Archives October 2010

Bandara Internasional Hasanuddin: Ruang Tunggu Tanpa Tempat Duduk

Benda yang paling dibutuhkan di ruang tunggu, dimana saja, adalah tempat duduk. Apalagi pada tempat-tempat dimana banyak orang menunggu untuk waktu lama, kebanyakan orang akan mencari tempat duduk.

Akan tetapi, di terminal kedatangan Bandara Internasional Hasanuddin, Makassar, begitu sulit menemukan tempat duduk. Hanya ada dua atau tiga bangku panjang yang maksimal menampung 15 orang. Padahal, jumlah kedatangan begitu tinggi. Para penjemput begitu membludak pada jam-jam tertentu.

Seperti gambar yang terlihat pada Sabtu siang, 23 Oktober 2010, sekitar pukul 13.00 ini. Penumpang harus rela berdiri, bahkan ada yang sampai 1 jam saat menunggu tamu atau keluarganya di terminal kedatangan ini. Konon, kata beberapa supir taksi gelap di sekitar sini, tidak jarang para penjemput itu duduk di lantai karena lelah menunggu, sementara tempat duduk yang sangat-sangat terbatas itu terisi semua.

Heran… Ini kan kota yang sedang berbenah menjadi Kota Global? Apa pak Walikota lupa, kalau Bandara itu gerbang kota untuk perjalanan udara?***

Powered by Telkomsel BlackBerry®

IMG00156-20101023-1300

Jalur Enrekang – Toraja

Saya kembali melakukan perjalanan ke Toraja, tepatnya Rantepao, yang sekarang menjadi wilayah Kabupaten Toraja Utara. Sejak tahun 2007, Kabupaten Toraja terbagi 2. Wilayah induk beribukota di Makale, dan wilayah pemekaran beribukota di Rantepao.

Masih seperti dulu, perjalanan ke Toraja sangat melelahkan. Jika beberapa tahun lalu Makassar-Toraja bisa ditempuh sekitar 7 jam, sekarang ini membutuhkan sekitar 9 jam. Perbaikan jalan di jalur Pangkep-Parepare yang telah 2 tahun belum rampung-rampung sangat menghambat akses ke wilayah Sulawesi Selatan bagian Utara, termasuk ke Toraja. Meskipun konstruksi jalan beton ini telah rampung sekitar 70%, namun (seperti biasa) kita tidak memperkirakan berapa lama lagi proses ini selesai.

Read More

Jangan Remehkan Migrain

Selama bertahun-tahun saya mengalami masalah serius dengan migrain. Saya yakin, banyak orang yang pernah menderita sakit kepala sebelah ini, tetapi saya tidak yakin se-kronis yang saya alami.

Awalnya, migrain ini saya alami sekali-kali saja. Biasanya saya beralasan, “ah, ini mungkin kelelahan”. Biasanya, migrain memang menyerang saat-saat lelah, atau saat-saat makan tidak teratur. Jadi, saya mengkonsumsi obat-obat paten yang dijual bebas untuk menyembuhkan rasa sakit karena migrain.

Read More

Taksi dan Supir Yang Senang Berbicara

Pukul 03.00 WIB saya harus menuju bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, untuk mengejar flight pukul 05.30 WIB.  Jika saja ini adalah siang hari, saya pasti tidak mau berjudi dengan berangkat 2 jam sebelum waktu keberangkatan.  Tetapi ini adalah dini hari, waktu dimana jalan-jalan raya Jakarta sangat bersahabat.  Shutlle Bus yang dioperasikan Perum Damri baru beroperasi pukul 04.00 WIB.  Jadi, pilihan paling aman (meskipun lebih mahal) adalah menggunakan taksi.

Di Jakarta, memilih angkutan umum tipe itu ada trik-nya.  Ini berkaitan dengan tarif ganda yang saat ini berlaku.  Taksi yang dikelola oleh Blue Bird Grup memberlakukan tarif “normal”, dimana sekali buka pintu penumpang telah dikenakan biaya Rp. 6.000,-.  Sementara kebanyakan taksi lainnya memberlakukan “tarif bawah”, yang sekali buka pintu tarifnya Rp. 5.000,-.  Perbedaan juga akan terasa pada unit pembayaran tarif, yang selisihnya cukup jauh.

Kebiasaan yang sering saya lakukan saat naik taksi dimana saja adalah mengajak supir ngobrol.  Mungkin sekedar chit-chat, atau mungkin juga kita bisa terlibat pembicaraan menarik.  Selain saya ingin menunjukkan penghargaan kepada supir, mengajak supir bercerita sebenarnya memiliki manfaat lain, terutama kalau kita berkendara pada dini hari di jalan tol.  Ngobrol dengan supir dapat membantu supir untuk tidak terjebak mengantuk yang tentu saja berbahaya.  Apalagi kalau kita akan menempuh jarak seperti yang akan saya lalui ini, sekitar 45 menit menuju bandara.

Dari pengalaman saya selama ini, bahan pembicaraan dengan supir taksi itu bisa macam-macam.  Tetapi, para supir akan senang dan bercerita dengan antusias ketika kita bertanya tentang hal-hal pribadinya.  Mungkin dengan pertanyaan: “asalnya darimana Pak?”, atau mungkin “sudah berapa lama jadi supir taksi, pak?”, atau juga “bagaimana rasanya jadi supir taksi di Jakarta, pak?”.

Dengan pertanyaan itu, kita kemudian tinggal mendengarkan saja, sambil sesekali menyela dengan “oh, begitu, ya?”, atau “wah, hebat juga Bapak, ya?”, atau mungkin “lalu?”, dan seterusnya.  Saya jadinya paham, kecenderungan untuk mengaktualisasikan diri, ingin di dengar, ingin dianggap ada, adalah kecenderungan umum yang ada pada setiap orang.  Bukankah kecenderungan manusiawi seperti itulah yang membuat situs-situs jejaring sosial menjadi populer? (LOL)

Tahukah kita, dengan mengajak ngobrol supir-supir taksi, kita sebenarnya memperoleh informasi tangan pertama tentang realitas kebanyakan orang?  Kita bisa memperoleh banyak sekali pengalaman sesungguhnya yang kadang-kadang jauh dari bayangan kita.  Saya menemukan banyak kisah hidup dan pengalaman kemanusiaan dari 30-45 menit waktu perjalanan bersama supir taksi.

(Beberapa pengalaman supir taksi ini akan saya bagikan di posting-posting berikutnya).***

Cengkareng, 05.13/menunggu boarding…

Mau Beli Tiket Pesawat? Online Saja…

 

Beberapa Maskapai Yang Menawarkan Tiket Online

 

Apa yang kita lakukan kalau hendak membeli tiket pesawat?  Sebagian besar orang saya kira akan menjawab “menghubungi travel agent terdekat atau langganan”.  Yup, itu cara yang lumrah, dan paling sering dilakukan.  Cara lain adalah menghubungi sales center atau ticketing maskapai penerbangan.  Kedua cara ini cara kerjanya hampir sama: konsumen meminta kepada orang lain untuk dicarikan jadwal penerbangan dengan harga yang sesuai.

Read More