Archives August 2011

Perjalanan Panjang Menuju Kyoto (3): Mencari Beasiswa

Pada awalnya, calon supervisor saya di Doshisha University (Sensei Eiji Oyamada) berjanji akan mencarikan peluang beasiswa dari Pemerintah Jepang.  Beliau beberapa kali menginformasikan tentang peluang-peluang itu, termasuk juga mengkomunikasikan dengan pimpinan universitasnya untuk memperoleh potongan biaya kuliah bagi saya kelak.

Pada saat yang sama, saya mendengar dari beberapa rekan tentang peluang untuk memperoleh beasiswa S3 luar negeri yang disediakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) khusus untuk dosen.  Saya berpikir sangat pragmatis: mana yang lebih dulu dapat, itulah yang akan saya ambil.

Sikap ini saya ambil karena pada masa-masa yang lalu, sebagaimana kebanyakan teman-teman yang ingin sekolah lainnya, saya pernah mendaftar di banyak program beasiswa.  Tentu saja tidak satupun yang berhasil (itulah kenapa postingan ini saya tulis… LOL).  Konon, ada trik khusus saat mendaftar beasiswa.  Saya juga telah mempelajarinya, tetapi prestasi tertinggi saya adalah dipanggil wawancara.

Pernah sekali waktu, saya mendaftar beasiswa Stuned (ke Belanda) dan British Chevening sekaligus.  Keduanya tidak lulus.  Pada saat yang sama, ada seorang scholarship hunter yang juga mendaftar di kedua beasiswa itu, dan keduanya lulus. Mungkin seleksinya memang ketat, dan mungkin kandidat yang lulus di kedua beasiswa itu hebat.

Belakangan, saya ragukan hal itu.  Sebab, di kedua beasiswa itu tertulis jelas salah satu syarat kandidat adalah “telah bekerja dibidangnya minimal 2 tahun”.  Dan kandidat yang lulus dikedua beasiswa itu adalah fresh graduate! LOL… LOL… LOL…

Hampir semua beasiswa selalu memiliki sisi-sisi aneh seperti itu.  Dengan kata lain, bahkan beasiswa yang berasal dari negara maju sekalipun “bisa diatur” pemenangnya.  Sudah pasti bukan dengan suap.  Tapi, saya yakin sekali, dengan kolusi dan nepotisme!

Maka, saya memutuskan untuk mendahulukan daftar di seleksi beasiswa Dikti.  Pertimbangan saya, ini beasiswa “targeted” untuk dosen.  Selain itu, saya mendengar bahwa kuota penerima beasiswa ini selalu tidak tercapai dari tahun ke tahun.  Hal lainnya, saya pikir kalau memang dibutuhkan untuk kolusi dan nepotisme, bisalah saya minta tolong kepada beberapa kenalan.

Amazingnya, saya berhasil lulus beasiswa Dikti ini tanpa perlu kolusi dan nepotisme.  Cukup mendaftar saja, melengkapi dokumen-dokumen yang dibutuhkan, lulus berkas, dipanggil wawancara, dan dinyatakan lulus untuk Gelombang 5 tahun 2011. Alhamdulillah yah… Ternyata itu sesuatu yah… *Syahrini mode on* 🙂

Postingan berikut, akan saya share lika-liku mendaftar Beasiswa S3 Luar Negeri Dikti.  Ada tips dan trik-nya ternyata.  Setelah mengalami sendiri, tidak salah kalau pengalaman ini saya bagikan…

Professor Mappa Nasrun, Selalu Kembali ke Kampus

Prof. Dr. Mappa Nasrun memimpin Sidang Ujian Sarjana Mahasiswa baru-baru ini...

Beliau telah menjadi dosen senior ketika saya masuk kuliah, tahun 1991.  Di foto ini, tahun 2011, saya duduk disampingnya sebagai sesama dosen yang sedang menguji skripsi mahasiswa.  Selama 20 tahun mengenalnya, beliau pernah menduduki banyak jabatan, hingga atase pendidikan di KBRI Washinton.  Akan tetapi, komitmen untuk mengajar tidak pernah hilang.  Beginilah seharusnya dosen: selalu kembali ke kampus.

Cara Mudah Menenangkan Anak… :)

Berlaku efektif untuk anak ini, Zaidan (6 tahun).  Setelah meninggalkannya di bagian komik atau buku anak-anak atau bagian majalah, kita berkeliling toko buku berjam-jam.  Saat kembali, dia masih ada disitu.  Semoga toko-toko buku tidak membuat label: “Dilarang Membaca Di tempat”. LOL

“Mami Tidak Sayang Saya Lagi”

Itu kalimat yang diucapkan anak kami, Zidan, sekitar seminggu setelah adik-adiknya lahir: si kembar Zaila dan Zaira.  Si kembar lahir di rumah sakit.  Sekitar 5 hari di rawat paska melahirkan, rumah sakit dipenuhi keluarga, kerabat dan sahabat yang berkunjung.  Zidan senang saat itu.  Di usianya yang telah lewat 6 tahun, menemui banyak orang sangat menyenangkan baginya.

Tetapi begitu kami kembali ke rumah, suasana asli mulai terasa.  Maminya dan saya, mau tidak mau, lebih banyak menghabiskan waktu “menyesuaikan diri” dengan kehadiran si kembar.  Kami berpengalaman membesarkan Zidan, terutama Maminya.  Tetapi mengelola kehadiran dua bayi perempuan sekaligus adalah pengalaman baru penuh takjub.

Sejak Zidan lahir, istri saya telah berkomitmen menjadi ibu bagi anak-anaknya.  Urusan lain adalah prioritas kesekian.  Ia ingin anak-anaknya memiliki ibu tunggal: dirinya.  Jadi, tidak akan ada kesempatan sedikitpun bagi “penjaga bayi” (siapapun itu) untuk hadir diantara dirinya dan anaknya. Ia berhenti bekerja untuk komitmen itu. Tekad yang sama, meskipun belakangan terasa beratnya, juga berlaku bagi dua bayi kami.

Bisa dibayangkan, bagaimana sibuk dan repotnya istri saya mengelola bayi-bayi kami.  Meskipun kembar identik, namun tingkah lakunya tidaklah identik.  Memang ada masa-masa dimana mereka melakukan beberapa hal bersamaan.  Namun tidak jarang juga mereka bertingkah “tidak kompak”.

Dampaknya, tentu saja, sebagian besar waktu istri saya habis untuk mengelola gadis-gadis kembar kami.  Tidak ada lagi waktu luang untuk membuat lukisan, sketsa atau meng-update blog-nya.  Zidan tiba-tiba merasa kehilangan mitra.  Selama ini, salah satu kesenangan Zidan adalah sibuk bareng Maminya: ia menggambar, Maminya membuat sketsa; ia membaca komik, Maminya meng-update blog; dan macam-macam lagi.

Selama lebih 6 tahun usianya, Zidan adalah sentra perhatian kami.  Meskipun kami bertekad untuk tidak menjadikannya anak yang manja, cara kami berbeda.  Perhatian terhadap Zidan tidak kami berikan dengan cara “memenuhi semua keinginannya”.

Perhatian kami diwujudkan dengan “memberi sebanyak mungkin waktu untuknya”.  Kami akan meluangkan waktu (dengan kesabaran tinggi) untuk menjelaskan kepadanya “mengapa kami tidak membelikannya mainan yang sangat ia inginkan”, atau menjelaskan “mengapa ia tidak boleh berlaku kasar”, atau menjelaskan “mengapa membaca adalah perlu baginya”, dan segalanya.  Kami akan menjelaskan apa saja kepadanya, sebanyak apapun waktu dibutuhkan.

Zidan tidak pernah dibiarkan pergi tidur sendirian.  Selalu saja istri saya atau saya menemaninya.  Membantunya menghafal beberapa surat Al-Qur’an, menemaninya bercerita hingga ia tertidur, menjawab pertanyaan-pertanyaan khas anak kecil-nya, dan segalanya.

Lalu, seminggu setelah kehadiran Zaila dan Zaira, rutinitas itu mulai berubah.  Zidan diminta tidur sendiri, karena maminya sedang mengurus-urus bayi yang satu, dan saya menangani bayi satunya lagi.  Kami memintanya mengerti dengan mengatakan: “Zidan sekarang Abang, sudah dewasa, karena sudah mempunyai adik….”

Ketika mandi pagi, Zidan diminta mandi sendiri.  Dia memang sudah pandai mandi sendiri danmemakai baju sendiri.  Tetapi, selama ini selalu ada yang menemaninya.  Belakangan, ia mulai malas mandi, karena tidak ada lagi yang menemani.

Begitu juga saat makan.  Zidan sudah lama pandai makan sendiri.  Tetapi, saat makan, selalu ada yang menemaninya cerita… (Oh ya, kami bukan penganut aliran “tidak boleh ngobrol saat makan”.  Bagi kami, meja makan adalah tempat yang tepat untuk membahas banyak hal.  Jadi, makan sambil berbicara justru sering kami lakukan).  Pendamping dan teman cerita saat makan itu juga mulai sibuk dengan urusan bayi.

Hingga, suatu malam, beberapa hari setelah kami kembali di rumah, Zidan belum juga tidur.  Meski berkali-kali disuruh tidur, ia hanya cemberut.  Lalu, tiba-tiba ia datang pada saya dan berkata lirih: “Mami sudah tidak peduli sama Dande.  Mungkin Mami sudah tidak sayang sama Dande ya Papi?”

Wajahnya kelihatan sangat sedih, khas anak kecil.  Tetapi, ini bukan anak kecil biasa, saya kira.  Sebab ada sedikit sembab di matanya, semacam tangis yang tertahan.  Wah, ia betul-betul sedih.

Saya hanya memeluknya dan berkata: “Coba Zidan bilang sendiri ke Mami”.  Tapi ia tidak mau.  Ia meminta saya yang menyampaikan kepada Maminya.  Saya mengajaknya bersama-sama menemui Maminya yang sedang sibuk memberi susu bayi kembar kami.

Istri saya sangat terharu.  Dan meneteskan air mata.  Kami menghabiskan beberapa waktu untuk menjelaskan kepadanya makna menyayangi adik-adiknya.  Bahwa, mengurus adik-adiknya yang masih bayi adalah wujud sayang kami kepada Zidan.  Sebab, Zidan saat ini sedang bangga memiliki sepasang adik kembar, gadis-gadis yang cantik.

Setelah itu, kami lalu mengembangkan manajemen baru. Sesibuk apapun kami mengatasi urusan-urusan si kembar, perlu selalu ada waktu untuk Zidan.  Maka, saat akan tidur, salah satu dari kami perlu mendampingi Zidan.  Saat mandi pagi, Maminya akan menyempatkan mendampinginya (sambil menggendong salah satu bayi kalau perlu).

Lama-lama Zidan mulai paham bahwa ia harus berbagi dengan adik-adiknya.  Suatu ketika, Zidan berkata: “Mami, itu Zaila mau minum susu. Jangan mi saya ditemani makan nah, saya bisa makan sendiri koq…”

Luangkan waktu untuk menjelaskan segala hal kepada anak selalu menjadi cara terbaik untuk mendidik.  Inilah substansi “pendidikan berasal dari rumah”.  Kami tidak ingin tugas dan tanggung jawab mendidik anak diambil oleh sekolah yang makin kapitalis, mekanistik, dan penuh standar.  Kapanpun, luangkanlah waktu untuk anak…(*)

Perjalanan Panjang Menuju Kyoto (2): Doshisha University

Rencana untuk kuliah di Jepang telah ada di benak saya sejak 2005.  Ketika itu, saya menjadi program officer dari suatu proyek kerjasama Unhas dengan The World Bank Institute.  Salah seorang expert dari WBI yang bertugas adalah Eiji Oyamada, Ph.D, yang berasal dari Doshisha University.  Ia nampaknya tertarik dengan pekerjaan saya, dan berkata kepada Wakil Rektor IV Unhas, Dr. Dwia Aries Tina, akan membajak saya ke Kyoto.

Waktu itu saya memang sedang mencari peluang untuk melanjutkan S2.  Saya berpikir bahwa peluang untuk belajar di Kyoto terbuka lebar dengan ketertarikan Sensei Oyamada.  Akan tetapi, Sensei Oyamada ternyata masih berstatus BKO (istilah ini lazim di militer..hehe) di Universitas Paramadina.  Beliau sedang dikontrak oleh universitas warisan Almarhum Nurcholis Madjid itu sebagai Direktur Kerjasama Internasional.

Karena pertimbangan waktu dan usia, saya memutuskan untuk “menunda” rencana kuliah di Kyoto dan mengambil program magister hubungan internasional di Universitas Indonesia, sejak 2008-2010.  Saya masih terus berkomunikasi dengan Sensei Oyamada dan membina hubungan dengan beliau.

Atas rekomendasi beliau, saya berkesempatan mengikuti Summer Course on Managing Integrity di Central European University, di Budapest, Hungaria, pada musim panas 2009.  Di sinilah saya mengerti apa arti “trust” dalam budaya Jepang.  Sekali kita memperoleh kepercayaan mereka, maka selamanya mereka akan mendukung kita.

Selesai kuliah di Universitas Indonesia saya berniat kembali ke Makassar.  Namun komunikasi dengan Sensei Oyamada terus berlanjut.  Awal 2010, Sensei Oyamada kembali ke Doshisha.  Beliau mengatakan bahwa akan mencarikan beasiswa agar saya dapat menempuh pendidikan paska sarjana untuk memperoleh Ph.D di Doshisha University, Kyoto.

Saya mulai mencari-cari informasi tentang kampus ini.  Soalnya, tidak banyak yang mengetahui kisah tentang Doshisha University.  Di Indonesia, orang-orang lebih mengenal Ritsumeikan University, Kyoto University, Tokyo University, dan lain-lain, dibanding Doshisha University.

Belakangan saya tahu, Doshisha University adalah perguruan tinggi “papan tengah” di Jepang menurut versi berbagai lembaga peringkat universitas.  Pada tahun 2009, menurut webomatrics, Doshisha berada di peringkat 50-an di Jepang.  Menurut peringkat THIES University Rank, Doshisha berada di posisi 40-an.

Tetapi Doshisha University adalah universitas dengan tradisi liberalisme dan internasionalisme yang kuat.  Sejarah universitas ini dimulai sejak tahun 1875, pada saat Joseph Hardy Nesheema mendirikan Doshisha masih sebatas lembaga pendidikan bahasa Inggris.  Pada masa itu, Jepang masih sangat kental dengan tradisi yang diwariskan turun-temurun.  Doshisha hadir sebagai bentuk perubahan besar dalam model belajar.

Tradisi panjang terhadap visi liberalisme dan internasionalisme inilah yang membuat Doshisha University dijadikan sebagai salah satu dari 13 universitas di Jepang yang masuk dalam program Global 30 yang diinisiasi pada tahun 2009.  Program ini merupakan proyek Kementerian Pendidikan Jepang yang menetapkan universitas inti untuk internasionalisasi (core universities for internationalization), dengan tujuan merekrut sebanyak mungkin mahasiswa-mahasiswa internasional untuk belajar di Jepang dan sebaliknya.

Kementerian Pendidikan Jepang merencanakan akan merekrut sekitar 300.000 mahasiswa asing untuk belajar di Jepang hingga 2020.  Ke-13 universitas yang ditetapkan sebagai universitas inti untuk tujuan tersebut adalah: Tohoku University, University of Tsukuba, The University of Tokyo, Nagoya University, Kyoto University, Osaka University, Kyushu University, Keio University, Sophia University, Meiji University, Waseda University, Doshisha University, and Ritsumeikan University.

Hal ini menunjukkan bahwa kampus yang saya pilih untuk memperoleh Ph.D adalah universitas yang diperhitungkan di Jepang.  Tentu saja proses seleksi itu dilakukan dengan mekanisme ala Jepang yang ketat.  Maka, tentu tidak salah jika saya boleh berbangga bisa melanjutkan studi di kampus ini.

Untuk memperoleh informasi tentang Doshisha, website kampus di alamat www.doshisha.ac.jp dapat diakses.