Archives October 2012

Beda Paham Soal Pembayaran di Family Mart

Hari ini saya mengalami satu pengalaman berkesan. Pagi-pagi, sekitar pukul 9.30, saya bermaksud membeli paket SmartPit untuk mengirim sms murah ke Indonesia. Karena paket ini mau digunakan oleh saya dan istri, maka saya bermaksud membeli dua, masing-masing 1.100 Yen. Setelah memastikan nomor SmartPit telah aktif, saya menuju Family Mart, salah satu kombini yang tidak jauh dari apato.

Ilustrasi, original link taken from here http://bit.ly/PLiFxr

Di Family Mart, saya berurusan dengan mesin untuk meregistrasi paket yang akan dibeli, lalu menuju kasir untuk membayar. Untunglah, mesin ini berbahasa Inggris. Nah, di kasir inilah sempat terjadi salah paham.  Saya bermaksud membeli dua paket SmarPit, masing-masing 1.100 Yen. Jadi saya menyerahkan 2.200 Yen.  Oleh kasir, dia memproses satu-satu demi satu. Setelah menyelesaikan proses untuk yang pertama, dia mengambil uang 2.200 Yen yang letakkan di depannya.  Lalu setelah memproses yang kedua, dia meminta saya untuk membayar lagi 1.100 Yen.

Saya katakan, sudah saya bayar tadi 2.200 Yen, dan sudah dia masukkan ke Cash Register. Dia merasa baru menerima 1.100 Yen. Kami sempat berdebat sedikit. Saya menjelaskan bahwa karena saya akan membeli dua paket, jadi saya memberinya sekaligus 2.200 Yen. Dia tetap merasa bahwa dia baru menerima 1.100 Yen saja.  Maka datanglah seseorang (yang mungkin supervisor atau manager toko).  Mereka berbicara dalam bahasa Jepang yang tidak saya mengerti.  Setelah itu, si kasir berkata kepada saya: “Okay, I will investigate it…”.

Waduh, bayangan saya, investigasi ini berarti dia akan melihat berapa saldo yang ada di catatan Cash Register, lalu dia akan menghitung berapa banyak uang yang ada di Cash Register.  Jika jumlahnya sama, artinya saya harus membayar lagi 1.100 Yen. Tetapi, jika jumlah uang di mesin itu lebih 1.100 Yen, maka saya tidak perlu membayar lagi.

Saya tidak hirau dengan jumlah uangnya. Tetapi saya khawatir dengan waktu penghitungan uang tersebut.  Apalagi, ketika proses hitung itu akan dia mulai, saya lihat banyak sekali uang disitu, termasuk juga uang-uang koin.  Bayangan saya, proses hitung ini bisa makan waktu minimal 30 menit, bahkan mungkin bisa lebih. Sebab, biasanya, untuk memastikan akurasi hitungan uang, orang-orang akan menghitung beberapa kali.

Akan tetapi, dugaan saya ternyata keliru. Kasir ini mengawali proses hitung dengan mengambil semacam timbangan digital. Dia lalu mengambil 3 lembar uang 10.000 Yen, meletakkannya di timbangan, dan di display nampak tertulis angka 30.000 Yen. Ini adalah proses benchmark nampaknya. Karena setelah itu, ia mengambil lagi uang dalam jumlah banyak dari cash register dan menempatkannya di timbangan digital tersebut.  Setelah semua jenis uang dia timbang, tampak jumlah totalnya. Lalu dia melirik ke display cash register-nya. Setelah itu, ia menunduk kepada saya dan berkata: “gomennasai….gomennasai…”

Nampaknya, dari hasil “investigasi” ini, ada selisih 1.100 Yen antara jumlah uang dengan catatan cash register.  Dan, proses hitung-hitungan tersebut berlangsung tidak sampai 5 menit.  Saya mengucapkan terima kasih. Dan hingga saya berlalu dari toko ini, sang kasir tidak henti-hentinya berucap “gomennasai…gomennasai…” sambil terus-menerus membungkukkan badan.***

Konferensi Internasional, Bukan Sekedar Tampil

Pada 29-30 September saya mengikuti The Second Annual Conference of Japan Association of Human Security Studies (JAHSS) di Aichi University, Nagoya.  Saya juga berkesempatan mempresentasikan paper berjudul Jeopardizing Transition: Freedom of Worship, The Power of Local Government, and Democratization in Indonesia.

Kinhide Mushakoji, President JAHSS, memberi pengantar pada pembukaan konferensi.

Ini momen penting, karena dua alasan personal. Pertama, mempresentasikan paper pada forum akademik bertaraf internasional merupakan syarat wajib menyelesaikan studi S3 di Doshisha University. Kedua, inilah pertama kalinya saya mempresentasikan paper pada forum internasional, yang menurut penilaian saya, bukan hanya sekedar tampil.

Di awali pada Juni 2012, saya mengirimkan extended abstract untuk diseleksi oleh komite ahli. Di website JAHSS terpampang jelas siapa saja ahli-ahli yang bertugas mereview abstract. Lalu, pada pertengahan Juli 2012, diumumkan abstrak-abstrak yang diterima dan dipersilahkan mengirimkan full paper. Alhamdulillah, saya menerima email konfirmasi itu.  Mumpung masih ada waktu, saya memperbaiki paper, mengkonsultasikan kepada beberapa teman termasuk juga meminta pandangan Sensei.

Prof. Glenn Dawson Hook (University of Sheffield) dan Prof. Alan Hunter (Coventry University) menjadi panelis pada sesi pembukaan.

Paper yang kita kirimkan kemudian ditampilkan di website konferensi, dapat di download bebas.  Ini tentu motivasi untuk membuat paper sebaik mungkin. Publik akan menilai karya kita, sekaligus merupakan pertaruhan kredibilitas penyelenggara. Jika terdapat unsur-unsur yang dapat mencoreng kredibilitas (misalnya dugaan plagiarisme, atau teknik penulisan yang amburadul) bisa merusak reputasi semua. Maka, baik penulis maupun komite pelaksana sangat hati-hati dalam urusan ini.  Bagi penulis paper yang karena alasan tertentu tidak ingin papernya di tampilkan di website dipersilahkan menyampaikan kepada komite dengan alasan logis (misalnya masih ada kelemahan data, masih bersifat draft, atau alasan lainnya).

Paper-paper ini ditampilkan sekitar sebulan sebelum pelaksanaan konferensi. Jadi, siapa saja yang tertarik dengan topik dan paper tertentu dapat membaca sejak awal, dan berkesempatan untuk memberikan komentar, pertanyaan, atau sanggahan pada saat konferensi berlangsung.  Tentu saja, dengan demikian mereka harus berusaha hadir pada sessi paralel sesuai jadwal presentasi paper yang diminati.

Saya memperoleh jadwal presentasi selama 20 menit. Terima kasih kepada Sensei, yang memberi kesempatan Rehearsal, sehingga 10 menit dapat saya maksimalkan untuk presentasi, dan 10 menit untuk diskusi.

Pada saat sessi paralel berlangsung, setiap sessi menampilkan 3-4 orang presenter. Ada 2 presenter lain yang bersama saya di session dengan sub topik “Democracy, Livelihood, and Migration in Asia“, yaitu Fabiola Tsugami dari Polandia (kandidat Ph.D Waseda University) yang mengangkat topik “Human Trafficking dan Human Security”; dan Bui Thu Thi Sang dari Vietnam (kandidat Ph.D Kyushu University), yang mengangkat tentang Corruption and Human Security.  Saya sendiri membahas topik Human Security dan Democratization.

Hal yang menarik adalah pada setiap sesi paralel ini ada seorang komentator ahli yang memberikan ulasan dan tanggapan terhadap setiap paper. Di tangan komentator ahli itu telah ada paper-paper setiap presenter. Begitu selesai presentasi, komentator ahli ini akan memberikan ulasan, komentar, tidak jarang kritikan, untuk kesempurnaan paper.  Setelah itu, paralel session chair (moderator) akan mempersilahkan kepada audiens yang hadir untuk memberi komentar.

Di sesi paralel yang saya ikuti, Prof. Dinil Pushpalal dari Tohoku University yang menjadi komentator ahli. Secara pribadi, saya merasa cukup bangga dengan respon Prof. Pushpalal terhadap paper saya.  Ia mengatakan bahwa ia membaca paper saya berkali-kali, karena isu yang angkat (menurutnya) menarik. Ia juga mohon maaf kepada dua presenter lain, karena ia tidak sempat membaca detail paper mereka, seperti ia membaca paper saya. Lalu, komentarnya terhadap konten paper pun meluncur dari beliau.

Terasa benar profesionalisme dan kredibilitas akademik dijaga pada konferensi ini.  Sebagai presenter, ada kebanggaan tersendiri, sebab kita tahu bahwa paper dan presentasi kita memperoleh penghargaan yang selayaknya. Saya kira, hal paling membahagiakan bagi seseorang yang menulis adalah tulisannya dibaca orang lain. (*)