Archives November 2010

Di Bandara Hasanuddin, Sampah Adalah Asesoris

Semalam saya mendarat di Bandara Hasanuddin. Seperti biasa, selalu saja ada hal-hal yang menarik untuk dikomentari dari bandara internasional ini.

Beberapa waktu lalu, trolly adalah isu. Selain tidak disediakan pada tempatnya, juga trolly yang ada sudah tua dan tidak nyaman lagi digunakan. Rodanya banyak yang macet. Tapi semalam itu sudah beres. Trolly baru, dan tersedia ditempatnya.

Tetapi ada lagi hal baru. Persis di tengah kerumunan bagian penjemputan (di basemen bandara) ada tempat sampah yang isinya sudah meluap-luap. Sampah itu terbiar begitu saja. Meskipun tidak ada aroma menyengat, tapi yang namanya sampah pastilah sangat mengganggu pemandangan.

Heran, apa tidak ada petugas kebersihan disini? Bagaimana mau menuju Kota Dunia kalau cara penanganan segala hal yang berkaitan dengan layanan publik begitu amburadul…

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Pilkada Toraja Utara: Dapatkah Menjadi Contoh?

Hari Sabtu, 13 Nopember 2010, sekitar pukul 17.30 Wita, saya mendapat telepon dari Ibu Rio Rita Pakan, anggota KPUD Toraja Utara.  Beberapa hari sebelumnya, yaitu 9 Nopember 2011, saya bersama Ibu Rita dan Pak Aloysius Lande (juga anggota KPUD Toraja Utara) menggelar dialog interaktif menuju Pemilukada Damai di Toraja Utara.  Acara yang diselenggarakan oleh LeDO Makassar ini bermaksud mengkampanyekan pemilukada damai bagi seluruh masyarakat, disiarkan langsung melalui Radio Salideo FM 104,7 MHz.

Read More

Rumah Makan Ulu Juku: Tempat Eksklusif Yang Tersembunyi

Makassar dikenal sebagai surga kuliner. Berbagai pilihan makanan tersedia di kota ini. Salah satunya adalah Sop Kepala Ikan atau yang populer disebut “Ulu Juku”.

Nah, di Jalan Racing Center Makassar terdapat suatu tempat makan eksklusif yang masih jarang diketahui. Tempat makan ini bernama “Rumah Makan Ulu Juku”. Dari namanya tampak bahwa menu utama yang ditawarkan adalah Ulu Juku alias kepala ikan.

Read More

Semarak Kampanye Pilkada Di Toraja Utara

Menjelang pelaksanaan Pemilukada pertama di Kabupaten Toraja Utara, suasana nampak semarak dan meriah. Saat ini memang sedang masa kampanye, yang akan berlangsung hingga hari Sabtu, 6 Nopember 2010 besok.

Hingga minggu terakhir, suasana masih tampak terkendali. Masing-masing kandidat cukup tertib dalam mengerahkan massa pendukung, hingga tidak tampak adanya gejala-gejala kisruh atau kekerasan.

Gambar ini saya ambil pada hari Jum’at, 5 Nop. 2010, sekitar pukul 13.30 di Pusat Kota Rantepao. Ini adalah konvoi tim pendukung salah satu kandidat yang nampak tertib, meskipun mereka dapat tetap menunjukkan dukungannya.

Di beberapa titik kota Rantepao, belasan spanduk kampanye Pemilukada Damai yang dipasang oleh teman-teman LeDO sejak tanggal 21 Oktober masih terpasang rapi. Juga ratusan poster masih berada ditempatnya.

Pada hari Senin nanti teman-teman LeDO akan mengadakan dialog pemilukada damai dengan berbagai komponen yang ada di Rantepao.***

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Merokok Itu benar-benar berbahasa atau tidak

Baiklah, merokok bukan hal yang baik. Tetapi, saya memiliki pandangan yang pluralistik tentang segala tindakan manusia. Bagi saya, segala hal di dunia adalah tidak baik, jika dikerjakan berlebihan. Bahkan makan buah dan olah raga sekalipun (yang selalu dianjurkan dalam tips hidup sehat) bukanlah hal yang baik jika dilakukan berlebihan.

Meskipun tahu bahayanya, saya tetap saja merokok. Bagi saya, merokok yang berbahaya itu adalah yang berlebihan. Saya percaya pada pandangan yang mengatakan bahwa perilaku manusia itu merupakan respon terhadap dunia tempatnya hidup. Mekanisme inilah yang membentuk seleksi alam.

Lalu, mengapa hari ini kita dijejali kampanye bahaya rokok, padahal praktek merokok sudah ada sejak ribuan tahun lalu? Bukankah rokok itu juga telah menjadi tradisi pada banyak kebudayaan dan komunitas? Jika memang merokok begitu mengerikannya seperti kampanye anti rokok itu, lalu mengapa merokok dapat tumbuh dalam banyak kebudayaan?

Kecurigaan terhadap maksud jahat yang terselubung dibalik “kampanye anti rokok” seolah memperoleh energi setelah membaca buku “Nicotine War: Perang Nikotin dan Para Pedagang Obat” karya Wanda Hamilton (Insist Press, 2010).  Ini perlu diulas tersendiri pada posting lain.

Saya merokok sejak tamat SMA, sekitar tahun 1991. Awalnya adalah perokok sambil lalu. Pada 1993, saya mulai kecanduan, dimana merokok seolah menjadi kebutuhan. Tetapi, sebagai orang berpendidikan (yang salah satu cirinya adalah taat aturan, paham etika, dan menghormati lingkungan), saya sangat menjaga kebiasaan dan perilaku merokok.

Saya tidak pernah merokok di angkutan umum (pete-pete), dan kadang-kadang saya ikut menegur kalau ada orang ugal-ugalan yang merokok di angkutan umum. Di ruang tertutup saya juga menghindari merokok, kecuali hanya ada saya seorang sendiri. Ketika sedang merokok di cafe yang “smoking area” tetapi ada orang disekitar saya yang mengibaskan tangan untuk menghalau asap rokok dihadapannya, saya paling sering memilih untuk mematikan rokok saya (padahal saya bisa saja tidak peduli, karenan ia berada di area merokok, kan?).

Sejak tahun 1993, saya mengisap rokok putih bermerk ARDATH. Rokok putih itu istilah untuk rokok tanpa kretek, ya, bukan karena warnanya yang putih. Waktu itu harganya masih Rp. 350,- per bungkus yang berisi 20 batang. Tahun 1998, harganya naik jadi Rp. 750,- dan terus naik secara teratur. Terakhir, mulai tahun 2005, harganya menjadi Rp. 8.500,- per bungkus.

Pada pertengahan 2003, rokok bermerk ARDATH mulai langka di pasaran. Kalau sebelumnya saya bisa membelinya dengan mudah di pedagang asongan atau kios-kios kecil di pinggir jalan, masa ini mulai sulit. Menurut para penjual, rokok ini kurang laku. Ya, logika pasar sih, supply and demand. Jadi para pedagang eceran itu itu menjual merk-merk rokok yang paling laku.

Kelangkaan rokok bermerk ARDATH ini makin terasa pada 2007. Di sekitar kampus Unhas, hanya ada 1 kios depan Jl. Bung yang menjualnya. Di sekitar tempat tinggal saya, ada 2 toko, dan hanya itu saja. Kalau saya berada di kios yang baru saya kunjungi dan menanyakan rokok itu, banyak penjual yang bahkan tidak tahu kalau ada rokok dengan merk seperti itu.

Akibatnya, saya selalu membeli dalam jumlah banyak, terutama kalau hendak ke luar negeri. Kadang-kadang 10 bungkus sekaligus, jumlah yang masih ditoleransi oleh pabean di banyak negara. Lama-lama saya sadar, mengoleksi rokok dalam jumlah besar itu mempengaruhi juga kebiasaan merokok kita. Kita jadi tidak sadar merokok berlebihan.

Nah, tiga hari lalu (2 Nov. 2010), satu dari dua toko dekat rumah saya tidak lagi menjual rokok merk ARDATH. Lalu, kemarin (4 Nov. 2010) toko yang satunya juga tidak lagi menjualnya. Saya akan berangkat ke Toraja, jadi saya bermaksud membeli beberapa bungkus. Kata penjualnya, tidak ada lagi suply dari distributor. Stok mereka habis sama sekali.

Saya yakin, kelangkaan ARDATH akan segera terjadi. Mungkin pabriknya masih akan berproduksi, tapi dalam jumlah sangat terbatas, untuk memenuhi kebutuhan konsumen fanatiknya (saya termasuk lho…). Tapi, yang paling mungkin lagi adalah produksi rokok merk ARDATH akan segera berakhir atau tidak diproduksi lagi (istilahnya: discontinued).

Saya memegang bungkus terakhir rokok ARDATH milik saya, sisa pembelian minggu lalu. Saya jadi membayangkan, jika saja bungkus rokok ini adalah sepucuk pistol Magnum 45, maka saya adalah John Smith, tokoh yang diperankan Bruce Willis dalam film “the Last Man Standing” (Walter Hill, 1996).

Ya, saya merasa sebagai satu-satunya perokok ARDATH yang masih tersisa… Tiba-tiba, bungkus terakhir rokok bermerk ARDATH ditangan saya ini menjadi begitu berarti.***

Powered by Telkomsel BlackBerry®