Archives June 2013

Pahamilah Instrumen-instrumen Mengukur Demokrasi

Ada banyak instrumen, baik yang telah diaplikasikan maupun yang sedang dikembangkan, untuk mengukur kualitas demokrasi.  Tentu saja, semua instrumen perlu diawali dengan pendefinisian yang komprehensif dan terukur tentang apa itu demokrasi.  Kenyataannya, hingga kini belum tercapai satu kesepakatan mengenai definisi ini.  Perspektif berbeda tentu akan memberi kesimpulan berbeda.

Weltkarte2Democracy Index yang dikembangkan oleh the Economist Inteligent Unit (The EIU) adalah salah satu instrumen mengetahui kualitas demokrasi.  Juga ada yang indeks yang dirancang oleh Freedom House. Selain itu, ada juga Global Democracy Ranking oleh Democracy Ranking Association (Förderung von Demokratiequalität) yang berbasis di Wina, Austria, atau Democracy Barometer yang didesain oleh University of Zurich dengan pembiayaan Swiss National Science Foundation.

Juga ada beberapa metode yang didesain oleh beberapa perguruan tinggi, namun sifatnya masih dalam tahap pengembangan. Misalnya, Project Polity IV yang dipimpin oleh Ted Robert Gurr, professor di University of Maryland, atau Vanhanen’s Index of Democracy yang didesain oleh Tatu Vanhanen (emiritius professor di University of Tampere dan University of Helsinki).

Instrumen-instrumen ini tentu saja dibangun dengan perspektif berbeda, menggunakan asumsi-asumsi berbeda, dan tools (alat ukur yang juga berbeda).  Democracy Index, misalnya, membagi demokrasi pada 5 variabel utama yang kemudian diturunkan menjadi 60 indikator.  Nampaknya, Democracy Index mengadopsi pendekatan fungsional dalam politik, dimana proses demokrasi itu dilihat sebagai bekerja unit-unit yang mendorong pertumbuhan ekonomi.

Lalu Democracy Barometer memetakan kualitas demokrasi berdasarkan tiga pilar, yaitu: kebebasan (freedom), pengawasan (control), dan persamaan (equality).  Masing-masing pilar terbagi pada 3 variabel, dan setiap variabel memiliki indikatornya sendiri-sendiri.  Pilar-pilar ini diterjemahkan dari definisi lain tentang demokrasi sebagaimana dibangun oleh para teoritisi liberal.

Sementara Democracy Ranking mendefinisikan kualitas demokrasi sebagai: perpaduan antara kebebasan dan karakter khas dari sistem politik dengan kinerja dari dimensi-dimensi non politis.  Dalam konteks demikian, Democracy Ranking memberi bobot 50% untuk aspek politik dari demokrasi, sementara aspek-aspek non politik didistribusikan untuk aspek-aspek non politik, yaitu gender (10%), ekonomi (10%), pengetahuan (10%), kesehatan (10%), dan lingkungan hidup (10%).

Maka, tidak mengherankan jika masing-masing instrumen itu memberikan hasil yang berbeda.  Akan tetapi, ada dua hal yang menarik dari berbagai instrumen tersebut.

Pertama, urutan kualitas demokrasi negara-negara di dunia relatif sama dilihat dari perspektif metode manapun, terutama untuk negara-negara yang berada pada posisi ekstrim.  Misalnya, negara seperti Finlandia, Amerika Serikat, atau Selandia Baru selalu berada pada posisi di atas atau relatif lebih demokratis dibandingkan negara-negara seperti Indonesia, Malaysia, atau India.

Kedua, pada setiap metode pengukuran voter turnout selalu menjadi indikator dengan kontribusi minimal terhadap keseluruhan postur pengukuran. Artinya, jika kita melakukan simulasi hitung ulang dengan mengeluarkan indikator voter turnout, tidak akan terjadi perubahan signifikan dalam posisi urutan kualitas demokrasi negara-negara di dunia. Jadi, meskipun tanpa variabel voter turnout, Swiss dan Amerika Serikat akan tetap lebih demokratis dibandingkan Laos, Vietnam, dan Kuba.

Pemahaman terhadap data selalu saja penting bagi seorang intelektual apalagi sebagai akademisi.  Kekeliruan memahami konteks data dapat mengarah pada kekeliruan penarikan kesimpulan yang fatal.(*)

Menulis Kaligrafi Kanji, Bukan Sekedar Coret

Hari ini ada pengalaman menarik.  Saya diundang oleh beberapa mahasiswi Doshisha Women College of Liberal Arts (DWCLA) untuk menjadi nara sumber pada interview kelompok tentang impresi sebagai penganut Islam terhadap budaya Jepang.  Saya dipilih karena berasal Indonesia, negera dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia.  Ada dua orang yang diundang. Seorang lagi adalah Ms. Rehab, mahasiswi Global Studies yang berasal dari Palestina.

Proses interview diawali event mempelajari sekilas tentang dua tradisi yang cukup populer di Jepang, yaitu menulis kaligrafi dan mengikuti prosesi minum teh (tea ceremony).  Dua tradisi ini paling banyak ditawarkan di Kyoto.  Meskipun telah dua tahun tinggal disini, dan sudah sering mendengar tentang kesempatan untuk mengikuti kedua prosesi ini, saya belum sekalipun berkesempatan mengikutinya.  Maka kesempatan ini sungguh berharga.  Apalagi, setelah prosesi itu ada kegiatan interviewnya.

Tempat melaksanakan prosesi ini adalah di sebuah agensi bernama WAK Japan.  Letaknya di daerah Marutamachi, Kyoto, yang memang  menawarkan pelayanan melatih singkat kaligrafi dan mengikuti minum teh bagi wisatawan.  Agensi ini didirikan oleh Mrs. Michi Ogawa, seorang wanita paruh baya yang menghabiskan belasan tahun hidupnya di Eropa sebelum memutuskan untuk kembali ke Kyoto dan menjaga kelestarian tradisi ini.

(Saya akan membagi tiga postingan ini. Pertama, tentang kaligrafi, kemudian tentang prosesi minum teh, dan terakhir tentang wawancara dan diskusi yang berlangsung setelah kedua prosesi itu).

Menulis kaligrafi Kanji ternyata telah menjadi tradisi spiritual bagi warga Jepang.  Meskipun pembuatan kaligrafi itu aktivitas utamanya adalah menggoreskan kuas di atas kertas untuk membentuk karakter Kanji, tetapi ada masa-masa penyatuan spiritual antara sang penulis kaligrafi dengan kaligrafi yang akan dia buat.

Dalam bahasa Jepang, kaligrafi disebut shodo (書道). Kata ini terdiri dari sho (書), yang berarti “pernyataan atau pengungkapan” dan do (道), yang artinya “jalan atau way of life“.  Jadi, dalam tradisi Jepang, kaligrafi merupakan jalan atau cara yang berkaitan dengan pengungkapan perasaan, atau cara menyatakan perasaan.

(Bagi yang senang dengan tradisi Jepang, pasti mendengar istilah Bushido, kan… Nah, bushi itu artinya ksatria atau seringkali juga diartikan samurai.  Jadi Bushido itu ternyata maknanya adalah jalan kstraria atau cara-cara ksatria. Begitu kira-kira pemaknaan elemen “do” pada shodo ini).

Saya tidak sempat menghafal dengan baik penjelasan singkat yang diberikan oleh instruktur (namanya Tomoko San), tetapi sekilas saya tahu bahwa ternyata ada bermacam-macam jenis penulisan karakter Kanji.  Ini bisa diketahui dari wujud yang dihasilkan.  Ada tensho, ada reisho, dan lain-lain, tergantung dari model karakter yang dihasilkan.

Juga ada banyak nilai spiritual yang terkandung di dalam kaligrafi Jepang, mulai dari pembuatan, penulisan, hingga pemajangan atau peruntukan.  Lagi-lagi, karena waktu yang singkat, kami tidak sempat dijelaskan semuanya.  Saya yakin pastilah membutuhkan waktu berhari-hari bahkan mungkin bisa berbulan-bulan untuk memahami semua nilai dibalik kaligrafi Jepang.

Bahan utama prosesi menulis kaligrafi adalah tinta (sumi), kertas (washi), tempat tinta (suzuri), penindis kertas (bunchin), pengalas untuk mencegah agar tinta tidak meluber (shitajiki), kuas (fude), dan stempel identitas pembuat (inkan atau hanko).

Tinta yang digunakan adalah tinta padat (sumi), terbuat dari campuran jelaga dan bahan perekat yang diambil dari lemak hewan (saya tidak sempat menanyakan bagaimana proses membuatnya, namanya saja kursus singkat….hehehe). Kualitas sumi ditentukan oleh usianya. Semakin tua usia sumi, semakin baik kualitasnya.  Sumi berkualitas standard berusia antara 50 sampai 100 tahun… Wow! (Jadi ingat peragian anggur… )

Peralatan membuat kaligrafi Jepang. Kertas, tatakan kertas, tempat tinda, dan kuas. (foto: ishaq)

Untuk mengencerkannya, digunakan tempat tinta dari batu (suzuri).  Sumi digosok-gosokkan atau tepatnya diparut pada suzumi yang telah diberi sedikit air. Nah, pada saat mulai menggosok-gosok sumi, proses penyatuan spiritual antara pembuat kaligrafi dengan karya kaligrafinya dimulai.  Kata Tomoko San, mengubah sumi menjadi tinta siap pakai biasanya membutuhkan waktu antara 15 -30 menit.  Pada saat menggosok-gosok sumi, pembuat kaligrafi melakukannya dengan khidmat, mengkonsentrasikan perasaannya, dan bersiap untuk mentranformasikan perasaannya itu pada karya yang akan dihasilkannya.

Setelah tinta siap, pembuat kaligrafi masih akan melakukan semacam meditasi singkat untuk mengosongkan pikirannya dan hanya berkonsentrasi pada kaligrafi yang akan dihasilkan.  Lalu, dimulailah proses pembuatan kaligrafi.

Karena waktu yang terbatas, maka hari itu kami tidak sempat merasakan bagaimana pembuatan tinta cair dari bahan sumi (saya kira, mungkin juga karena sumi yang asli pastilah harganya mahal, mengingat usianya yang begitu tua).

Posisi tangan dan momentum tekanan menentukan hasil akhir.

Posisi tangan dan momentum tekanan menentukan hasil akhir.

Jadi, kami hanya diajari teknik-teknik dasar menulis kaligrafi Jepang, bagaimana membuat empat garis utama, yaitu mendatar, tegak lurus, diagonal kiri dan diagonal kanan. Bagaimana posisi tubuh yang seharusnya, bagaimana posisi tangan, dan bagaimana kuas itu digerakkan.  Semuanya memiliki makna spiritual masing-masing.

Lagi-lagi, ternyata membuat garis-garis itu bukan hanya asal garis.  Ada momentum-momentum tertentu kapan dan dimana kuas itu ditekan, kapan kuasnya tidak ditekan.  Dan itu membutuhkan latihan untuk mendalaminya.  Menurut Tomoko San, seorang penulis kaligrafi yang sesungguhnya bisa menghabiskan seluruh hidupnya sebelum ia mampu menghasilkan kaligrafi master piece.

Setelah berlatih selama hampir sejam, akhirnya berhasil juga saya menghasilkan kaligrafi Jepang saya yang pertama.  Tentu saja hasilnya jauh dari sempurna.  Tetapi, proses ini cukup mengesankan.  Pada akhir pembuatan, kaligrafi yang saya buat itu diberi stempel.  Karena saya tidak membawa hanko saya, dan kebetulan DAK Japan mempersiapkan beberapa pilihan hanko untuk memberi label kaligrafi yang dihasilkan pengunjung, maka jadilah kaligrafi saya lengkap dengan labelnya, yang menandakan kesempurnaan proses pembuatan kaligrafi. (*)

2013-06-20 21.27.26

My First Japanese Calligraphy. Bacanya “wa”, artinya “peace”, “harmony”, tapi juga bisa berarti “Japanese”… Hehe, artinya saja kompleks.

PS: Postingan berikut, tentang prosesi seremoni minum teh Jepang.

Menonton TV Makassar via Internet Streaming

Sore tadi saya menerima broadcast message BBM dari Pak Husain Abdullah a.k.a. Pak Uceng.  Beliau ini dosen HI Unhas multifungsi (hehe, peace pak). Beliau adalah juru bicara (bahkan orang kepercayaan) mantan Wapres Jusuf Kalla. Beliau juga Direktur PT. Sunu Network Broadcast Television, perusahaan yang mengelola Celebes TV, salah satu TV Swasta di Makassar.

Isi broadcast-nya: “Celebes TV sekarang sudah bisa disaksikan via internet streaming di useetv.” Lalu ada link internet di akhir pesannya.

Wow, ini hal baru. Selama ini, pilihan menonton TV Indonesia via streaming di dominasi stasiun TV nasional. Sudah sejak lama saya memutuskan untuk tidak terlalu sering nonton TV nasional. Saya merasakan metode repetisi terhadap suatu issu berpengaruh buruk bagi perspektif saya. Dengan masuknya Celebes TV, salah satu TV lokal di Makassar yang baru berusia 2 tahun, bisa menjadi alternatif yang menarik.

Begitu tiba di apato, hal pertama yang saya lakukan adalah menghidupkan komputer dan mencoba siaran streaming Celebes TV. Betul juga. Celebes TV sudah bisa disaksikan online.  Acara yang sedang tayang adalah Konsultasi Hukum yang disiarkan live.  Nara sumbernya adalah humas Polda Sulsel, AKBP Muhammad Siswa.  Kebetulan, beliau ini juga alumni HI Unhas… (hehehe). Topiknya lagi hangat, soal demo kenaikan harga BBM (bahan bakar minyak) yang sedang marak dua-tiga hari ini.

Nah, saya berpikir untuk menguji seberapa delay tayangan streaming Celebes TV.  Konon, karena persoalan teknis internet, siaran streaming itu biasanya mengalami delay, bahkan ada yang sampai setengah jam.  Siaran itu kan harus melewati server dulu, dan seringkali tinggal di server beberapa lama sebelum dapat diakses.  Sehingga tidak jarang, acara live yang kita tonton sebenarnya acara 30 menit lalu.

Saya coba menghubungi nomor interaktif yang terpampang di layar TV.  Awalnya sangat sulit. Biasalah, kalau acara live seperti ini kan ada puluhan penelepon yang ingin berpartisipasi. Pastilah jaringan telepon menjadi sangat padat.  Oh ya, menelepon dari luar negeri dengan skype adalah fasilitas murah meriah lain yang biasa saya gunakan. (Tentang ini, saya mempostingnya disini)

Karena beberapa kali gagal juga, saya mengirim BBM kepada Pak Uceng. Saya bilang, ingin berpartisipasi di acara dialog live ini, tapi sulit masuk. Beliau membalas: “tunggu sebentar, saya suruh anak-anak kosongkan jalur”. Hehehe, kayak pejabat mau lewat saja. Dan betul, tidak sampai 20 detik kemudian, saya menelepon lagi dan berhasil masuk. Tentu saja, melewati operator dulu di studio.

Ketika saya mengatakan dari Kyoto, tampak terdengar keriuhan kecil di latar belakang operator. Awak redaksi nampaknya sangat surprise dan gembira mengetahui siaran mereka didengar hingga Kyoto.  Lalu, saya dihubungkan dengan studio siaran, dan berbicara kepada pembawa acara dan nara sumber.  Karena saya menelepon sambil juga menonton, maka saya tahu ada delay. Tapi sungguh luar biasa, delay-nya tidak sampai 10 detik.  Kata-kata yang saya ucapkan, terdengar kembali via TV (tepatnya komputer) dihadapan saya sekitar 10 detik kemudian.

polisi-JepangBeberapa lama setelah siaran itu, situs berita celebesonline menulis laporannya. Tapi judulnya nyeleneh (hehehe): “Polisi Makassar Kaget Dapat Telepon Dari Jepang“. Saya kira, dengan judul seperti banyak yang akan klik, penasaran ingin membaca. Betul, selama berjam-jam, berita ini jadi trending news di Celebes Online. Rupanya, Pak Siswa, polisi yang menjadi nara sumber di acara live tadi, awalnya tidak percaya kalau saya menelepon dari Kyoto. Setelah dijelaskan oleh awak redaksi, beliau jadi ikutan surprise..

Malam harinya, media online nomor satu di Makassar, Tribun Timur, juga menulis laporan.  Judulnya: “Dosen HI Unhas Nonton Celebes TV di Jepang“.

Selamat Celebes TV. Sungguh terobosan baru. Juga ini menjadi catatan bagi warga Makassar: “The whole world are going to watch you now!“.

Partisipasi di Pemilu, Hubungannya Dengan Demokrasi

Saya membaca lagi satu artikel di kolom Opini harian Tribun Timur (Kamis, 30/5) tentang partisipasi dalam pemilihan umum.  Ini artikel kesekian yang saya baca, yang intinya adalah “kegalauan terhadap gejala penurunan angka partisipasi masyarakat pada saat pemungutan suara”.

Artikel-artikel seperti ini sudah sering saya baca.  Akan tetapi, penulisnya adalah penyelenggara pemilu seperti anggota KPU, atau aktivis-aktivis LSM (yang mungkin tulisannya itu dipesan oleh penyelenggara), atau juga beberapa mahasiswa semester awal yang lebih percaya pada media massa.

Tetapi ketika artikel yang saya baca kali ini ditulis oleh seorang akademisi (di identitas penulis tercantum: dosen di salah satu PT, dan kandidat Ph.D di Malaysia) saya pikir ada yang perlu direspon.  Bukan apa-apa. Adalah fatal jika kalangan akademisi kehilangan daya kritis mencermati persoalan sosial kemasyarakatan.  Suara akademisi, walaupun dimana-mana menerima banyak kritik, tetap perlu dipelihara.

Mungkin karena terlalu sering dikampanyekan pemerintah, kini meluas pandangan umum bahwa pemilu (maupun pemilukada) yang berhasil itu adalah pemilu yang (1) partisipasi warga memilih sangat tinggi; (2) tidak ada gugatan ke MK.  Maka, ramai-ramailah menjelang momen pemilu, penyelenggara dan juga pemerintah sibuk mengkampanyekan agar warga ramai-ramai datang ke TPS memberikan suaranya.

Dugaan umum selama ini adalah pemilu yang legitimate itu yang diikuti banyak orang. Jadi, kalau itu pemilihan bupati, maka makin banyak yang datang memilih, maka makin tinggi legitimasi pemimpin.  Karena pemilu adalah elemen utama demokrasi, maka dibangunlah logika linear: jika tingkat partisipasi pada pemilu tinggi, maka demokrasi jadi makin berkualitas.

Partisipasi Dalam Realitas

Saya kemudian coba membuka data kualitas demokrasi negara-negara di dunia, dan membandingkannya dengan angka partisipasi pemilu di setiap negara tersebut.  Untuk kualitas demokrasi, saya gunakan saja Demokrasi Indeks, dan untuk data partisipasi pemilih (istilahnya voters turnout) saya gunakan data dari International IDEA.

Ternyata, data yang ada sama sekali tidak mendukung kerangka berpikir di atas.  Demokrasi Indeks 2012 membagi negara-negara di dunia dalam 4 kategori menurut tingkatan kualitas demokrasinya.  Saya coba hitung rata-rata tingkat partisipasi di setiap kategori berdasarkan hasil pemilu terakhir sebelum 2012.  Berturut-turut datanya adalah:

  • Demokrasi penuh (ada 25 negara), rata-rata voters turnout: 73,63%
  • Demokrasi belum sempurna (ada 54 negara), rata-rata voters turnout: 65,72%
  • Rejim campuran (37 negara), rata-rata voters turnout: 63,93%
  • Rejim otoriter (51 negara), rata-rata voters turnout: 96,56%

Data ini sudah menunjukkan bahwa tidak ada hubungan langsung antara kualitas demokrasi dengan partisipasi pemilih. Bagaimana mungkin, di negara rejim otoriter tingkat partisipasi pemilih justru lebih besar dibanding negara-negara rejim campuran dan demokrasi belum sempurna?

Memang, di negara-negara demokrasi penuh, rata-rata partisipasi pemilih cukup tinggi, yaitu 73,63%.  Tapi, jika data ini kita breakdown pada data per negara ada fakta yang tidak relevan. Misalnya, AS itu adalah negara kategori demokrasi penuh (peringkat 19 dari 25 negara). Tetapi partisipasi pemilihnya hanya 41,59% (pada pemilu legislatif 2010) dan 57,5% pada pemilu presiden 2012.  Coba lihat juga Swiss, negara peringkat ke-7 di Demokrasi Indeks 2012. Angka pertisipasi pemilihnya adalah 49,105.

Faktanya juga paradoks jika data seluruh negara kita amati.  Negara dengan voters turnout tertinggi di dunia adalah Laos, yaitu 99,69% pada pemilu 2011. Padahal, ini adalah negara rejim otoriter, ada di peringkat 156 dari 167 negara.  Ada 6 negara rejim otoriter lain dengan angka voter turnout lebih 90%, yaitu: Turkmenistan (93.87%), Equitorial Guinea (96.45%), Vietnam (99.51%), Rwanda (98.50%), Cuba (96.89%), dan Ethiopia (93.44%).

Memang data ini masih bisa diperdebatkan, terutama jika indikator kualitas demokrasi menurut Demokrasi Indeks itu dielaborasi. Tetapi itu debat dalam konteks lain, saya kira.  Substansi yang menurut saya penting adalah memperdebatkan dulu hubungan antara kualitas demokrasi dengan partisipasi saat pemilu.

Ini penting. Agar penyelenggara pemilu (KPU) lebih mementingkan urusan kualitas pemilu yang dikelola, daripada sibuk berkampanye mendorong warga datang ke TPS.  Pemilu itu ibarat produk. Kalau bagus dan rakyat butuh, mereka akan datang. Kalau bagus tapi rakyat tidak butuh, mungkin akan datang juga (untuk rekreasilah). Tapi kalau buruk dan rakyat tidak butuh, mana mungkin rakyat mau datang… (*)

 

Hati-hati, Akun Google Bisa Bawa Masalah Serius

Baru saja saya mengalami masalah dengan akun google.  Ini adalah kisahnya…

Kita tahu, google telah mengadopsi sistem single sign-in untuk berbagai layanan.  Artinya, hanya dengan sign-in ke satu layanan Google maka kita bisa mengakses seluruh layanan. Benar-benar nyaman, karena hanya dengan sekali login kita terhubung dengan layanan-layanan populer Google, mulai e-mail, drive, youtube, blogger, hingga Google walet.

googleMungkin karena begitu terintegrasinya layanan yang dimiliki, tidak heran jika Google memberlakukan standard security yang ketat pula.  Iya, wajar saja. Bayangkan, kalau akun email Google kita jatuh ke tangan orang lain, ia akan bisa mengakses layanan-layanan lain.

Hari ini saya menjadi korban (katakan saja begitu ya, abis tidak dapat istilah yang pas nih), dari keketatan security google.

Cerita bermula sekitar 2 atau 3 hari lalu. Saat membuka gmail, ada notifikasi di bar atas (jelas ini notifikasi resmi google). Isinya cukup mengerikan:

Warning: we believe state-sponsored attackers maybe attempting to compromise your account or computer.  Protect your self now.” (Kata-kata terakhir itu adalah link menuju penawaran untuk melindungi akun kita dengan sistem 2-steps verification).

Awalnya saya pikir, ah masa iya? Soalnya, dalam dua tahun terakhir ini saya berada di Jepang. Logika awam saya, jika warning itu benar, pastilah itu upaya pemerintah Jepang. Saya sangat tidak yakin pemerintah Jepang melakukan itu.  Negara ini lebih dari sekedar liberal untuk melindungi privacy penduduknya (catat: penduduknya, bukan hanya warga negaranya).

Lalu saya menduga-duga, jangan-jangan warning ini datang karena keisengan saya dengan wi-fi router di flat yang saya tempati.  Di sini, koneksi internetnya via kabel LAN, jadi hanya bisa untuk satu komputer.  Karena saya menggunakan juga tablet, iPhone, dan Blackberry,  saya memasang wi-fi router sendiri.  Nah, wi-fi router ini saya beri nama “government_survailance”. Maksudnya buat iseng saja. (Seorang tetangga asal Prancis pernah bilang ke saya, “hati-hati, kita lagi diawasi sama pemerintah. ada wi-fi pengintai milik pemerintah di apato kita ini…. hehehe).

Jadi saya pikir, mungkin wi-fi ini sempat terbaca oleh sistem Google, dan mereka berasumsi komputer saya sedang berusaha diakses oleh pemerintah.

Namun demikian, saya tetap saja coba-coba searching tentang warning tersebut.  Rupanya, isu yang sama sudah mulai merebak sejak Juni 2012, bermula dari ulah pemerintah China yang memantau koneksi internet warganya. Ah, Jepang kan sangat dekat dengan China. Kedua negara ini juga sedang menghadapi masalah hubungan bilateral berkepanjangan. Jadi, warning tersebut kemungkina besar benar.

Baiklah, karena itu saya mengikuti rekomendasi Google untuk menerapkan mekanisme 2-steps verification saat login.  Teknisnya, kita harus mendaftarkan nomor handphone untuk menerima kode validasi setiap kali kita akan login ke Google.

Di Jepang, rata-rata handphone dilengkapi e-mail mobile yang disediakan operator.  Pada saat saya mendaftarkan nomor handphone saya, Google meminta e-mail mobile (yang terkoneksi ke handphone).  Yup, meskipun jarang saya gunakan, tapi email itu memang ada. Maka saya daftarkanlah e-mail itu.

Setelah itu, setiap kali login ke Google, setelah memasukan password akan ada pesan di kirim ke e-mail di handphone, berisi 6 digit angka yang harus diinput di komputer.  Mirip-mirip cara kerja token security internet bank.  Jadi, sekarang saya bisa yakin bahwa akun Google saya aman.

Lalu, terjadilah peristiwa ini…

Saya mengelola beberapa website dan blog.  Untuk website atau blog yang sifatnya sosial atau non-profit, biasanya saya hanya beli nama domain saja (yang harganya sekitar rp. 95.000-an per tahun).  Lalu, urusan hosting, saya gunakan blogger yang gratis seterusnya.  Untuk update website atau blog seperti ini, ya mesti via blogger.

Salah satu website yang saya tangani adalah www.grmconference.org, website konferensi internasional di Kyoto.  Hari ini konten-nya perlu di-update, ada beberapa informasi baru dan penting.

Saat akan login ke blogger, prosedurnya 2-steps verification tentu saja.  Setelah memasukkan password, saya menunggu kode validasi yang harusnya akan dikirim ke handphone. 5 detik, 10 detik, -handphone tidak bunyi. Saya melirik ke handphone, ada apa ya? Menunggu lagi… 30 detik, 40 detik, semenit… Tidak bunyi juga. Ah, mungkin delay, sistem sibuk (alasan paling klasik di dunia internet dan selular…hehehe).

Karena handphone tidak kunjung bunyi, saya coba minta dikirim ulang (ada link “resend code” di layar komputer). Menunggu lagi… Wah, tidak masuk juga… Pasti ada yang salah, entah dengan handphone atau dengan Google.

Lalu saya berpikir, hal ini bisa terjadi kapan saja. Yaitu situasi dimana kita tidak dapat menerima e-mail di handphone. Bisa karena sistem crash, bisa karena handphone kelupaan, atau mungkin handphone kita hilang, nomor di cancel oleh operator (otomatis e-mail handphone juga hilang). Intinya, kita tidak dapat mengakses handphone kita. Apa yang harus dilakukan?

Rupanya, di halaman login  Google ada opsi jika seandainya kita tidak bisa mengakses handphone yang telah kita daftar untuk menerima kode validasi. Saat saya klik opsi itu, muncul alternatif bahwa kode validasi akan dikirim ke nomor handphone lain yang saya tuliskan saat pertama membuat akun Google.  Nomor kedua ini adalah nomor backup, kata Google.

Saya kaget, karena nomor backup dimaksud adalah nomor handphone saya yang sudah tidak aktif (sdh setahun lebih tidak saya gunakan). Saya sudah meng-update nomor baru di halaman profil Google. Rupanya, Google membedakan detail pengguna antara halaman profil, dan di halaman data akun pengguna… Hadew!

Jadi, situasi saya adalah tidak bisa mengakses kedua handphone yang terdaftar di Google.  Akan tetapi, masih ada pilihan solusi untuk itu. Maka, saya meng-klik link “tidak bisa mengakses kedua handphone itu”.  Dan, mengagetkan, karena yang muncul adalah:

“Without your phone, it can sometimes take 3-5 business days to complete the account recovery process.”

Wow, I need to access my account now. It is urgent!

Saya coba utak-atik handphone, mencari tahu apa masalahnya mengapa tidak bisa menerima e-mail. Hasilnya, silahkan hubungi customer service di counter terdekat. Beeeh…

Maka, saya akhirnya memilih saja alternatif yang ditawarkan Google, untuk meminta proses recovery yang akan memakan waktu 3-5 hari itu.  Untuk itu, ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab. Kata Google, kalau tidak yakin dengan jawabannya, berikan saja tebakan terbaik (If you’re unsure about something, provide your best guess).  Sebagian besar pertanyaannya adalah “required”.

Setelah mengisi beberapa pertanyaan standar (alamat email alternatif, nomor handphone yang didaftar, kapan terakhir login yang berhasil), saya memutuskan untuk menghentikan proses itu setelah ada pertanyaan: “Kapankah (tanggal, bulan, tahun) kamu pertama kali menggunakan akun Google ini?” dengan status “required”. Jadi, Google meminta saya mengetik kapan tanggal saya “sign up” akun Google pertama kali?

Cukuplah sudah. Ini sungguh keterlaluan, saya pikir. Meskipun tujuannya untuk mengamankan, tetapi saya tiba-tiba merasa keamanan saya terancam dengan sistem “2-steps verification” ini. Maka, jika e-mail handphone saya berhasil aktif kembali dan dapat menerima kode validasi untuk login, hal pertama yang akan saya lakukan adalah menghentikan fasilitas yang mengancam ini.

Saya lebih memilih untuk dipantau oleh pemerintah (mau pemerintah Jepang kek, pemerintah China kek) daripada menggunakan “2-steps verification” Google yang justru mengancam dengan kerumitannya.  Maka saya pun menulis postingan ini, hanya untuk mengatakan demikian…