Archives March 2011

Hancurnya Layanan Telkomsel

Saya pengguna Kartu Halo. Biasanya memperoleh tagihan bulanan yang dialamatkan ke rumah. Namun dua bulan terakhir ini tagihan tidak saya terima.

Lalu pada awal Maret saya memperoleh informasi via sms mengenai jumlah tagihan saya bulan ini. Saya agak kaget, karena jumlah itu jauh dari harapan. Saya telah menghentikan penggunaan Blackberry Internet Service (BIS), dan beralih menggunakan flash. Dalam pemahaman awam saya, seharusnya BIS saya sudah tidak ditagih, dan flash belum ditagih.

Informasi tentang itu sebenarnya ada dalam lembar tagihan bulanan. Tapi karena tidak menerimanya, maka saya menghubungi nomor service center 111. Sebanyak 2 kali saya dijanjikan akan dikirim, namun hingga jatuh tempo tagihan, lembar itu tidak juga saya dapatkan.

Saya menghubungi lagi 111, untuk meminta saja informasi lisan mengenai garis besar tagihan saya (bukan rincian yang mendetail). Tetapi operatornya justru menyarankan untuk berkunjung ke GRAPARI Telkomsel terdekat. Saya katakan, pada jam kerja tidak hal itu tidak mungkin. Kata Operator, boleh datang pada hari Sabtu. Grapari buka pada jam 8.30 – 12.00, katanya.

Hari Senin, kartu saya akhirnya kena blokir menelpon (karena belum saya bayarkan tagihan bulan ini). Hari Selasa, diblokir dua arah (tidak bisa menelpon dan menerima telepon). Wow…

Karenan membutuhkan komunikasi voa nomor ini, saya melakukan pembayaran pada Rabu sore, sekitat pukul 15.00. Karena blokir tidak juga terbuka, saya menghubungi operator 116 via kartu Simpati istri saya.

Sejak pukul 17.00 saya menekan nomor 116 (nyaris tanpa henti). Baru tersambung pada pukul 19.00. Luar biasa, ini harusnya jadi record. Operator mengatakan belum bisa membantu buka blokir sekarang karena sistem sedang trouble. Saya disarankan untuk ke Grapari, atau menelepon lagi beberapa waktu ke depan.

Pada pukul 20.00 kembali saya menekan-nekan 116. Lagi-lagi luar biasa. Tersambung pada pukul 22.30. Saya sampai trauma dengan nomor 116 ini. Meskipun akhirnya blokir kartu saya berhasil dibuka, namun proses berjam-jam untuk menjangkau operator 116 itu sungguh tidak manusiawi.

Saya membayangkan nasib (entah ratusan ribu atau jutaan ya?) pengguna Simpati.

Lalu, pada hari Sabtu saya ke Grapari. Urusan tagihan yang membengkak itu belum selesai kan? Saya tiba pukul 11.30 di Grapari Makassar di Graha Pena. Meskipun pelayanan masih buka, tapi antrian baru tidak terima lagi. Katanya, antrian sudah panjang.

Saya memohon (dalam arti sebenarnya), kepada petugas security bernama Pak Syamsuddin, agar boleh antri. Rumah saya berjarak 12 km dari Grapari “terdekat” ini. Dan saya tidak bisa datang pada hari kerja.

Tetapi Pak Syamsuddin tidak bergeming. Katanya, aturannya memang begitu. Salut kepada beliau. Saya meminta kepadanya untuk bertemua dengan seseorang yang berwenang, apakah supervisor atau apa namanya, yang bertanggung jawab untuk urusan kantor hari ini. Saya yakin, pasti ada seseorang dengan kewenangan yang lebih dan bisa membanru saya.

Kata Pak Syamsuddin, tidak ada orang seperti itu hari ini. Pada Sabtu, hanya ada pegawai-pegawai customer service, yang tidak memiliki kewenangan apa-apa selain melayani konsumen.

Oh, saya jadi capek menuliskan ini… Lain kali saja disambungnya ah….

Ishaq Rahman (Sent from my Samsung GalaxyTab)

*disambung pada 29 Oktober 2011, 20*14 waktu Kyoto

Saya ingat waktu saya sempat bertanya kepada Pak Syamsuddin, apakah baru hari ini saja antrian pada Sabtu panjang?  Pak Syamsuddin bilang, tidak.  Setiap Sabtu, antrian pasti di tutup pukul 11.30, kadang-kadang pukul 11.00.

Nah, saya berpikir, betapa goblog-nya orang di Telkomsel yang mengatur penanda buka 08.30 – 12.00 ini.  Kejadiannya sudah berlangsung setiap Sabtu, dan tidak ada pikiran untuk mengubah penanda itu menjadi 08.30 – 11.00 (dan pelayanan tetap saja berakhir pada pukul 12.00 kan?).

Oh my gosh!

bekerja

Tangan-Nya Bekerja Dengan Cara Tidak Biasa

Ini pengalaman biasa. Tetapi, setelah berpikir-pikir, saya berani mengatakan ini bukan pengalaman biasa.  Setidaknya, saya menemukan refleksi dari kisah ini, kisah yang saya alami sendiri.

Hari itu, Kamis, 17 Maret 2011, saya tidak membawa kendaraan.  Seharian saya bersama Zidan, anak saya yang baru saja berulang tahun ke-6 dua hari sebelumnya, mengunjungi beberapa tempat menggunakan pete-pete (angkot).  Sekitar pukul 13.00 saya mengajar di kampus.  Lalu, sekitar pukul 15.00 saya menuju kantor Samsat di Jl. Mappanyukki, Makassar.

Dari Kantor Samsat, kami berdua menuju Kantor Astra menggunakan becak.  Saya pikir jaraknya tidak jauh.  Ketika pengayuh becak yang seorang anak muda kurus mengatakan tarifnya Rp. 10.000,- saya spontan menawar Rp. 5.000,-.  Ia menurunkan tarifnya menjadi Rp. 7.000,- dan saya tetap bertahan di Rp. 5.000,- itu.  Dia pasrah, setelah melihat ada beberapa becak saingan yang siap mengangkut saya dan Zidan.

Dalam perjalanan menuju Kantor Astra, baru saya sadari kalau jaraknya cukup jauh.  Bahkan, untuk mempersingkat jarak, pengayuh becak ini nekad memasuki jalan satu arah berlawanan alias menerobos tanda larangan.  Meskipun jengkel, saya sempat berpikir jangan-jangan ini gara-gara Rp. 2.000,- yang tidak rela saya bayarkan.  Zidan yang sudah dibiasakan dengan taat aturan sempat protes, kenapa becak ini memasuki tanda larangan.  Saya hanya diam.

Pada saat tiba di tujuan, saya merogoh saku dan menemukan dua lembar pecahan dua ribu, selembar pecahan seribu, dan selembar pecahan dua puluh ribu.  Saya membayar pengayuh becak ini dengan lembaran dua puluh ribu dan ia mengembalikan lima belas ribu rupiah.

Tiba-tiba saja, saya tergerak untuk menambahkan kepadanya dua ribu rupiah lagi.  Jadi, meskipun awalnya sepakat dengan tarif Rp. 5.000,- saya memberi Rp. 7.000,- kepada pengayuh becak ini.  Sungguh, ketika memberikan tambahan Rp. 2.000,- itu tidak sedikitpun perasaan jengkel atau terpaksa. Saya memberinya karena merasa jarak yang kami tempuh tadi tidak layak dengan tarif Rp. 5.000,-.

Jelas, pengayuh becak itu tampak sumringah. Ia tersenyum, mengucapkan terima kasih berkali-kali, setidaknya dua atau tiga kali, dan berlalu.

Setelah menyelesaikan urusan di Kantor Astra, saya dan Zidan singgah di Warung Kopi yang berjarak kira-kira 20 meter.  Saya memesan kopi susu, dan Zidan memesan Milo dingin.  Sambil menunggu pesanan, saya mencoba melihat berkeliling. Saya lalu menyadari tidak ada daftar harga makanan dan minuman di Warung Kopi ini.  Pada saat pesanan diantarkan, baru saya ingat kalau uang saya tinggal pecahan-pecahan yang ada di saku tadi.

Saya memang jarang sekali memegang uang cash.  Biasanya, uang cash itu saya taruh di laci kecil mobil untuk keperluan bayar tol atau parkir saja.

Jadi, untuk memastikan bahwa harga minuman cukup dengan uang di saku (yang tinggal Rp. 18.000,-), saya menuju kasir dan bermaksud membayar.  Kata kasir, “Semuanya Rp. 20.000,- pak…”

Tentu saya kembali duduk dan minum kopi sambil berpikir apa yang harus saya lakukan untuk mengatasi kekurangan uang Rp. 2.000,- dalam waktu singkat. Jam sudah menunjuk pukul 16.45.  Di dinding ada tulisan: “Buka 06.30, Tutup 17.00”.  Lima belas menit lagi.

Saya bertanya kepada Zidan, apa di tas ranselnya dia membawa dompet?  Zidan mempunyai dompet Ben 10, tempat dia selalu menaruh uang yang diberi Mami-nya untuk “gaji” membantu pekerjaan di rumah (ini sikap yang kami biasakan agar Zidan “hanya menerima uang karena bekerja”).  Kata Zidan, dompet itu dia simpan di rumah.

Saya menelepon adik laki-laki saya, berharap dia ada di sekitar sini.  Tapi telepon tidak dijawab.  Setelah berulang kali menelepon, adik perempuan saya menjawabnya.  Katanya, adik laki-laki saya itu sedang demam di rumah adik perempuan saya.  Jaraknya jauh, sekitar sejam perjalanan jika tidak macet.

Saya panik dan mulai berkeringat.  Dalam bayangan saya, pastilah akan menjadi bahan tertawaan orang-orang seisi Warung Kopi, jika saya yang bertelepon menggunakan Galaxy Tab tidak memiliki uang Rp. 2.000,- di tangan.  Saya mengingat-ingat lokasi mesin ATM.  Ah, disekitar sini tidak ada.  Saya lalu mulai menimbang-nimbang, apakah KTP atau HP yang akan saya “titip” sambil saya menuju ke ATM bersama Zidan dan kembali lagi untuk membayar.  Tentu itu akan memalukan.

Di tengah kebingungan, tiba-tiba satu SMS masuk.  Seorang sahabat bertanya saya ada dimana.  Waktu saya menjawab sedang di Warung Kopi ini (tanpa menceritakan situasi yang sedang saya hadapi), dia lalu membalas lagi: “Okey, tunggu ya, saya menuju kesitu…”

Amazing!  Saya sama sekali tidak merencanakan bertemu kawan ini, dan juga tidak ada urusan yang membuat kami harus bertemu sekarang.  Sekitar 10 menit kemudian, kawan ini, AMY Kurniawan (saya memanggilnya Ka Wawan) datang.  Saya menceritakan “keajaiban” pertemuan kami sore ini.  Lebih ajaib lagi, karena tidak ada hal serius apapun yang disampaikan Ka Wawan kepada saya.  Dia benar-benar hanya datang, berbasa-basi, ikut-ikutan memesan minuman (itupun dia sempat berpikir akan memesan atau tidak), membayar semua minuman, dan kami berpisah.  Tidak sampai 15 menit.

Saya dan Zidan lalu menuju ATM dan kami menggunakan taksi ke tujuan berikutnya.  Dalam perjalanan, saya sungguh merenungkan peristiwa ini.

Seandainya tadi saya tidak memberi uang “tambahan” kepada pengayuh becak sebesar Rp. 2.000,- pastilah uang saya cukup untuk membayar minuman saya dan Zidan.

Peristiwa kecil hari ini sungguh bermakna dalam buat saya…

Entah benar atau tidak, tetapi saya percaya bahwa ada semacam dorongan yang menggerakkan Ka Wawan untuk menemui saya.  Mungkin saja, uang Rp. 2.000,- yang saya relakan kepada pengayuh becak tadi telah membuatnya bahagia.  Dan kebahagiannya itu menjadi do’a perlindungan untuk saya, menembus langit, dan menggerakkan tangan Tuhan.  Mungkin saja…

Saya ingat dalam Islam (entah itu ayat Allah atau Hadist nabi) ada ajaran yang mengatakan bahwa “do’a orang-orang yang lemah dan tertindas itu menembus langit”.  Juga ada ajaran “sering-seringlah meminta dido’akan oleh orang lain, sebab kita tidak tahu dari mulut siapa do’a untuk kita akan dikabulkan”.

Kejadian kecil di Warung Kopi Lagaligo sore itu terlalu sederhana untuk sebuah kebetulan.  Saya percaya, ada tangan yang bekerja dengan cara yang tidak akan pernah bisa kita pahami dengan logika biasa…(*)

 

Hilangnya “Masyarakat” Kami: Kisah Angkot

Hari ini saya menggunakan petepete (angkutan kota khas Makassar) ke kampus. Sudah lama juga. Terakhir saya menggunakan petepete sekitar setahun lalu. Tetapi waktu karena mobil saya sedang bermasalah. Namun hari ini saya menggunakan petepete karena niat. Rindu juga merasakan suasana "apa adanya" di petepete.

Pada saat naik, ada 6 orang penumpang. Saya adalah penumpang ke-7. Di sisi saya duduk, ada tiga orang yang sibuk dengan gadget mereka. Seorang sibuk sms-an, seorang sibuk blackberryan, dan seorang lagi nampaknya sibuk dengan handphone android-nya. Saya tidak yakin apakah dia facebook-an atau twitter-an. Yang pasti, mereka bertiga "tidak ada" di petepete itu. Sungguh. Hanya jasad mereka saja yang ada disitu, tetapi jiwa mereka sedang berada di tempat lain, di dunia yang mereka sendiri juga tidak tahu dunia apa itu.

Lalu di deretan kursi depan saya, ada dua penumpang. Seorang ibu yang nampak sangat gelisah karena petepete ini terlalu lambat berjalan dan terlalu sering berhenti berniat mengambil penumpang. Ia sempat protes kepada Pak Supir "Aduh, lambatnya petepete ta pak. Jangan terlalu sering berhenti kodong…"

Tapi Pak Supir menjawab santai tapi ketus: "Kalau mau ki cepat pake taksi bu…". Saya percaya, ini jawaban standar yang memang sudah dipersiapkan, persis seperti jawaban standar para Customer Service di bank-bank, perusahaan selular, dan lain-lain.

Sosok yang menarik perhatian saya adalah seorang wanita yang duduk di depan saya. Ketika tiga orang di sisi kanan saya sibuk dengan gadgetnya, sibuk dengan dunia lain yang entah dimana, wanita di depan saya ini malah sibuk membaca. Saya (dengan kurang sopan) melirik apa yang dia baca. Wow, tulisan Arab. Mungkin kumpulan do’a, atau mungkin panduan ibadah.

Lalu saya memperhatikan orang-orang ini bergantian. Hei, kita berada di tempat yang sama, pada suatu ruang berukuran tidak lebih dari 2 meter x 1,5 meter. Tetapi tidak ada interaksi apapun.diantara orang-orang ini. Masing-masing sibuk "bersosialisasi" dengan orang-orang nyata yang sekarang ini sedang maya.

Saya jadi teringat pada kebiasaan naik petepete beberapa tahun lalu. Orang-orang masih saling menyapa, saling tukar cerita ringan, meskipun tidak saling mengenal. Bahkan, tidak jarang ada informasi baru (tepatnya gosip baru) yang kita dengar. Ketika itu, petepete adalah ruang bagi masyarakat. Setidaknya, ada masyarakat yang hadir disitu.

Iseng-iseng, saya bertanya kepada penumpang di sebelah kanan saya, "Mau ka tanya, berapa mi sekarang bayarnya petepete dari Sudiang ke Tamalanrea?". Dia tidak dengar (atau mendengar tapi tidak peduli), sebab dia tidak ada disini. Tetapi, penumpang perempuan yang duduk di depan saya dan sedang membaca buku itu justru menjawab: "tiga ribu mi sekarang, pak,". Lalu dia lanjut bertanya, "baru ki naik petepete?". Oh, dia adalah "orang", bagian dari masyarakat yang nyata.

Hari ini saya tiba-tiba teringat dengan banyak sekali peristiwa hilangnya "masyarakat" kita. Orang-orang nampak bersama-sama, tetapi mereka tidak bersama-sama. Masing-masing sibuk dengan dunia lain entah dimana.

Saya jadi teringat lagi dengan kesedihan istri saya beberapa waktu lalu. Ketika itu, saat antri menunggu giliran diperiksa di dokter gigi, saya mengutak-atik blackberry. Istri saya nampak sangat sedih. Dia bilang, "beberapa waktu lalu, saya dan Zidan makan di Bakso Senayan. Lalu masuk satu keluarga, seorang ayah, ibu, dan dua anaknya berusia awal belasan. Begitu duduk, si ayah, dan kedua anak lalu spontan sibuk dengan blackberry mereka. Tinggalah si ibu sendirian, bingung mau bikin apa…"

Sejak itu, saya memutuskan mengubah gaya menggunakan gadget saya. Bahkan, saya memutuskan berhenti menggunakan blackberry. Saya tidak anti kemajuan, saya tidak anti teknologi. Bahkan, saya adalah penggila gadget. Tetapi, secara pribadi, saya belum siap menjadi pengguna cerdas. Saya masih cenderung "shock culture", menggunakan perangkat-perangkat itu tanpa rasionalitas.

Hari ini saya menyadari, masyarakat kita mulai hilang. Yang tinggal hanyalah jasad-jasad saja, berkumpul dan berkerumun. Tetapi tidak ada lagi jiwa disitu. Bukankah jiwa adalah esensi manusia dan manusia adalah esensi masyarakat? Jika manusia tidak lagi menyertakan jiwa dalam kehidupan bermasyarakatnya, maka masyarakat kita telah hilang. Itulah yang kita hadapi…

Sent from Google Mail…