Archives November 2011

Amerika di Pasifik: “Even A Fool Can See, Sir..”

Presiden AS, Barack Obama (Foto dari radiff.com, klik foto untuk link ke sumber asli)

Di sela-sela ramainya pembicaraan publik tentang KTT ASEAN-Asia Timur pada 17-19 Nopember 2011 di Bali, menyeruak berita sangat menarik: Amerika akan menempatkan sekitar 2.500 pasukan marinir di wilayah utara Australia, dan akan menggelar armada angkatan laut yang cukup signifikan di kawasan itu.

Secara resmi, Pemerintah AS mengumumkan bahwa penempatan pasukan itu sama sekali tidak bertujuan ekspansif atau ancaman bagi kawasan Asia dan Pasifik.  Amerika ingin mengeksiskan kehadirannya di Asia Pasifik, dan penempatan pasukan dimaksudkan untuk mobilisasi cepat bantuan bencana alam.  Dengan kata lain, tujuan utama penempatakan pasukan marinir di wilayah Darwin tersebut adalah untuk mengantisipasi bencana alam yang setiap saat mengancam wilayah-wilayah di Asia Pasifik.

Tentu saja, pernyataan Washington tersebut adalah kalimat-kalima normatif dalam diplomasi.  Secara logis, kebutuhan kawasan Asia Pasifik terhadap tim reaksi cepat bagi penanganan bencana tidak perlu dijawab dengan menempatkan 2.500 pasukan marinir (type pasukan sangat elit dan terlatih perang) yang siaga setiap saat.  Bencana alam bukanlah sesuatu yang dapat diprediksikan, dan tidak seluruh wilayah di Asia Pasifik terus-menerus berada dalam ancaman bencana alam.

Lalu, apa motif sebenarnya dari penempatan pasukan itu?  Bukankah di Asia Pasifik telah tersebar ribuan pasukan Amerika?

Saya kira, satu-satunya alasan paling rasional untuk menjelaskan kehadiran pasukan AS di Pasifik adalah “mengimbangi China” yang kini sedang dalam proses menjadi kekuatan hegemon, tidak saja di kawasan tetapi juga di dunia.  China sedang melakukan uji coba melalui klaim Laut Cina Selatan.  Hal ini terlihat dari keinginan China untuk menyelesaikan isu Laut Cina Selatan dengan pendekatan bilateral dan menghindari mekanisme multi-lateral.  Dengan kata lain, China sedang bereksperimen untuk memiliterisasi konflik Laut China Selatan, yang tampak dari pembangunan pangkalan militer China di Pulau Hainan, yang terletak di sisi Laut China Selatan

Secara ekonomi, China kini sedang bergeliat dan siap bangkit menjadi kekuatan ekonomi dunia.  Dalam hubungan internasional, dikenal formula klasik: kekuatan ekonomi plus kapabilitas militer sama dengan kepemimpinan hegemon.  China sedang bergerak ke arah kepemimpinan dunia, yang hendak dimulai dari kawasan Asia Timur dan Pasifik.  Nampaknya, AS resah dengan gejala ini.  Secara geopolitik, China berada di kawasan paling dinamis dari sisi ekonomi.  Membiarkan China menguasai kawasan ini secara ekonomi dan politik, sama halnya mengijinkan China bangkit menjadi pemimpin baru dunia dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Dengan kata lain, kehadiran AS di Pasifik jauh dari kepentingan terhadap bantuan bencana, sebagaimana yang secara formal dikemukakan.  Konyolnya, statemen ini dipercaya mentah-mentah oleh Presiden SBY dan Kementerian Luar Negeri. (*)

5mo’s Zaila and Zaira, they have a great mother..

Trio Macan 🙂

Alhamdulillah, hari ini Zaila dan Zaira 5 bulan. Zaila lebih duluan tengkurap sejak minggu lalu. Zaira baru mulai tengkurap kemarin. Dan, mereka mulai cerewet.  Begitu kata Maminya…

Alhamdulillah, mereka memiliki ibu luar biasa, yang meluangkan waktu sepenuhnya untuk keluarga.

Alhamdulillah, mereka memiliki Zaidaan, kakak yang akan selalu menjaga.

Rasanya tidak sabar untuk segera berkumpul dengan mereka…(*)

“Karena Anda Meminta, Saya Akan Minum Air Dari Fukushima”

Ini berita di Asahi Shimbun hari ini: “Parlementary Secretary Drinks Water from Fukushima Plant”. Dan betul. Yashuhiro Sonoda, sekretaris parlemen Jepang, kemarin meminum air yang berasal dari reaktor nuklir No. 1 di Fukushima, yang beberapa waktu lalu terkontaminasi radiasi, setelah mengalami kebocoran akibat tsunami 11 Maret 2011.

Yashuhiro Noda meminum air dari reaktor nuklir Fukushima. (Photo: diambil dari website Asahi Shimbun, klik foto untuk linknya)

Ceritanya berasal dari konferensi pers yang digelar TEPCO (PLN-nya Jepang) tanggal 10 Oktober 2011 lalu, diumumkan bahwa air dari Fukushima telah diproses dan sekarang berada pada level aman untuk dikonsumsi.  Seorang freelace writer mengatakan ketika itu: “Hingga kini kami masih dilarang memasuki areal reaktor nuklir No. 1 di Fukushima.  Jadi, kami harus percaya pada apa yang dikatakan TEPCO.  Kenapa Anda tidak membagikan saja air itu di gelas dan biarkan orang-orang disini meminumnya?”.

Saat itu tidak ada sampel air yang dibawa.  Tetapi, pada tanggal 13 Oktober 2011, dalam jumpa pers bersama oleh TEPCO dan pejabat pemerintah, pertanyaan yang sama kembali dimunculkan oleh freelance writer lainnya: “Naoto Kan dulu memakan lobak (radish sprout, ini betul lobak kan? hehe…) untuk membuktikan bahwa telah aman dari bakteri E.Coli.  Sekarang TEPCO menyatakan bahwa air dari Fukushima sekarang telah aman untuk diminum.  Kenapa Anda tidak meminumnya untuk membuktikan kepada kami?”.

(Naoto Kan adalah mantan perdana menteri Jepang yang baru saja digantikan oleh Hoda pada September lalu.  Tahun 1996, ketika beliau masih menjabat Menteri Kesehatan, kasus bakteri E.Coli ini muncul.  Tindakan cepat diambil.  Lalu untuk membuktikan bahwa tanaman tersebut telah aman, Kan memakan lobak yang diduga mengandung e.Coli tersebut).

Sonoda yang hadir di konferensi pers itu menjawab: “Saya tidak akan meminumnya jika masyarakat berpikir itu hanya untuk aksi publisitas.  Tetapi jika Anda meminta, saya akan meminumnya”.

Dan, Senin 31 Oktober 2011, Sonoda membuktikan kata-katanya.  Dalam jumpa pers bersama oleh TEPCO dan pejabat pemerintah (yang rutin dilakukan dua minggu sekali sejak terjadinya bencana tsunami Maret lalu), Yashuro Sonoda meminum setengah gelas air dari reaktor nuklir di Fukushima.  Air itu berasal dari reaktor No. 5 dan No. 6 yang disimpan dipenampungan no. 1.  Pemerintah lokal dan koperasi nelayan terus mengkhawatirkan keamanan air tersebut.

Meskipun TEPCO telah melakukan upaya memproses air tersebut agar memenuhi standar aman yang telah ditetapkan, namun kekhawatiran masih saja muncul.  Apalagi, hingga kini reaktor nuklir No. 1 di Fukushima masih dinyatakan sebagai daerah tertutup bagi wartawan.  Wajar jika ada yang meragukan pernyataan resmi TEPCO bahwa air tersebut telah aman.

Lagi-lagi, kita menemukan contoh nyata betapa bertanggung jawabnya pejabat publik di Jepang dengan pernyataan yang mereka keluarkan.  Tentu, kita tidak akan (atau sangat-sangat jarang) menemukan ada kebohongan publik disini.  Setiap pejabat siap bertanggung jawab dengan kata-katanya.

Meminum air yang mengandung radiasi nuklir tentu mengandung resiko besar.  Sonoda tidak akan melakukan itu jika ia tidak yakin dengan keamanan air tersebut.  Artinya, TEPCO dan pemerintah menyatakan air telah aman, karena benar-benar telah aman.  Bukan untuk menenangkan atau menyenangkan warga.

Apakah masih ada contoh seperti ini dari pejabat publik kita di Indonesia?  Yang saya tahu, pejabat publik kita, para politisi kita, hanya rajin membuat pernyataan.  Soal benar tidaknya urusan belakangan.  Kalau terbukti mereka berbohong, maka ada banyak cara untuk ngeles.  Toh, masyarakat kita cepat lupa dan mudah memaafkan… Ironis!

Kenapa SBY Tidak Buat Album Sebelum Jadi Presiden?

Waktu membuka media online kemarin sore (Senin, 31 Oktober 2011), saya dibuat manggut-manggut dengan judul kompak beberapa media: Presiden SBY luncurkan album ke-4, “Harmoni”.  Waktu album pertama dan kedua, saya tercengang. Di album ketiga, saya surprise (“ada lagi?” kata saya waktu itu).  Dan ketika album keempat ini luncur, saya tinggal manggut-manggut saja.

Foto ilustrasi, diambil dari Okezone (link pada gambar). Ditampilkan bukan untuk kepentingan komersial. (Ishaq)

Di waktu senggang, saya biasa menonton cuplikan rekaman ajang mencari bakat (terutama menyanyi).  Sekarang ini sedang berlangsung The X Factor di salah satu stasiun TV Amerika.  Simon Cowell masih jadi tokoh utamanya.

Hal yang menarik adalah begitu banyak “orang-orang” biasa yang ternyata memiliki kemampuan luar biasa, tetapi tidak memiliki ruang untuk disalurkan.  Ajang seperti The X Factor adalah “keajaiban” bagi mereka.

Ada Melanie Amaro, yang ketika audisi mengguncang penonton (dan membuat keempat juri memberikan standing applause) saat ia membawakan Listen dari Beyonce.  Ada Rachel Crow, gadis berusia 11 tahun dari keluarga miskin.  Ada Chris Rene, mantan pecandu narkoba yang sedang rehab (saat audisi ia membawakan lagu hip-hop ciptaan sendiri dan membuat takjub).  Ada LeRoy Bell, kakek berusia 60 tahun.  Ada Stacey Francis, wanita 50-an tahun yang dicampakkan oleh suaminya.

Mereka membutuhkan keajaiban sebelum kemampuan menyanyi mereka dikenal masyarakat luas.  Keajaiban bagi mereka itu adalah “ruang untuk dengar” oleh masyarakat luas.

Chris Rene, misalnya, video audisinya di The X Factor pada bulan September 2011 di upload ke youtube.  Dan, hitnya sekarang telah mencapai hampir 7 juta view (belum terhitung orang-orang yang mendownload dan menyebarkannya manual).

Beberapa waktu lalu, beberapa ajang serupa juga pernah marak di Indonesia.  Saat Indonesian Idol 2004 digelar, muncullah nama Delon sebagai runner up (belakangan ia dinyatakan menang, setelah Joy Tobing yang juara bermasalah).  Delon sebelumnya adalah sales panci dan peralatan dapur.

Tahun 2008, ada Paul Pott, seorang penjual ponsel keliling di Inggris.  Penampilannya sangat sederhana, dan ketika melihat dirinya, orang pasti akan under-estimate.  Tapi di ajang British Got Talent 2008, Paul Pott mengguncang saat audisi dengan lagu opera Nessun Dorna.

Dan, masih banyak lagi kisah-kisah perjuangan panjang dan melelahkan bagi orang-orang biasa tetapi memiliki kemampuan luar biasa.  Perjuangan mereka adalah mencari ruang untuk didengar dan dilihat.  Ruang untuk mengubah hidup mereka menjadi lebih baik.

Ketika Presiden SBY meluncurkan album pertama, Rinduku Padamu (Oktober 2007), saya tercengang.  Presiden membuat album, pasti dibeli dan bagus.  Adakah orang, terutama di struktur pemerintah dan kekuasaan, yang berani mengatakan lagu-lagu Presiden SBY tidak bagus dan tidak layak? Hehe…

Lalu, SBY membuat album lagi pada 2009 (Evolusi).  Lalu album ketiga, “Kuyakin Sampai Disana” (Januari 2010), dan sekarang “Harmoni”.  Pastilah dan sangat pasti, album-album SBY itu laku (atau dibuat laku) dan dinyatakan bagus.  Ketika mendengar lagu-lagu SBY, saya sangat yakin orang tidak saja mendengar syair atau iramanya, tetapi sedang mendengarkan kekuasaan.

Jika memang membuat lagu adalah hobby SBY, kita patut memberi penghormatan.  Siapa saja boleh mempunyai hobby, boleh mempunyai bakat, boleh membuat rekaman, boleh meluncurkan album.

Tetapi, tugas utama seorang Presiden bukanlah membuat lagu kan?  Pekerjaan utamanya jauh lebih berat dari itu.  Ada urusan masyarakat miskin, urusan Papua dan berbagai pelanggaran terhadap hak-hak sipil disana, urusan infrastruktur, urusan korupsi, dan ada begitu banyak tugas utama dan jauh lebih penting.

Secara awam, saya jadinya menilai bahwa jika urusan-urusan utama masih banyak yang belum selesai, dan urusan tidak penting diselesaikan, jangan-jangan presiden memang mengutamakan urusan yang tidak penting.

Mengapa SBY tidak membuat album saja sebelum menjadi Presiden, atau saat telah selesai menjabat Presiden?  Nampaknya hal itu akan jauh lebih elegan dan terhormat dan etis bagi seseorang yang mempunyai kekuasaan.

Saya yakin, ada ribuan anak-anak muda kita yang memiliki bukan saja hobby atau minat tetapi juga kemampuan untuk menciptakan lagu dan bernyanyi.  Mereka sedang mencari ruang untuk didengar dan dilihat.  Mereka pastilah marah dan kecewa, karena ruang itu tidak cukup disediakan untuk mereka.  Sementara presiden mereka, bisa menggunakan ruang apa saja untuk kepentingan dirinya.

Kekuasaan memang sering membuat kita lupa.(*)