraan Inggris yang sedang mengambil studi doktor di London.

Mendengar cerita Professor Waleed, saya tiba-tiba teringat kisah Victor Navorski di film The Terminal itu.  Ketika hal itu saya ceritakan kepada Professor Waleed, ia nampak sedikit terhibur. “Semoga ada yang mau memfilmkan kisah saya ini”, katanya sambil tertawa.

Dalam waktu 1 atau 2 hari ke depan, Ramadhan akan menjelang.  Saat seperti ini, kebanyakan warga Muslim di Indonesia akan merindukan berada di tengah keluarga.  Rupanya, hal yang sama juga menjadi tradisi di Palestina.  Itulah mengapa Professor Waleed tampak sedih.  Saya menemaninya beberapa lama, sambil menunggu rekan dari Palestina lainnya, Iyaas Salim, mencarikan solusi untuknya.  Professor Waleed saat ini butuh tempat akomodasi, sebab hotel yang ia gunakan hanya valid hingga kemarin.  Semalam ia menginap di apartemen kecil milik seorang warga asal Suriah, dan ia harus pindah tempat lagi malam ini.  Masalahnya, ia belum tahu akan menginap dimana malam nanti. (*)