Archives July 2012

Respon Aparat Pemerintah Yang Dimarahi Warga

Dalam tata urutan pemerintahan di Jepang, ada istilah -ku, yaitu level pemerintahan di bawah -shi (kota). Saya tinggal di Sakyo-ku, Kyoto-shi. Kalau di Indonesia, -ku ini kira-kira selevel dengan kecamatan, meskipun kalau dilihat dari fungsi pelayanan publik, lebih luas dibanding kecamatan. Dalam bahasa Inggris, -ku diterjemahkan sebagai “ward“.

Pada saat istri dan anak-anak datang ke Kyoto, tentu saya harus berurusan dengan kantor -ku (kuyakusho) untuk memperoleh Alien Registration Card, mendaftar National Health Insurance, mendaftar sekolah anak yang mau masuk elementary school, dan juga mendaftar bayi-bayi kami untuk memperoleh layanan kesehatan dan tunjangan subsidi bulanan.

Ow, ya, meskipun kita adalah orang asing, namun undang-undang Jepang memberi hak yang sama jika kita tinggal dalam waktu lama. Jadi, ketiga anak saya juga memperoleh tunjangan dari pemerintah, diberikan subsidi untuk belanja perlengkapan sekolah, dan juga pelayanan kesehatan.

Semua urusan itu saya lakukan di Sakyo-kuyakusho, pada satu kantor meskipun loket yang berbeda-beda. Urusan registrasi penduduk dan asuransi di lantai 2, urusan tunjangan subsidi anak-anak di lantai 2, dan urusan pelayanan kesehatan anak-anak di lantai 3.

Ketika saya tiba di lantai 3, di salah satu meja pelayanan ada seorang ibu muda yang sangat jelas sedang marah-marah. Ia berbicara dengan suara yang terdengar lebih keras dari pembicaraan biasa, dengan intonasi geram. Saya kira, ketika sedang marah-marah, bahasa apapun yang digunakan kita seharusnya bisa tahu bahwa itu adalah marah-marah, kan?

Saya belum terlalu paham bahasa Jepang. Tetapi dari sebagian kata-kata yang sempat saya mengerti, nampaknya ibu itu marah tentang suatu surat pemberitahuan yang terlambat ia terima, sehingga ia tidak dapat mengikuti sesuatu. Saya bertanya kepada kawan yang menemani saya, yang sangat mengerti bahasa Jepang. Kawan itu bilang, “Ibu itu menganggap pegawai-pegawai di sini tidak bekerja maksimal”.

Yang menarik dari adegan marah-marah itu adalah apa yang terlihat di hadapan ibu itu: dua orang pegawai di bagian pelayanan kesehatan ini. Dua-duanya adalah pria.  Yang seorang masih sangat muda, berusia antara  20 atau 30-an tahun.  Seorang lagi separuh baya, mungkin usianya sekitar 50-an tahun.

Kedua pegawai duduk terdiam di hadapan ibu itu, dengan kepala menunduk sangat dalam, dan mata menatap lantai tanpa berani melihat ke wajah ibu itu. Ya, keduanya nampak sangat menyesal telah melakukan kesalahan yang membuat ibu ini mengalami kekecewaan terhadap layanan publik.

Tidak ada kata-kata bantahan atau kalimat-kalimat debat yang diucapkan oleh kedua pegawai itu, selain kata-kata “hai…hai…” (iya…iya…) untuk membenarkan apa yang dikatakan ibu itu. Adegan marah dan kecewa itu berlangsung selama kira-kira 10 menit, dan selama itu pula kedua pegawai tidak bergerak sedikitpun.

Setelah selesai mengungkapkan kekecewaannya, ibu itu pergi dari situ.  Saat ia akan berdiri meninggalkan kursinya, kedua pegawai itu membungkukkan badan lebih dalam lagi, untuk menunjukkan penyesalan mendalam.

Awalnya, saya berpikir kedua pegawai ini adalah staf di bagian yang khusus menerima komplain atau semacamnya. Tetapi, saya benar-benar terperangah ketika belakangan saya tahu, bahwa lelaki separuh baya yang dengan sabar mendengarkan kekecewaan ibu muda itu, ternyata adalah kepala kantor disini. Dia adalah pimpinan tertinggi di seksi pelayanan kesehatan.

PS: tentu saja tidak ada foto untuk adegan ini, pastilah tidak sopan memotret orang yang sedang marah-marah kan…

Bertetangga Dengan Yakuza

Rumah yang berada di depan apato saya adalah kediaman seorang pemimpin yakuza.  Informasi ini awalnya saya peroleh dari Prof. Iqbal Djawad yang kamar apatonya diwariskan kepada saya.  Waktu itu, Pak Iqbal (yang sekarang dipercaya menjadi Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Tokyo) sekedar menjadikan informasi itu sebagai bahan cerita sambil lalu saja.

Setelah saya menempati apato ini pada bulan Maret 2012, diam-diam saya sering mengamati sambil lalu rumah itu.  Dari ukurannya, ini adalah bangunan paling besar di sepanjang Higashi Mizuhoshi-cho (cho dalam bahasa Jepang adalah sebutan untuk kawasan atau area tertentu, kira-kira setara RT-lah kalau di Indonesia).

Bangunan tiga lantai berwarna dominan putih ini memanjang ke belakang, mirip ruko.  Lantai dasar bagian depan digunakan sebagai garasi.  Ada sekitar 5-6 mobil berbagai merk yang biasa parkir, namun pada siang hingga sore hari, umumnya garasi itu kosong. Lantai 2 dan tiga nampaknya digunakan sebagai rumah tinggal.

Dari kamar apato saya, lantai atas bangunan itu terlihat seperti gym (tempat latihan olah raga), namun ada semacam target untuk latihan memanah atau menembak, seperti target dart ukuran besar.

Aktivitas di lantai 1 dan di depan rumah yang langsung berada di tepi jalan raya itu sekilas biasa saja. Namun hampir setiap hari selalu banyak anak muda berkumpul, biasanya sekitar 3-7 orang.  Mereka umumnya berbusana casual. Setiap ada yang akan keluar rumah, mereka (anak-anak muda) akan sibuk membuka pintu mobil atau memastikan lalu lintas lancar.

Saya perhatikan, ada seorang lelaki yang usianya sekitar 50-60 tahun yang setiap kali ia akan keluar rumah atau baru tiba, anak-anak muda itu akan sangat sibuk. Jika hujan, mereka akan memayungi orang tua itu. Mereka akan membukakan pintu mobil untuknya, dan sesaat sebelum mobilnya bergerak, mereka akan memberi hormat dengan cara membungkukkan badan.

Tentu saja, itu belum cukup memberi bukti bahwa rumah itu berkaitan dengan yakuza. Bos yakuza biasa disebut oyabun

Kebanyakan anak muda disitu memiliki tattoo di tubuhnya. Saya pernah melihat seseorang yang mengenakan singlet, dan nampak jelas seluruh lengan dan lehernya muncul gambar tattoo yang kira-kira “induk” tattoo itu ada di tubuhnya.

Memang, kebanyakan tattoo pada anggota yakuza dibuat tanpa bantuan alat modern dan sering membutuhkan waktu bertahun-tahun. Namun, setelah tattoo (disebut irezumi) selesai, kita tidak mengetahui bagaimana proses pembuatannya kan?

Sehingga, lagi-lagi, keberadaan tattoo (irezumi) itu belum cukup memberi bukti bahwa mereka adalah yakuza. Siapa saja bisa bertattoo kan? Apalagi, tattoo dewasa ini telah menjadi semacam mode, khususnya bagi sebagian masyarakat urban.

Sampai kemudian saya mengalami peristiwa ini, yang membuat saya yakin bahwa rumah itu dan orang-orangnya berkaitan erat dengan yakuza.

Saya selalu lewat di depan rumah itu, hampir setiap hari. Pada akhir pekan, saya lewat di depan rumah itu bersama istri dan anak-anak: Zaidan si Ichinensee (anak kelas 1), serta Zaila dan Zaira si kembar yang baru belajar jalan.  Tentu saja, Zaila dan Zaira duduk manis di baby stroller mereka, dan saya yang paling sering bertugas mendorong.

Seperti biasa, kami lewat di depan rumah itu. Seperti biasa, banyak anak-anak muda dan lelaki-lelaki berbadan kekar yang “nongkrong”.  Zaila dan Zaira bersama baby stroller mereka, biasanya, menjadi perhatian orang-orang disepanjang perjalanan yang kami lewati.  Orang-orang sering menyapa “hallo…”, melambai tangan kepada si kembar ini, atau ber-“bye-bye” kepada mereka.

Kali ini, seorang lelaki kekar di depan rumah itu dengan tattoo di lengan (nampaknya perpanjangan dari tattoo di tubuhnya yang tertutup kaos oblong), juga melambai-lambaikan tangannya kepada Zaila dan Zaira.  Ia sedang ngobrol dengan kawan-kawannya.  Jarak kami hanya sekitar 2 meter, sangat dekat, sebab kami benar-benar lewat tepat di depan mereka.

Saat itulah saya sempat menelan ludah. Lelaki yang melambai-lambaikan tangan kirinya itu nampak jelas tidak memiliki jari kelingking yang sempurna. Sepertinya, jari kelingking itu telah dipotong dengan sengaja pada suatu waktu entah kapan.

Diam-diam, saya melirik ke tangan kiri dua dari empat orang lainnya di situ. Dan, betul. Keduanya tidak memiliki jari kelingking yang sempurna. Panjang jari kelingking mereka yang tersisa kira-kira hanya 1 cm saja. Di kepala saya kemudian terbayang berbagai kemungkinan bagaimana dan mengapa jari kelingking itu bisa (mari kita pastikan saja) dipotong dengan sengaja.

Dalam banyak kisah yang pernah kita baca di novel atau nonton di film, hilangnya jari kelingking seorang yakuza adalah bagian dari ritual untuk menunjukkan loyalitas atau penebusan kesalahan berat. Ritual memotong jari kelingking itu disebut yubitsume.  Ritual ini mengandung banyak makna dan nilai.

Tentu saja, yang paling pertama dibutuhkan adalah keberanian. Jika ritual ini dilakukan karena ingin menunjukkan kesetiaan, maka ini benar-benar wujud kesetiaan yang tinggi. Jika dilakukan karena wujud penyesalan (permohonan maaf), maka inilah permohonan maaf yang sangat ikhlas. Dan, praktek ini masih lazim ditemui dalam dunia yakuza hingga hari ini.

Eksistensi yakuza saat ini menjadi perdebatan dalam masyarakat Jepang, terutama jika dikaitkan dengan konsep-konsep modern tentang kejahatan terorganisir. Orang sering kali lupa pada nilai kultural yang ada dibalik itu.

Dan, saya sendiri benar-benar tidak pernah menyangka bahwa akan menyaksikan secara langsung seseorang dengan jari kelingking yang hilang karena yubitsume di jaman modern ini. Semoga saya berkesempatan untuk foto bersama mereka, mumpung tetangga kan… 🙂