Archives September 2012

Diplomasi Publik Israel: Dapatkah Membohongi Realitas?

Delegasi Israel (paling kiri dan paling kanan). Yang kacamata ini adalah Sekretaris Kabinet di Kantor Perdana Menteri.

Hari ini, kampus kami kedatangan delegasi dari Palestina dan Israel dalam rangka “Young Leader session”, suatu program yang dilaksanakan oleh Kementerian Luar Negeri Jepang sejak 1997.  Program ini, formalnya, bertujuan untuk meningkatkan saling pengertian dan memicu kepercayaan baru dalam mengatasi berbagai konflik dan perbedaan.

Ada 5 orang hadir pada session terbatas yang diadakan selama sekitar 2 jam. Dua orang dari Israel (salah seorang adalah The Cabinet Secretary, begitu tertulis di kartu namanya), dan tiga orang lainnya dari Palestina. Mereka tidak berasal dari wakil pemerintah.  Bahkan, yang seorang (satu-satunya wanita dan tidak berjilbab) adalah orang Palestina yang sedang belajar Ilmu Politik di Oxford, Inggris.

Seperti biasa, diskusi tentang Israel-Palestina cukup menarik.  Mereka berbicara dengan perspektif yang sangat berbeda, dan sesekali terjadi debat antara mereka.  Wakil Palestina itu begitu mengkritik dominasi dan kecenderungan Israel menjalankan peran sebagai polisi kawasan, kepemilikan nuklir, keengganan meratifikasi Nuclear Proliferation Treaty (NPT), dan berbagai isu lain. Sementara delegasi Israel begitu bangga dengan label sebagai negara paling demokratis di Timur Tengah.

Untuk isu Syiria, misalnya, wakil-wakil Palestina menganggap itu masalah internal dan seharusnya diselesaikan internal, sementara wakil Israel bersikukuh bahwa harus ada intervensi internasional untuk menyelesaikan masalah itu. Mereka juga berbicara tentang isu “rejim tidak demokratis yang bersenjata” adalah sangat berbahaya.

Ketika sessi tanya jawab, saya menyempatkan diri berargumen, meskipun tidak cukup paham masalah ini. Saya katakan: “Bagi kebanyakan orang awam di Indonesia yang mayoritas muslim, akar masalah di Timur Tengah adalah Israel.  Saya juga adalah salah satunya.  Kebijakan Israel peace for land dan land for peace adalah kebijakan yang telah memicu agressifitas negara. Apakah Anda mengetahui hal ini?  Dan apakah Anda tahu bagaimana dengan di negara-negara muslim lainnya? Dan bagaimana respon Anda?”

Mereka berdua nampak tercengang, mungkin tidak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu. Namun dengan (anggapan saya) lips service mereka berusaha menjawab dengan berapi-api, membantah anggapan demikian.  Tetapi, tidak disangka-sangka, jawaban mereka justru dibantah langsung oleh wakil dari Palestina. Ia nampaknya senang mengetahui bahwa ada orang yang sepaham dengan mereka, dan memanfaatkan waktu untuk berbicara tentang realitas aneksasi, pengambilalihan wilayah, kekerasan, pembunuhan di wilayah konflik.

Ketika diskusi selesai, kedua delegasi Israel itu datang dan berkata: “berkunjunglah ke Israel untuk mengetahui realitas yang sebenarnya, agar Anda tidak hanya mengetahui realitas dari media dan opini yang mungkin saja bias”. Maka, kita tukaran kartu nama dan foto-foto…

Beberapa jam setelahnya, saya bertemu dengan seorang rekan Palestina, mahasiswa Ph.D juga, tetapi ia tadi tidak hadir. Saya bertanya, mengapa tadi tidak hadir. Ia berkata, itu forum propaganda Israel. Mereka ingin menampilkan wajah lainnya yang palsu kepada dunia.  Saya tidak ingin terlibat perdebatan di forum, karena saya menghargai kampus kita yang mengundang mereka.

Lalu, kawan ini, Iyaas Salim, bercerita lebih banyak lagi tentang wajah Israel di Palestine. Ia bukan berbicara dari buku atau media, tetapi dari pengalamannya sebagai orang Palestina. Saya berpikir, jika benar Israel sedang menjalankan diplomasi publik, dapatkah negara itu membohongi realitas? Bukankah, dalam diplomasi publik modern, ada ungkapan: “if you want to change the image, then change the reality”? (*)

Bekerja di Perusahaan Jepang, Diharapkan Seumur Hidup

Perusahaan-perusahaan Jepang menganggap tenaga kerjanya (human resource) sebagai asset paling penting perusahaan. Itu bukan hanya slogan, tetapi dibuktikan dalam praktek sehari-hari.

Kemarin saya berbincang-bicang dengan seorang teman di kampus, namanya Kazuto Nakamura. Dia mahasiswa master tahun kedua (istilahnya M2) di Graduate School of Global Studies, Doshisha University, yang meneliti tentang Azerbaijan. Saya bertanya, apa rencananya setelah selesai kuliah. Dengan santai ia menjawab, bekerja.

Lalu, ia bercerita bahwa ia telah melewati proses seleksi pada suatu perusahaan kimia (perusahaan itu baru saja membuka perwakilan di Kalimantan, katanya).  Setelah selesai ujian thesis pada Maret tahun depan, ia akan mulai bekerja pada April.  Artinya, masa tunggunya setelah kuliah tidak sampai sebulan.

Saya bertanya, apakah kamu bisa bekerja secepat itu karena kamu bergelar Master? Dia bilang, perusahaan Jepang lebih senang merekrut pegawai dengan tingkat pendidikan sekolah menengah, sekolah kejuruan, atau sarjana. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin terbatas pilihan kerja baginya. Umumnya, kalau seseorang memutuskan untuk melanjutkan ke pendidikan doktoral berarti dia memilih karir untuk menjadi peneliti (di perguruan tinggi atau lembaga riset swasta) atau menjadi dosen.

Lelaki berbaju biru ini sangat humble, penampilan sederhana, tidak berbeda dengan pegawai lainnya. Tetapi, di perusahaan ini, dia adalah CEO tertinggi.

Saya jadi ingat special lecture sekitar bulan Mei 2012. Juga pada suatu kunjungan ke beberapa perusahaan Jepang di bulan yang sama. Apa yang dikatakan Nakamura San, persis seperti apa yang diungkapkan oleh Agola Sensei yang memberi lecture ketika itu. Dan persis juga dengan apa yang saya lihat di Kyowa Enterprise, perusahaan pemasok spare part untuk Mitsubishi, Kawasaki, dan Yamaha, yang saya kunjungi bersama beberapa rekan.

Perusahaan Jepang memandang pegawai dan pekerjanya sebagai asset, dalam arti sesungguhnya. Saat wawancara kerja, aspek pengetahuan dan skill adalah penilaian nomor kesekian. Prioritas selalu diberikan pada aspek-aspek psikologis, seperti integritas, loyalitas, komitmen, kerjasama, dan lain-lain.  Apapun latar belakang seorang pekerja baru, ia akan melewati serangkaian proses pelatihan dan peningkatan skill sebelum diberi tanggung jawab menangani suatu pekerjaan.

Perusahaan-perusahaan mempersiapkan pekerjanya untuk tinggal lama, bahkan jika mungkin seumur hidup. Itulah sebabnya, proses seleksi dilakukan ketat. Dalam hal pekerjaan, perusahaan betul-betul memperhatikan kebutuhan dan kepentingan karyawan, memastikan ia tidak bosan dan bersedia tinggal lama. Bagaimanapun, biaya besar untuk melatih dan mempersiapkan karyawan menjadi tenaga skillful adalah asset yang harus dijaga.

Dengan sistem seperti ini, maka tentu perusahaan lebih menyukai tenaga kerja yang, ibarat bangunan, “memiliki fondasi kuat, tetapi belum ada bangunan apa-apa”. Karena fondasinya kuat (analogi untuk karekter mental dan personality), maka ada peluang membuat bangunan kokoh dan tinggi (analogi untuk: skill dan keahlian handal). Ini menjelaskan mengapa para sarjana jauh lebih disukai dibandingkan para master apalagi doktor.

Sistem promosi di kebanyakan perusahaan menggunakan metode senioritas.  Asumsinya, seseorang yang sudah lama berada disuatu perusahaan berarti sudah menguasai sejumlah pekerjaan. Ia sudah tahu kelebihan dan kekurangan dari jenis-jenis pekerjaan, apa yang harus ditingkatkan, dan bagaimana gagasan untuk memperbaikinya.

Sehingga, jarang sekali ada anak-anak muda bergelar Ph.D bidang manajemen dari perguruan tinggi ternama yang ujuk-ujuk direkrut menjadi manajer di suatu perusahaan Jepang.  Seorang manajer adalah seseorang yang “tahu bekerja”, bukan yang “tahu bagaimana bekerja”. Mungkin, itulah sebabnya semakin tinggi jabatan seseorang, semakin lama dia menghabiskan waktu di kantor untuk memastikan semua pekerjaan selesai.

Saya kemudian menduga-duga, jangan-jangan inilah salah satu kunci kekuatan sistem manajemen bisnis Jepang. Sejak Perang Dunia II berakhir, dunia sudah beberapa kali melewati krisis ekonomi serius. Kebanyakan perusahaan-perusahaan Jepang berhasil melewati masa-masa krisis, pada saat kebanyakan perusahaan di Amerika dan Eropa megap-megap untuk waktu lama sampai kemudian diselamatkan atau dibiarkan mati.

Agola Sensei bercerita dalam kuliahnya (sayangnya, belum bisa saya konfirmasi dengan data aktual) tentang salah satu perusahaan besar di Jepang yang sangat terkenal.  Sekali waktu, perusahaan mengalami krisis serius akibat ekonomi lesu dan penjualan menurun drastis.  CEO perusahaan menemui Presiden Komisaris yang sedang sakit. Sang CEO menyampaikan kondisi aktual perusahaan, sekaligus usulan mengatasi keadaan: “memberhentikan ratusan karyawan, untuk mengurangi beban perusahaan terhadap gaji dan tunjangan”.

Sang Presiden Komisaris marah.  Ia berkata: “bagaimana kita bisa memproduksi barang-barang berkualitas jika pegawai-pegawai yang sudah begitu ahli kita lepaskan?”, katanya.  Lalu, sang Presiden Komisaris berkata kepada CEO, “kembalilah kepada pegawai, kumpulkan mereka, bicarakan kondisi perusahaan, dan dengarkan apa saran mereka. Perusahaan ini adalah rumah dan keluarga bagi mereka. Mereka tahu apa yang terbaik”.

Dengan perasaan malu, sang CEO melakukan saran itu. Tanpa banyak proses, seluruh pegawai secara suka rela sepakat agar gaji mereka dipotong dan jam kerja mereka ditambah hingga perusahaan kembali normal. Di tengah badai krisis ekonomi, perusahaan itu tetap bertahan.

Saya jadi ingat, bagaimana cara perusahaan-perusahaan Amerika mengatasi krisis.  Pada 2009, perusahaan asuransi terkenal AIG terancam bangkrut akibat krisis ekonomi.  Manajemen AIG “merengek-rengek” kepada pemerintah, meminta dana talangan demi menyelamatkan perusahaan yang menyangkut hajat hidup orang banyak itu.

Betul, pemerintah AS menyuntik US$ 170 Juta untuk menyelamatkan perusahaan itu.  Ironisnya, tidak sampai sebulan setelah itu, para eksekutif AIG membagi-bagi bonus senilai total US$ 165 Juta, sebagai bagian dari upaya memotivasi kinerja!

Bagi saya yang awam, kisah ini cukup memberi penjelasan bagaimana kapitalisme di Amerika dan Jepang bekerja: “kapitalisme berbasis profit” vs “kapitalisme berbasis manusia”. Itu istilah saya… (*)

Apa harus malu beli @adidasNEOlabel ini?

Tadi siang saya ke toko olah raga yang tidak jauh dari apato, berniat untuk membeli sepatu.  Segera saja perhatian saya tersita pada sepatu merk Adidas, model NEO label yang konon keluaran baru. Ada dua hal yang menyita perhatian dengan merk ini: tampilannya yang “beda”, kasual, sederhana, tapi tetap eye catching; dan harganya yang sedang diskon serius.

Adidas NEO Label: sebenarnya ini koleksi musim panas 🙂

Saya lalu menelaah model ini beberapa lama, membandingkannya dengan Fila dan Asics yang berdekatan. Nampaknya, pilihan saya akan jatuh pada Adidas Neo Label berwarna hitam ini.

Juga faktor harga itulah yang paling berpengaruh sebenarnya. Sepatu ini dibandrol dengan harga JPY 6.195, tetapi didiskon hingga tinggal JPY 2.990. Ini adalah potongan harga yang serius kan? Dugaan saya, diskon ini terjadi karena musim panas segera berakhir beberapa minggu lagi. Neo Label adalah koleksi musim panas yang bahkan pernah diiklankan oleh David Beckham. Maka, tanpa perlu menimbang lama-lama, setelah memastikan ukurannya cocok, saya membeli sepatu ini.

Label harga seperti ini akan menggoda banyak orang.

Setiap orang tentu kenal Adidas. Merk ini begitu akrab dengan keseharian kita.  Raksasa industri perlengkapan olah raga (terutama sepatu dan kostum) asal Jerman ini begitu mendunia. Didirikan di Jerman tahun 1948 oleh Adolf Dassler (meskipun secara resmi terdaftar sebagai badan hukum bisnis pada 18 Agustus 1949), nama Adidas ternyata singkatan nama pendirinya: Adi dari Adolf dan Das dari Dassler.

Cikal bakal Adidas sebenarnya telah dimulai tahun 1924 ketika Gebruder Dassler Schuhfabrik atau pabrik sepatu Gebruder Dassler didirikan. Tahun 1948 perusahaan ini dibagi dua: yang satu dimiliki oleh Adolf Dassler (bernama Adidas) dan satu lagi oleh saudaranya Rudolf Dassler.

Di kemudian hari, Rudolf memproduksi merk PUMA yang menjadi pesaing Adidas sejak saat itu.  Waktu saya masih SMA (itu sekitar 20 tahun lalu…hehe), PUMA dan Adidas telah menjadi merk-merk papan atas, bersama-sama Power, Reebok, dan Nike yang muncul belakangan.  Konon, tahun 2008 lalu Adidas bahkan sempat mencatatkan diri sebagai perusahaan sepatu dan alat olah raga terbesar di Eropa dan kedua terbesar di dunia.

Saya lalu ingat, jelang perhelatan Olimpiade London 2012 sempat tersiar kabar bahwa Komite Olimpiade London (LOGOC) mengadakan penyelidikan atas tuduhan eksploitasi buruh murah oleh Adidas di Indonesia. Ada 9 pabrik yang memproduksi merk Adidas di Tangerang, tetapi mereka hanya diberi upah Rp. 5.000,- per jam, atau sekitar Rp. 1,53 juta per bulan, dengan jangka kerja mencapai 65 jam per minggu.

Tudingan yang dilontarkan oleh media online The Independent itu mengganggu komite olimpiade london, sebab Adidas adalah sponsor utama. Produk Adidas rancangan Stella McCartney menjadi pakaian olah raga resmi event ini.  Sementara itu, LOGOC menggunakan Ethical Trading Initiative (ETI) yang mewajibkan sponsor menggaji buruh yang memproduksi barang-barangnya digaji minimal 20% lebih besar dari upah minimun regional di setiap negara.

Entah bagaimana kelanjutan kasus itu. Yang sempat saya dengar, Adidas mengajukan pembelaan bahwa produk-produk mereka ditangani oleh pabrik-pabrik lokal dan manajemen Adidas tidak memiliki hubungan hukum apapun dengan buruh-buruh tersebut. Yup, jawaban standar perusahaan-perusahaan multi nasional yang mengeksploitasi buruh murah di negara berkembang.

Ketika tiba di rumah, tiba-tiba timbul di pikiran saya: “jangan-jangan sepatu yang baru saja saya beli ini adalah hasil kerja buruh-buruh Rp. 5.000,- per jam tersebut”. Maka, saya lalu membolak-balik bagian dalam sepatu ini untuk menemukan label atau petunjuk lokasi pembuatan. Dan, masya allah…. Made in Indonesia tertulis dengan jelas.

Saya tidak tahu, apakah seharusnya bangga karena label Indonesia ini saya temukan di super market di Kyoto. Ataukah harus sedih dan malu mengingat bahwa produk ini dihasilkan dengan (kemungkinan) eksploitasi buruh murah di tanah air.

Jauh-jauh membeli sepatu di Kyoto, dapatnya Made in Indonesia juga. Globalisasi, oh globalisi…