Archives February 2011

Jalan Tidak Ramah

Beberapa bagian jalan di Makassar sedang diperbaiki. Ini adalah jalan menuju rumah Wakil Ketua DPRD Kota Makassar, Haidar Majid, di daerah Paccerakkang, Daya.

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Setelah Mesir, Apakah Bahrain atau Libya?

Suhu politik di Timur Tengah memanas.  Setelah mundurnya Husni Mubarak di Mesir, spirit gerakan pro demokrasi menjalar ke banyak negara di sekitarnya.  Tercatat, dalam beberapa hari terakhir gerakan massa yang telah berkembang menjadi bentrokan berdarah terjadi di beberapa negara.  Saat ini mata dunia sedang tertuju ke dua negara, Bahrain dan Libya.

Ada karakter yang unik di kedua negara ini.  Bahrain adalah negara monarkhi absolut, dengan kepala pemerintahan seorang Perdana Menteri.  Saat ini dijabat oleh Khalifa Ibnu Salman Al Khalifa.  Ia memimpin kabinet beranggotakan 25 orang, yang sekitar 80% anggotanya adalah keluarga kerajaan.  Negara ini menganut sistem parlemen bikameral.  Pemilihan legislatif pertama diadakan pada 2006.

Perimbangan politik domestik diwarnai oleh perseteruan Syiah dan Sunni.  Meskipun demikian, syariat Islam sangat ketat diberlakukan.  Bahkan, dalam kehidupan sehari-hari, ada larangan untuk memajang manekin (patung boneka pajangan) yang memasang pakaian dalam wanita.  Begitu juga, pakaian dalam di larang untuk dijemur di tempat terbuka.

Sementara Libya adalah negara berbentuk Republik, yang dipimpin oleh Presiden.  Urusan pemerintahan berada di tangan Perdana Menteri.  Jabatan kepala negara telah dipegang oleh Moammar Khadafi, yang memimpin revolusi sejak 1969.  Selama lebih 40 tahun, posisi Khaddafi tidak tergantikan sebagai pemimpin.

Pemerintahan Libya memiliki dua jalur, yaitu Pemerintahan Revolusioner yang sepenuhnya dipimpin oleh Khaddafi, dan Pemerintahan Republik yang memiliki struktur formal dari tingkat lokal hingga nasional.  Dominasi Pemerintahan Revolusioner dianggap sebagai penghambat utama demokratisasi di negara ini.

Saat ini, sesaat setelah jatuhnya rejim Mubarak yang berkuasa 23 tahun di Mesir, rakyat turun ke jalan-jalan di Bahrain dan Libya dengan satu tuntutan: perubahan rejim dan demokratisasi.  Sampai hari ini (18/2/2011), bentrokan antara aparat keamanan dan demonstran telah memakan korban tewas 5 orang di Bahrain dan 7 orang di Libya.

Nampaknya, situasi di Bahrain didorong oleh ancaman pengunduran diri 17 anggota parlemen yang berasal dari kelompok Syiah, dari 40 anggota oposisi parlemen Bahrain.  Kelompok yang dipimpin oleh Ibrahim Mattar ini menunjukkan gelagat akan bergabung dengan massa pengunjuk rasa.

Sementara di Libya, tuntutan demonstran yang disponsori oleh kelas menengah nampaknya akan menghadapi perlawanan keras dari rejim Khadafi yang telah berkuasa sejak 1969.  Apalagi, kaum pro demokrasi memiliki “jalur moderat” dalam merespon tuntutan mereka, yaitu meminta adanya konstitusi bagi negara itu.

Kita menunggu, domino manakah yang akan lebih dahulu jatuh diantara keduanya.***

Gerombolan Iron Maiden dan Memori Heavy Metal Saya…

Hari ini saya membaca berita di koran-koran, Iron Maiden baru saja menyelesaikan konser The Final Frontier World Tour 2011 di Jakarta. Lebih 25 ribu troopers (sebutan untuk para fans Iron Maiden) memenuhi Panggung Karnaval Ancol, Jakarta.  Wow, kalau saja punya banyak duit saya akan usahakan bisa hadir di konser ini. Tapi, itu hanya “kalau”…

Iron Maiden adalah salah satu icon jaman saya masih muda, terutama saat-saat SMU dan ketika kuliah.  Model font pada lambang Iron Maiden sangat populer ketika itu. Saya saja mempunyai 6 lembar baju kaos oblong dengan motif Iron Maiden di bagian depan. Tentu saja warnanya harus hitam…:)

Mereka, para personil Iron Maiden, tentu sudah berusia lanjut sekarang ini.  Pada saat didirikan tahun 1975, mereka adalah anak-anak muda dijamannya.  Steve Harris, sang basis yang menjadi pendiri dan anggota paling lama bertahan, ketika mendirikan Iron Maiden baru berusia 21 tahun.  Jadi, sekarang ini dia tentu sudah berusia 55 tahun.

Konon, logo dan atribut font Iron Maiden (dan juga namanya sendiri), diinspirasi dari film The Man in The Iron Mask yang diadopsi dari novel Alexander Dumas.  Tentu saja, Harris memperoleh inspirasi ini dari film edisi perdana yang dibintangi oleh Richard Chamberlain, bukan edisi re-make yang dibintangi oleh Leonardo di Caprio.

Pada dekade 1980-an adan awal 1990-an, Iron Maiden adalah simbol bagi banyak anak muda.  Mungkin karena orang-orang dibatasi untuk urusi politik seperti sekarang, sehingga musik-musik aliran Heavy Metal sangat populer.  Sepertinya, dengan mendengar atau menyanyikan lagu-lagu jenis ini, ada perasaan kemarahan yang tersalurkan.

Maka, Iron Maiden dan band-band seangkatannya begitu dikenang.  Pada masa-masa awal aliran ini, ada Led Zeppelin, Black Sabbath, Deep Purple (nah ini band favorit saya). Lalu pada dekade 1970-an itu lahir Judas Priest (yang dipengaruhi blues), Iron Maiden (yang disebut the New Wave in Heavy Metal), dan Motor Head (yang memperkenalkan aliran punk rock).

Di era 1980-an, lahir Motley Crue (dengan gaya heavy metal) dan Metallica (dengan aliran trash metal-nya).  Tidak ketinggalan band-band underground atau yang populer dengan subculture, seperti Sepultura, Alice Cooper, Kiss, juga Def Leppard.

Wah, ternyata daftar ini masih bisa lebih panjang lagi.  Saya perlu menggali lebih banyak memory untuk mengumpulkan lagi bacaan di majalah Hai dekade 1980-an akhir itu.***

 

Sukhoi Olah Raga Pagi, Biar Sehat

Pagi-pagi, sejak pukul 06.30 WITA, langit dibatas Sudiang bergemuruh. Pesawat jet Sukhoi sedang bermanuver cukup rendah. Wilayah Sudiang memang terletak hanya beberapa kilometer dari Pangkalan Angkatan Udara Hasanuddin Makassar.

Jadi, suara gemuruh kiriman jet-jet tempur ink bukan lagi hal aneh. Sepengetahuan saya, di Pangkalan ini terdapat juga F-14. Tapi Sukhoi ini tampangnya lebih sangar.

Beberapa kali saya melihat manuver Cobra diperagakan. Ini manuver paling membuat was-was. Pesawat ini terbang hampir tegak lurus ke atas, lalu dia akan tiba-tiba berbalik menukik seolah kehilangan tenaga. Lalu, benerapa puluh meter sebelum mencapai tanah, ia akan kembali terbang ke angkasa.

Cantik sekali. Dan terus terang mengagumkan kemampuan pilotnya. Saya sama sekali tidak masalah. Justru bagus kan, Sukhoi ini olah raga pagi. Jadi ia akan selalu sehat.

Persoalannya hanya disuara bising itu. Ini jadi masalah, sebab hari ini saya niat bangun jam 11, gara-gara semalam begadang. Tetapi suara bising Sukhoi tidak memungkinkan untuk tidur lama-lama.

Saya sempat jengkel. Belakangan saya senang juga. Di negara ini, saya yakin sedikit sekali orang-orang yang dibangunkan oleh Sukhoi, sebuah pesawat tempur canggih seharga US$ 35 juta (kira-kira 300 milyar rupiah).

Oh ya, ini pesawat Sukhoi Su-27 yang diberi nama kode oleh NATO sebagai Flanker. Saya tahu hal ini karena pada saat dibeli sempat menjadi berita besar. Seorang teknisi asal Rusia yang bertugas merakit equipment pesawat ini tewas di Makassar. Konon, gara-gara menenggak minuman keras oplosan. Waddow…!

Powered by Telkomsel BlackBerry®